Minggu, 09 November 2025

APA TUJUAN ALLAH MENGUJI KITA ?

 APA TUJUAN ALLAH MENGUJI KITA ?

Dari Anas bin Malik, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Jika Allah menginginkan kebaikan pada hamba, Dia akan segerakan hukumannya di dunia. 

Jika Allah menghendaki kejelekan padanya, Dia akan mengakhirkan balasan atas dosa yang ia perbuat hingga akan ditunaikan pada hari kiamat kelak.” (HR. Tirmidzi no. 2396)

Juga dari hadits Anas bin Malik, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Sesungguhnya pahala besar karena balasan untuk ujian yang berat. 

Sungguh, jika Allah mencintai suatu kaum, maka Dia akan menimpakan ujian untuk mereka. 

Barangsiapa yang ridho, maka ia yang akan meraih ridho Allah. Barangsiapa siapa yang tidak suka, maka Allah pun akan murka.” (HR. Ibnu Majah no. 4031)

Faedah dari dua hadits di atas:

1- Musibah yang berat (dari segi kualitas dan kuantitas) akan mendapat balasan pahala yang besar.

2- Tanda Allah cinta, Allah akan menguji hamba-Nya. Dan Allah yang lebih mengetahui keadaan hamba-Nya. Kata Lukman -seorang sholih- pada anaknya,

“Wahai anakku, ketahuilah bahwa emas dan perak diuji keampuhannya dengan api sedangkan seorang mukmin diuji dengan ditimpakan musibah.”

3- Siapa yang ridho dengan ketetapan Allah, ia akan meraih ridho Allah dengan mendapat pahala yang besar.

4- Siapa yang tidak suka dengan ketetapan Allah, ia akan mendapat siksa yang pedih.

5- Cobaan dan musibah dinilai sebagai ujian bagi wali Allah yang beriman.

6- Jika Allah menginginkan kebaikan pada hamba, Dia akan segerakan hukumannya di dunia dengan diberikan musibah yang ia tidak suka sehingga ia keluar dari dunia dalam keadaan bersih dari dosa.

7- Jika Allah menghendaki kejelekan padanya, Dia akan mengakhirkan balasan atas dosa yang ia perbuat hingga akan ditunaikan pada hari kiamat kelak. 

Ath Thibiy berkata, “Hamba yang tidak dikehendaki baik, 

maka kelak dosanya akan dibalas hingga ia datang di akhirat penuh dosa sehingga ia pun akan disiksa karenanya.” (Lihat Faidhul Qodir, 2: 583, Mirqotul Mafatih, 5: 287, Tuhfatul Ahwadzi, 7: 65)

SUMBER : Rumaysho.com

https://t.me/komunitassunnah



ALLAH MENGABARKAN BAHWA IA TIDAK AKAN MENGAMPUNI SESEORANG YANG MENYEKUTUKANNYA

 TADABBURI AL-QURAN
.
๐Ÿ“š  Tafsir Al-Muyassar
(An-Nisa`:48)
.
Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dan tidak memaafkan siapa yang mempersekutukanNya dengan sesuatu dan makhluk-Nya atau dia kafir dengan bentuk kekufuran apa pun dari jenis kufur akbar. Sebaliknya Dia memaafkan dosa-dosa dibawah syirik bagi siapa yang Dia kehendaki dari hamba-hamba-Nya. Barangsiapa yang melakukan syirik kepada Allah, maka dia telah melakukan dosa yang besar.
@tadabburi.alquran



FAEDAH MALAM

๐Ÿ”ฐ ๐—›๐—”๐—ฅ๐—”๐—  ๐— ๐—˜๐— ๐—•๐—จ๐—Ÿ๐—Ÿ๐—ฌ ๐——๐—”๐—ก ๐— ๐—˜๐—ก๐—œ๐—ก๐——๐—”๐—ฆ ๐—ฌ๐—”๐—ก๐—š ๐—Ÿ๐—˜๐— ๐—”๐—›

Dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu ’anhu, ia berkata :

“Ketika rombongan sahabat Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam yang berhijrah ke Habasyah telah kembali, Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda:

"Tidakkah kalian ingin menceritakan kepadaku hal-hal menakjubkan yang kalian lihat di negeri Habasyah?"

Beberapa pemuda dari mereka menjawab, ‘Baiklah, wahai Rasulullah. Suatu ketika kami sedang duduk, lalu lewatlah di hadapan kami seorang nenek yang dikenal sebagai ahli ibadah di antara mereka. Ia membawa kendi berisi air di atas kepalanya.

Tiba-tiba lewatlah seorang pemuda dari penduduk Habasyah, lalu ia meletakkan salah satu tangannya di antara kedua bahu nenek itu dan mendorongnya hingga terjatuh bertumpu pada kedua lututnya, pecahlah kendinya.

Ketika nenek itu bangkit, ia menoleh dan berkata: 

“Wahai pengkhianat! Engkau akan tahu nanti, ketika Allah meletakkan Kursi-Nya, mengumpulkan seluruh manusia dari awal hingga akhir, dan tangan serta kaki mereka berbicara tentang apa yang dahulu mereka perbuat. Saat itu engkau akan tahu bagaimana urusanku dan urusanmu di hadapan-Nya kelak!”’

Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam pun bersabda:
“Sungguh benar! Sungguh benar! Bagaimana mungkin Allah menyucikan suatu kaum yang tidak menegakkan hak orang lemah dari orang kuat mereka?”

