Sibuk dengan Dunia Agar Kaya
Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahulloh mengatakan,
"Bersemangatlah untuk membersihkan kalbu dari ketergantungan terhadap dunia kecuali apa yang bermanfaat bagimu di akhirat nanti.
(Jangan) seperti keadaan orang yang bergantung kepada dunia agar dia menjadi orang yang kaya."
Ibnu Utsaimin tafsir Al Quran 4/374
Pernahkah anda kecewa Sobat...?
Tentunya semua kita pernah merasakan kecewa...
Karena dunia ini sejatinya tempat terkumpul nya segala kekecewaan bila kita berharap padanya...
Rasa sakit dan pahit yang disebabkan oleh kecewa sering lama sembuh nya...
Bisa berhari, berpekan, berbulan bahkan bertahun lamanya...
Kecewa bisa dihindari...
Kecewa bisa dijauhi...
Kecewa bisa dihilangkan...
Kecewa juga bisa dilenyapkan...
Dengan tidak berharap kepada sesuatu selain pada Allâh...
Karena hanya berharap pada Allâh lah hati jadi tenang...
Karena hanya bergantung pada Allâh lah yang tiada penyesalan...
Karena hanya Allâh lah yang tidak akan pernah mengecewakan...
"Aku sudah pernah merasakan semua kepahitan dalam hidup. Dan yang paling pahit ialah berharap pada manusia."
(Ali bin Abi Thalib)
Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:
إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللهَ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِالله
“Jika engkau meminta, mintalah kepada Allah; jika engkau
memohon pertolongan, mohonlah kepada Allah.” (HR. Tirmidzi,
hasan sahih)
Harta itu hanya hak pakai, Bukan hak milik selamanya.
🍃Sebab sewaktu-waktu bisa hilang, rusak atau terkena musibah.
🍃Maka tak ada yang patut kita banggakan apa lagi kita sombongkan, Karna hakikatnya semua hanya sebuah titipan.
🍃Dan karena sebuah titipan maka sudah sepatutnya kita tidak mencintainya secara berlebihan, dan kita harus menyadari bahwa suatu saat kita juga harus mengembalikannya dan kita harus mempertanggung jawabkan dihadapan Allah ﷻ
👤Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu mengatakan:
مَا أَحَدٌ أَصْبَحَ فِي الدُّنْيَا إِلَّا وَهُوَ ضَيْفٌ وَمَالُهُ عَارِيَةٌ. فَالضَّيْفُ مُرْتَحِلٌ وَالْعَارِيَةُ مَرْدُوْدَةٌ
"Semua orang di dunia ini adalah tamu, Sedangkan harta seluruhnya adalah titipan. Semua tamu pasti pergi sedangkan barang titipan itu harus dikembalikan kepada pemilik.”
(Az-Zuhd karya Imam Ahmad no 906
✍ Habibie Quotes, 17/03/22
KETERASINGAN YANG INDAH
🎙️ Rasulullah ﷺ bersabda,
بَدَأَ الإِسْلاَمُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاء
“Islam bermula dalam keadaan terasing, dan akan kembali terasing sebagaimana ia bermula, maka beruntunglah al-ghuroba’ (orang-orang yang terasing karena mengamalkan Islam).”
📚 [HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu]
🎙️ Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata,
السبب في كون القرن الأول خير القرون انهم كانوا غرباء في ايمانهم لكثرة الكفار حينئذ وصبرهم على اذاهم وتمسكهم بدينهم قال فكذلك اواخرهم إذا اقاموا الدين وتمسكوا به وصبروا على الطاعة حين ظهور المعاصي والفتن كانوا أيضا عند ذلك غرباء وزكت أعمالهم في ذلك الزمان كما زكت أعمال أولئك ويشهد له ما رواه مسلم عن أبي هريرة رفعه بدأ الإسلام غريبا وسيعود غريبا كما بدأ فطوبى للغرباء
“Sebab yang menjadikan generasi pertama (para sahabat) sebagai generasi terbaik adalah karena mereka ghuroba’ (orang-orang yang asing) dalam keimanan mereka disebabkan:
- Banyaknya orang-orang kafir ketika itu.
- Kesabaran mereka atas gangguan orang-orang kafir.
- Berpegang teguhnya mereka dengan agama.
