Bismillah
Ibnu al-Qayyim -rahimahullah- pernah berkata: “Setiap cinta selalu disertai dengan rasa takut dan harap.
Dan sejauh mana cinta itu bersemayam dalam hati seorang pecinta, sebesar itu pula rasa takut dan harapnya akan menguat.”
Kalimat ini mengajarkan kepada kita bahwa cinta sejati kepada Allah -subhanahu wata'ala- tidak boleh berdiri sendiri. Ia selalu ditemani oleh dua temannya: rasa takut dan rasa harap.
Seorang hamba yang benar-benar mencintai Rabbnya akan takut bila cintanya berkurang, takut bila amalnya tidak diterima, takut bila dosa-dosanya menutupi jalan menuju keridaan-Nya.
Namun, rasa takut itu tidak membuatnya putus asa, sebab ia juga penuh dengan harap: berharap ampunan, berharap kasih sayang, berharap dapat bertemu dengan-Nya dalam keadaan Allah rida kepadanya.
Semakin dalam cinta itu berakar dalam hati, semakin besar pula ketakutan dan pengharapannya
. Inilah keseimbangan yang membuat seorang hamba tetap berjalan lurus di jalan menuju Allah. Ia tidak terjerumus dalam kelalaian karena terlalu berharap, dan tidak pula jatuh dalam keputusasaan karena terlalu takut.
Maka marilah kita bertanya pada diri kita sendiri: sejauh mana cinta kita kepada Allah telah melahirkan rasa takut dan harap dalam hati?
JANGAN LELAH BERDOA
وَاِذَا سَاَلَكَ عِبَادِيْ عَنِّيْ فَاِنِّيْ قَرِيْبٌۗ اُجِيْبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ اِذَا دَعَانِۙ فَلْيَسْتَجِيْبُوْا لِيْ وَلْيُؤْمِنُوْا بِيْ لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُوْنَ ١٨٦
Apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Nabi Muhammad) tentang Aku, sesungguhnya Aku dekat.
Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku.
Maka, hendaklah mereka memenuhi (perintah)-Ku
dan beriman kepada-Ku agar mereka selalu berada dalam kebenaran.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar