Minggu, 02 November 2025

PENDAPAT ULAMA BUKAN DALIL

MAJLIS ILMU MEMBERIKAN KETENANGAN HATI YANG AKAN MENAMBAH KEIMANAN

Allah سبحانه و تعالى berfirman

هُوَ ٱلَّذِىٓ أَنزَلَ ٱلسَّكِينَةَ فِى قُلُوبِ ٱلْمُؤْمِنِينَ لِيَزْدَادُوٓا۟ إِيمَٰنًا مَّعَ إِيمَٰنِهِمْ ۗ وَلِلَّهِ جُنُودُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ ۚ وَكَانَ ٱللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا

Artinya: Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada). Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana,(QS Al-Fath Ayat 4)

Pendapat itu dikatakan Ibnu Abbas dan diriwayatkan juga darinya bahwa yang dimaksud adalah rahmat. Qatadah berkata makna yang dimaksud adalah ketenangan dalam hati orang-orang mukmin, yakni para sahabat di hari Hudaibiyah, dimana mereka adalah orang-orang yang memenuhi seruan Allah dan rasulNya ﷺ serta tunduk patuh kepada hukum Allah dan rasulNya. Setelah hati mereka tenang dan tenteram, maka Allah menambahkan keimanan kepada mereka selain dari keimanan mereka.(Tafsir Ibnu Katsir)

Silakan dishare

Barakallahu fikum

🌏 Informasi :

▪bit.ly/profilrumahtahfidz

▪registrasi tahfidz Anak : bit.ly/formrumahtahfidzashshiddiq

▪https://bit.ly/PendaftaranWismaAshShiddiq  



PENDAPAT ULAMA BUKAN DALIL

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

( Rekaman Audio Dauroh Aqidah bersama Ustadz Yulian Purnama S.Kom حَفِظَهُ الله تعالى )

Praktek ibadah yang dapat mengantarkan pada kesyirikan adalah menjadikan kuburan orang shalih sebagai masjid (tempat ibadah), perkara ini telah dilarang oleh Rasulullah ﷺ dalam hadits

عن عائشة رضي الله عنها ، قالت: لما نُزِلَ برسول الله صلى الله عليه وسلم ، طَفِقَ يَطْرَحُ خَمِيصَةً له على وجهه، فإذا اغْتَمَّ بها كشفها فقال -وهو كذلك-: "لَعْنَةُ الله على اليهود والنصارى، اتخذوا قبور أنبيائهم مساجد -يُحَذِّرُ ما صنعوا". ولولا ذلك أُبْرِزَ قَبْرُهُ، غير أنه خَشِيَ أن يُتَّخَذَ مسجدا.  

[صحيح] - [متفق عليه]

Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- meriwayatkan, "Ketika ajal datang kepada Rasulullah ﷺ, beliau mulai meletakkan kain wol di wajah beliau, ketika susah bernafas maka beliau membukanya, ketika dalam keadaan demikian beliau bersabda, 'Laknat Allah kepada orang-orang Yahudi dan Nasrani, mereka menjadikan kuburan para nabi mereka sebagai masjid.' Beliau memperingatkan apa yang telah mereka lakukan, dan seandainya bukan karena hal tersebut, maka kuburan beliau akan ditampakkan, akan tetapi beliau khawatir bila kuburannya akan dijadikan sebagai masjid." (Hadits shahih - Muttafaq 'alaih)

Perbuatan tabarruk (mencari keberkahan) kepada orang shalih & peninggalannya termasuk bid'ah karena :

• Ijma sahabat untuk meninggalkan perbuatan bertabarruk kepada jasad & peninggalan orang shalih selain Nabi ﷺ

• sikap tabi'in sama dengan para sahabat

• tidak ada dalilnya

• bertabarruk dengan jasad & peninggalannya dikhususkan hanya untuk Nabi ﷺ saja, terutama dimasa Nabi ﷺ masih hidup. 

• tidak dibolehkan mengqiyaskan antara orang shalih dengan Nabi ﷺ dalam rangka menutup jalan keburukan.

Akan tetapi apabila ketika bertabarruk dengan orang shalih & peninggalannya diiringi keyakinan batil semisal :

• akan mendatangkan rezeki

• akan memberikan maslahat

• akan menghindarkan dari mudharat

Maka perkara tersebut termasuk kesyirikan, karena menjadikan sebab yang bukan sebab. Apabila menjadikan sebab tabarruk dengan orang shalih & peninggalannya sebagai sebab ibarat jimat 

مَنْ عَلَّقَ تَمِيمَةً فَقَدْ أَشْرَكَ

“Barangsiapa yang menggantungkan tamimah (jimat), maka ia telah berbuat syirik” (HR. Ahmad 4: 156. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini qowiy atau kuat. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih sebagaimana dalam As Silsilah Ash Shohihah no. 492).

Jika ada ulama yang membolehkan maka sikap yang benar a.l :

1. Harus dicek validitas riwayatnya

2. Seandainya benar maka itu menyelisihi sunnah Nabi ﷺ

3. Pendapat ulama itu bukan dalil

4. Patokannya adalah apa yang dilakukan salafush shalih

5. Banyak ulama yang mengingkarinya dari zaman dahulu hingga sekarang

Sebab-sebab pendapat ulama yang membolehkan antara lain :

1. Berdalil dengan Qiyas yang batil

2. Berdalil dengan Istihsan (anggapan baik)

3. Mengganggap ada keberkahan di kuburan orang shalih, sebagaimana orangnya yang shalih yang memiliki keberkahan walaupun yang benar bukan dari sisi jasadnya namun berkah dari sisi ilmunya

Sikap yang benar terhadap pendapat ulama yang menyelisihi Sunnah Nabi ﷺ adalah menolaknya, karena

Imam Malik rahimahullah pernah berkata:

كل أحدٍ يؤخذ من قوله ويُترَك، إلا صاحب هذا القبر صلى الله عليه وسلم؛ – سير أعلام النبلاء للذهبي جـ 8|93

“Setiap perkataan bisa diambil dan ditolak kecuali penghuni kubur ini (maksudnya Rasulullah ﷺ)”

(lihat Siyar: 8/93).

Wallahu'alam

Berikut rekaman daurohnya :

Sesi 1

bit.ly/AudioDaurohNov2024-1

Sesi 2

bit.ly/AudioDaurohNov2024-2

Supported by :

- Takmir Masjid Al Ikhlas Karangbendo

- AAW Media



PENGAGUNGAN TERHADAP SUNNAH NABI ﷺ

(Rekaman Dauroh "Ta'zhiim As-Sunnah" bersama Ustadz Mu'tashim Lc.MA حَفِظَهُ الله تعالى )

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

As Sunnah adalah jalan petunjuk mengikuti jalannya Nabi ﷺ baik itu perkaranya wajib maupun mustahab yang mencakup aqidah, ibadah, muamalah, & akhlak adab.

Sunnah Nabi ﷺ adalah petunjuk ke jalan yang lurus, perkara yang jelas & terang, difirmankan Allah سبحانه و تعالى dalam Al Qur'an 

وَإِن تُطِيعُوهُ تَهْتَدُوا۟ ۚ وَمَا عَلَى ٱلرَّسُولِ إِلَّا ٱلْبَلَٰغُ ٱلْمُبِينُ

Artinya: ..Dan jika kamu taat kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk. Dan tidak lain kewajiban rasul itu melainkan menyampaikan (amanat Allah) dengan terang".(QS-an-nur-ayat-54.)

Maksudnya menyampaikan kepada kalian secara jelas yang tiada menyisakan keraguan dan syubhat. Sungguh Rasulullah telah melakukannya. Beliau telah menyampaikan (risalah) dengan sejelas-jelasnya (Tafsir as-Sa'di)

Sikap Ahlus Sunnah yang menerima & tunduk dengan dalil-dalil sebagaimana teksnya sering dituduh tekstualis (zhahiri) karena menerima & mengamalkan Sunnah Nabi ﷺ sebagaimana datang dari Nabi ﷺ, tidak melakukan takwil atau memalingkan makna dari zhahirnya tanpa dalil. Oleh karena itu ciri kesesatan adalah menolak Sunnah Nabi ﷺ dengan takwil-takwil yang batil dengan alasan :
1. Qiyas
2. Mengikuti Perasaan 
3. Mendahulukan Akal
4. Menuruti Hawa Nafsu

Karena ciri Ahlus Sunnah selalu mengikuti dalil kemanapun beredar jika kemudian harus berpaling dari satu dalil maka berpindah ke dalil lainnya yang lebih shahih & benar.