Demikianlah generasi akhir mereka (umat Islam yang meneladani para sahabat di akhir zaman):
- Apabila mereka menegakkan agama.
- Berpegang teguh dengannya.
- Bersabar dalam ketaatan kepada Allah ketika kemaksiatan dan berbagai macam cobaan semakin merajalela.
Maka mereka juga termasuk ghuroba’ dan amalan mereka berlipat ganda di masa tersebut sebagaimana amalan generasi pertama juga berlipat ganda."
📚 [Fathul Bari, 7/6-8]
🎙️ Al-‘Allaamah Ibnu Baz rahimahullah berkata,
الغرباء هم أهل الاستقامة، وان الجنة والسعادة للغرباء الذين يصلحون عند فساد الناس
“Al-Guroba', orang-orang yang terasing adalah mereka yang istiqomah (teguh di atas kebenaran), sesungguhnya surga dan kebahagiaan bagi orang-orang yang terasing, yaitu yang membuat perbaikan ketika manusia banyak yang rusak.”
📚 [Fatawa Nur ‘alad Darb, 1/14]
🤞🏻 JALAN MENJADI 𝘼𝙇-𝙂𝙃𝙐𝙍𝙊𝘽𝘼'
1. Mempelajari Al-Qur'an dan As-Sunnah sesuai pemahaman Salaf.
2. Berusaha mengamalkannya dengan baik.
3. Mengajarkannya kepada orang lain.
4. Bersabar di atasnya sampai akhir hayat.
5. Senantiasa berdoa dan tawakkal kepada Allah 'azza wa jalla agar istiqomah.
🌍https://sofyanruray.info/keterasingan-yang-indah/
🖋📖 𝙈𝙐𝙇𝙄𝘼 𝘿𝙀𝙉𝙂𝘼𝙉 𝙎𝙐𝙉𝙉𝘼𝙃 📖🖋
بسم الله الرحمن الرحيم
🍂" Isteri Diperintahkan Untuk Tinggal Di Rumah
Isteri Diperintahkan Untuk Tinggal Di Rumah Dan Mengurus Rumah Tangga Dengan Baik.
Jangan bersedih jika Anda memutuskan untuk menjadi Ibu Rumah Tangga (IRT). Karena Andalah wanita pilihan, mulia dan terbaik.
Alasan wanita lebih baik di rumah, menjadi IRT (Ibu Rumah Tangga) karena wanita itu aurat. Disebutkan dalam hadits dari ‘Abdullah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ الْمَرْأَةَ عَوْرَةٌ، وَإِنَّهَا إِذَا خَرَجَتْ مِنْ بَيْتِهَا اسْتَشْرَفَهَا الشَّيْطَانُ فَتَقُولُ: مَا رَآنِي أَحَدٌ إِلا أَعْجَبْتُهُ، وَأَقْرَبُ مَا تَكُونُ إِلَى اللَّهِ إِذَا كَانَتْ فِي قَعْرِ بَيْتِهَا
“Sesungguhnya perempuan itu aurat. Jika dia keluar rumah maka setan menyambutnya. Perempuan itu akan berkata, “Tidaklah ada seorang pun yang melihatku melainkan kagum.” Keadaan perempuan yang paling dekat dengan Allah adalah ketika dia berada di dalam rumahnya.” (HR. Ibnu Khuzaimah no. 1685 dan Tirmidzi no. 1173. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih).
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
اَلْمَرْأَةُ عَوْرَةٌ فَإِذَا خَرَجَتْ اسْتَشْرَفَهَا الشَّيْطَانُ
“Wanita adalah aurat. Apabila ia keluar, syaitan akan menghiasinya dari pandangan laki-laki.” ( Hadits shahih: Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi (no. 1173), dari Shahabat ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallaahu ‘anhu. Lihat Shahiihul Jaami’ (no. 6690)).
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam memuji orang-orang yang qana’ah (merasa puas) dengan apa yang Allah Ta’ala karuniakan, beliau bersabda:
قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ وَرُزِقَ كَفَافًا، وَقَنَّعَهُ اللهُ بِمَا آتَاهُ
“Sungguh beruntung orang yang masuk Islam, rizkinya cukup, dan Allah memberikan kepuasan terhadap apa yang telah dikaruniakannya.” Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Muslim (no. 1054), dari Shahabat ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash radhiyallaahu ‘anhuma.