ู„َู…َّุง ุฑَุฌَุนَุชْ ุฅِู„َู‰ ุฑَุณُูˆู„ِ ุงู„ู„ู‡ِ ุตَู„َّู‰ ุงู„ู„ู‡ُ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุณَู„َّู…َ ู…ُู‡َุงุฌِุฑَุฉُ ุงู„ْุจَุญْุฑِ، ู‚َุงู„َ: ุฃَู„َุง ุชُุญَุฏِّุซُูˆู†ِูŠ ุจِุฃَุนَุงุฌِูŠุจِ ู…َุง ุฑَุฃَูŠْุชُู…ْ ุจِุฃَุฑْุถِ ุงู„ْุญَุจَุดَุฉِ؟ ู‚َุงู„َ ูِุชْูŠَุฉٌ ู…ِู†ْู‡ُู…ْ: ุจَู„َู‰ ูŠَุง ุฑَุณُูˆู„َ ุงู„ู„ู‡ِ، ุจَูŠْู†َู…َุง ู†َุญْู†ُ ุฌُู„ُูˆุณٌ ู…َุฑَّุชْ ุจِู†َุง ุนَุฌُูˆุฒٌ ู…ِู†ْ ุนَุฌَุงุฆِุฒِ ุฑُู‡ْุจَุงู†ِู‡ِู…ْ ุชَุญْู…ِู„ُ ุนَู„َู‰ ุฑَุฃْุณِู‡َุง ู‚ُู„َّุฉً ู…ِู†ْ ู…َุงุกٍ، ูَู…َุฑَّ ุจِู‡َุง ูَุชًู‰ ู…ِู†ْู‡ُู…ْ، ูَุฌَุนَู„َ ุฅِุญْุฏَู‰ ูŠَุฏَูŠْู‡ِ ุจَูŠْู†َ ูƒَุชِูَูŠْู‡َุง، ุซُู…َّ ุฏَูَุนَู‡َุง ูَุฎَุฑَّุชْ ุนَู„َู‰ ุฑُูƒْุจَุชَูŠْู‡َุง، ูَุงู†ْูƒَุณَุฑَุชْ ู‚ُู„َّุชُู‡َุง، ูَู„َู…َّุง ุงุฑْุชَูَุนَุชِ ุงู„ْุชَูَุชَุชْ ุฅِู„َูŠْู‡ِ ูَู‚َุงู„َุชْ: ุณَูˆْูَ ุชَุนْู„َู…ُ ูŠَุง ุบُุฏَุฑُ، ุฅِุฐَุง ูˆَุถَุนَ ุงู„ู„ู‡ُ ุงู„ْูƒُุฑْุณِูŠَّ، ูˆَุฌَู…َุนَ ุงู„ุฃَูˆَّู„ِูŠู†َ ูˆَุงู„ุขุฎِุฑِูŠู†َ، ูˆَุชَูƒَู„َّู…َุชِ ุงู„ุฃَูŠْุฏِูŠ ูˆَุงู„ุฃَุฑْุฌُู„ُ ุจِู…َุง ูƒَุงู†ُูˆุง ูŠَูƒْุณِุจُูˆู†َ، ูَุณَูˆْูَ ุชَุนْู„َู…ُ ูƒَูŠْูَ ุฃَู…ْุฑِูŠ ูˆَุฃَู…ْุฑُูƒَ ุนِู†ْุฏَู‡ُ ุบَุฏًุง؟!
ู‚َุงู„َ ุฑَุณُูˆู„ُ ุงู„ู„ู‡ِ ุตَู„َّู‰ ุงู„ู„ู‡ُ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุณَู„َّู…َ: ุตَุฏَู‚َุชْ ุตَุฏَู‚َุชْ! ูƒَูŠْูَ ูŠُู‚َุฏِّุณُ ุงู„ู„ู‡ُ ุฃُู…َّุฉً ู„ุง ูŠُุคْุฎَุฐُ ู„ِุถَุนِูŠูِู‡ِู…ْ ู…ِู†ْ ุดَุฏِูŠุฏِู‡ِู…ْ؟!

๐Ÿ“˜ (HR. Ibnu Majah, dihasankan oleh Al-Albani dalam Shahih Ibnu Majah no. 3255)

Pelajaran dari Hadits Ini:

- Mem-bully atau menindas orang lemah adalah perbuatan yang diharamkan dan harus dihapuskan.
- Setiap bentuk kezaliman terhadap sesama akan dibalas di akhirat, sekecil apa pun.
- Tidak boleh membiarkan kemungkaran jika mampu mencegahnya.
- Wajib berlemah lembut kepada mereka yang lemah: wanita, orang tua, anak kecil, orang miskin, dan lainnya.
- Mengganggu orang yang ahli ibadah lebih berat dosanya.
- Hadits ini menetapkan adanya Kursi Allah yang sesuai dengan keagungan-Nya.
- Boleh membenarkan ucapan Ahlul Kitab bila dibenarkan oleh Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam.

Wallahu a‘lam bish-shawab.

๐ŸŒด๐ŸŒด๐ŸŒด๐ŸŒด๐ŸŒด๐ŸŒด๐ŸŒด๐ŸŒด๐ŸŒด๐ŸŒด๐ŸŒด

๐Ÿ“ณ WhatsApp Salafy Cirebon
⏯ Channel Telegram || https://t.me/salafy_cirebon
๐Ÿ“Ÿ Website Salafy Cirebon :
www.salafycirebon.com

๐Ÿ“Š Menyajikan artikel Faidah ilmiah


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Postingan Populer

Postingan Populer