Para sahabat adalah generasi yang totalitas dalam ketaatan, kecintaan,& penjagaan terhadap Sunnah Nabi ﷺ, sebagaimana Abu Bakar ash Shiddiq radhiyallahu anhu :

لَسْتُ تَارِكاً شَيْئاً كَانَ رَسُوْلُ اللهِ يَعْمَلُ بِهِ إِلاَّ عَمِلْتُ بِهِ ، فَإِنِّيْ أَخْشَى إِنْ تَرَكْتُ شَيْئاً مِنْ أَمْرِهِ أَنْ أَزِيْغَ

Aku tidak akan meninggalkan sesuatu yang Rasulullah lakukan kecuali untuk aku amalkan, karena aku khawatir, jika aku tinggalkan perintah Rasulullah, maka aku akan sesat.[6]

Imam Abu Abdillah bin Ubaidillah bin Muhammad bin Baththah, berkata: “Wahai saudara-saudaraku, Abu Bakar ash Shiddiq, ash shiddiqul akbar, beliau takut apabila kesesatan menimpa dirinya. Kalau dia menyalahi sesuatu dari salah satu saja dari perintah Nabi Muhammad ﷺ, bagaimana nanti akan ada satu zaman, yang orang yang ada di zaman tersebut, mereka memperolok-olok Nabi mereka, mereka memperolok-olok perintah Rasulullah ﷺ, dan mereka berbangga menyalahi Sunnah Rasulullah ﷺ, dan kita mohon kepada Allah dari ketergelinciran, dan kita mohon keselamatan dari amal yang jelek”.[al-Ibaanah, I/246].

[6] HR Bukhari, no. 3093, dan diriwayatkan oleh Ibnu Baththah dalam kitabnya, al Ibanah, I/245-246 no. 77

Wallahu'alam

(Faidah Dauroh Ilmiyah "Sikap yang Tepat Terhadap Sunnah Nabi ﷺ", pembahasan kitab “Ta'zhiim As-Sunnah" karya Syaikh Abdul Qoyyum As-Suhaibani)

Berikut rekaman selengkapnya

Sesi 1

Sesi 2

Supported by :
- Takmir Masjid Al Ikhlas Karangbendo





DAMPAK DOSA BAGI MANUSIA BERUPA MUSIBAH DI DUNIA

Allah سبحانه و تعالى berfirman 

فَكُلًّا أَخَذْنَا بِذَنۢبِهِۦ ۖ فَمِنْهُم مَّنْ أَرْسَلْنَا عَلَيْهِ حَاصِبًا وَمِنْهُم مَّنْ أَخَذَتْهُ ٱلصَّيْحَةُ وَمِنْهُم مَّنْ خَسَفْنَا بِهِ ٱلْأَرْضَ وَمِنْهُم مَّنْ أَغْرَقْنَا ۚ وَمَا كَانَ ٱللَّهُ لِيَظْلِمَهُمْ وَلَٰكِن كَانُوٓا۟ أَنفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ

Artinya: Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya, maka di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil dan di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, dan di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan, dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.[Surat Al-‘Ankabut Ayat 40]

Allah سبحانه و تعالى memberitahukan tentang umat-umat yang mendustakan para rasul itu, bagaimana Allah membinasakan mereka dengan berbagai macam azab sebagai pembalasan Allah سبحانه و تعالى terhadap mereka.[Tafsir Ibnu Katsir]

Silakan dibantu share.
Barakallahu fikum

🌏 Informasi :
▪bit.ly/profilrumahtahfidz
▪registrasi tahfidz anak : bit.ly/formrumahtahfidzashshiddiq
▪bit.ly/PendaftaranWismaAshShiddiq 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Postingan Populer

Postingan Populer