Allah ‘Azza wa Jalla akan mencukupkan rizki seseorang, manakala ia bersyukur dengan apa yang ia peroleh dan ia usahakan. Dia akan merasa puas (qana’ah) dengan apa yang dikaruniakan kepadanya.
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ يَسْتَعْفِفْ يُعِفَّهُ اللهُ وَمَنْ يَسْتَغْنِ يُغْنِهِ اللهُ
“ Barangsiapa yang menjaga kehormatan dirinya, maka Allah akan jaga dirinya dan barangsiapa yang merasa cukup, maka Allah akan memberikan kecukupan kepada dirinya.” (Hadits shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 1427) dan Muslim (no. 1034). Lihat Fat-hul Baari (III/294), dari Shahabat Hakim bin Hizam radhiyallaahu ‘anhu).
⏩ Mencari nafkah itu kewajiban suami dan tugas istri mengurus rumah tangga dengan baik.
Norma-norma ini terkandung dalam firman-Nya:
الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ
“Para lelaki (suami) itu pemimpin bagi para wanita (istri), karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (yang lelaki) atas sebagian yang lain (wanita), dan karena mereka (yang lelaki) telah memberikan nafkah dari harta mereka” (QS. An-Nisa: 34).
Begitu pula firman-Nya:
وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ
“Hendaklah kalian (para istri) tetap di rumah kalian” (QS. Al-Ahzab:33).
⏩ Bahaya Dan Dampak Negatif Akibat Wanita Bekerja Di Luar Rumah:
1. Bahaya bagi wanita itu, yaitu akan hilangnya sifat dan karakteristik kewanitaannya, menjadi asing dengan tugas rumah tangga dan kurangnya perhatian terhadap anaknya.
2. Bahaya bagi diri suami, yaitu suami akan kehilangan curahan kelembutan, keramahan, dan kegembiraan. Justru yang didapat adalah keributan dan keluhan-keluhan seputar kerja, persaingan karir antar teman, baik laki-laki maupun wanita. Bahkan, tidak jarang suami kehilangan kepemimpinannya lantaran gaji isteri lebih besar. Wallaahul Musta’aan.
3. Bahaya (dampak) bagi anak, yaitu hilangnya kelembutan, kasih sayang dan kedekatan dari seorang ibu. Semua itu tidak dapat digantikan oleh seorang pembantu atau pun seorang guru. Justru yang didapati anak adalah seorang ibu yang pulang dalam keadaan letih dan tidak sempat lagi memperhatikan pendidikan anak-anaknya.
4. Bahaya (dampak negatif) bagi kaum laki-laki secara umum, yaitu apabila semua wanita keluar dari rumahnya untuk bekerja, maka secara otomatis mereka telah menghilangkan kesempatan bekerja bagi laki-laki yang telah siap untuk bekerja.
5. Bahaya (dampak negatif) bagi pekerjaan tersebut, yaitu bahwa fakta di lapangan menunjukkan bahwa wanita lebih banyak memiliki halangan dan sering absen karena banyaknya sisi-sisi alami (fitrah)nya yang berpengaruh terhadap efisiensi kerja, seperti haidh, melahirkan, nifas, dan lainnya.
6. Bahaya (dampak negatif) bagi perkembangan moral, yaitu hilangnya kemuliaan akhlak, kebaikan moral serta hilangnya rasa malu dari seorang wanita. Juga hilangnya kemuliaan akhlak dan semangat kerja dari kaum suami. Anak-anak pun menjadi jauh dari pendidikan yang benar semenjak kecil.
7. Bahaya (dampak negatif) bagi masyarakat, yaitu bahwa fenomena ini telah mengeluarkan manusia dari fitrahnya dan telah menempatkan sesuatu bukan pada tempatnya. Sehingga mengakibatkan rusaknya tatanan hidup dan timbulnya kekacauan serta keributan.
(Shahiih Washaaya Rasuul lin Nisaa’ (hal. 469-470)).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersada,
فَباَرَكَ اللهُ لَكَ – أَوْ: خَيْرًا –
“Semoga Allah memberkahimu.” Atau beliau berkata, “Semoga kebaikan untukmu.” (HR. Muslim no. 715)
Semoga Allah menjadikan para wanita sebagai qurrata a’yun bagi suaminya.
Referensi : rumaysho.com; almanhaj.or.id
Tidak ada komentar:
Posting Komentar