Senin, 29 September 2025

Faedah kajian kitab Sifatu Rabb Al -Alamin

 Faedah kajian kitab Sifatu Rabb Al -Alamin fi Al -kitab Al -Hakim wa Sunnah an -nabiyyi Al -Amin 

Senin, 29 September 2025

🔷  Kaidah ketiga: (yang wajib dalam memahami sifat Allah ﷻ, berdasarkan dzahirnya dalil dan hakikat dalil  )

Kaidah ini merupakan salah satu kaidah yang agung yang dibangun oleh kaum Ahlu Sunnah wal Jamaah dalam agama

Memahami kaidah secara umum, dan sifat secara khusus, sebenarnya merupakan dua kaidah yang telah kami gabungkan menjadi satu aturan demi singkatnya.

📖  Bagian pertama dari kaidah ini adalah bahwa wajib yang di lakukan sifat sifat harus dipahami berdasarkan dzahirnya, artinya wajib memahami dalil ditafsirkan sesuai dengan makna dzahirnya dari lafalnya (meskipun maknanya tidak dipahami), dan tidak boleh dipalingkan darinya kecuali dengan dalil yang jelas yang kita wajib dirujuk pada dalil, Ini adalah dasar otentik yang harus dipatuhi oleh Allah  Sang Pembuat Hukum yang bijaksana, khususnya dalam bab tentang nama-nama dan sifat sifat Allah ﷻ, agar seorang hamba tidak terjerumus ke dalam penafsiran yang rusak  dan akibatnya dapat merusak tujuan tujuan terpenting dan tujuan yang agung

📖  Bagian kedua dari kaidah : wajib kita memahami dalil dalil sifat harus dipahami secara hakikatnya, bukan majas. Hal ini sama pentingnya dengan bagian sebelumnya, karena memberikan dasar untuk memahami dasar dasar Al Qur'an dan Sunnah sesuai dengan kehendak Sang Pemberi Hukum, dan tidak keluar dari maksud Allah . Hakikat secara istikah adalah setiap kata yang tetap pada tempatnya dan tidak berpindah ke kata lain. Lawan kata adalah majas, yaitu penggunaan suatu kata dengan cara yang berbeda dari yang seharusnya, karena adanya hubungan di antara keduanya, dengan indikator yang keluar dari makna yang hakiki

Yang dimaksud dengan hakikat di sini adalah makna yang muncul  ke dalam pikiran kita dari makna kata yang dzahir dalam makna aslinya: yaitu, menetapkan sifat tersebut dalam hakikat sebagaimana adanya dalam teks hukum, tanpa di rubah, di samakan,di serupakan dan di tolak, karena inilah asal muasal dalam ucapan, bahwa ia di pahami berdasarkan dalam hakikatnya, dan inilah bagaimana Al Qur'an dan Sunnah yang sebenarnya . Ibnu Abdil-Barr, semoga Allah merahmatinya, berkata: Menerima firman Allah ﷻ dan sabda Nabinya ﷺ  dalam kebenaran lebih tepat bagi ulama yang beragama dan benar, karena beliau mengatakan kebenaran, dan firman beliau adalah kebenaran

Oleh karena itu, kita katakan: Allah Maha di sifatu dengan hidup juga Allah Mendengar.,Allah punya 2 tangan Allah 2 punya 2 mata,pahami seperti itu

🔷  Kaidah keempat ( Sifat Sifat itu kita ketahui dalam satu hal, dan kita tidak ketahui dalam hal yang lain. Dari sisi makna, Sifat Sifat  Allah kita ketahui, dan dari segi kaifiat Sifat Sifat itu tidak kita ketahui) 

Kaidah ini adalah dasar dan pondasi paling agung untuk memahami pengetahuan yang paling agung. Ini adalah perahu keselamatan untuk mengikuti jalan petunjuk, sebagaimana yang diikuti oleh generasi pertama. Arti dari pernyataannya : ( Sifat sifat diketahui dengan mempertimbangkan maknanya) adalah bahwa maknanya dipahami dalam makna bahasa asli, karena Allah ﷻ  maha sucinya, berbicara kepada kita dalam bahasa Arab yang jelas, dalam Kitabnya yang penuh hikmah, dan memerintahkan kita untuk merenungkannya, memahaminya, dan mengikutinya. Dan diantara rahmat Allah,  atas kita adalah bahwa Dia membuat  sifat-sifat itu sangat jelas, sehingga semua umat manusia memahaminya, sehingga tidak sulit bagi mereka sepanjang zaman, tidak seperti ayat-ayat hukum, yang mungkin sulit bagi sebagian manusia sehingga hanya para ulama yang memahaminya.

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: "Barangsiapa yang Allah lapangkan dadanya dan Allah terangi hatinya, niscaya akan mengetahui petunjuk dari (nash-nash sifat-sifat Allah) tentang maknanya lebih jelas daripada tafsir banyak ayat ayat hukum tentang maknanya. Karena itu, makna ayat ayat hukum hampir tidak dapat dipahami kecuali oleh orang orang khusus "

Adapun ayat-ayat tentang nama-nama dan sifat-sifat Allah pemahamannya terbagi menjadi pemahaman khusus dan pemahaman umum, yaitu pemahaman makna aslinya, bukan pemahaman hakikatnya dan rinciannya. Kemudian Ibnu Qoyim Rahimahullah menyebutkan kesulitan sebagian sahabat dalam beberapa ayat hukum, dan tidak ada riwayat bahwa salah seorang dari sahabat mengalami kesulitan dalam masalah sifat-sifat Allah 

Hal ini semata mata karena pentingnya dan tingginya sifat Allah. Tak seorang pun, siapa pun kita, dapat hidup tanpanya dalam menjalankan ibadah yang baik kepada Allah ﷻ secara terus menerus 

Makna dari satu sisi  (mempertimbangkan cara yang tak dikenal) adalah bahwa cara tersebut berasal dari kualitas, yaitu pertanyaan tentang bentuk dan gambaran, serta pertanyaan tentang hakikat suatu hal. Hal ini mustahil bagi Allah kita yang maha agung, karena ilmu pengetahuan tentang cara suatu sifat merupakan cabang dari pengetahuan tentang cara yang di sifati, karena cara suatu hal tidak dapat dipahami kecuali dengan menyaksikannya, atau dengan menyaksikan yang serupa dengannya ,atau dengan informasi yang benar tentang hal itu Semua metode ini dinegasikan sehubungan dengan cara sifat-sifat Allah ﷻ, sehingga cara tersebut tidak kita ketahui dan kalian tidak mengetahuinya.

Al-Asbahani rahimahullah berkata: "Pembahasan tentang sifat-sifat merupakan cabang dari pembahasan tentang dzat Allah, dan menetapkan hakikat berarti penegasan wujud  bukan penegasan bagaimana hakikat itu ada. Demikian pula penegasan sifat-sifatnya "

Masalah penting

Kita semua tidak mengetahui bagaimana sifat-sifat Allah kita, Maha Suci Dia. Ini bukan berarti sifat sifat itu tidak memiliki kaifiat, melainkan sifat-sifat itu memiliki kaifiat yang hanya Dia yang mengetahuinya. Karena alasan ini, perlu diketahui bahwa sifat sifat Allah kita yang agung memiliki kaifiat yang sesuai agung, dan Dia telah menghilangkan keinginan kita untuk mengetahuinya, sebagaimana yang dicontohkan para ulama salaf dalam sabda mereka: "pahamilah mereka sebagaimana adanya tanpa bertanya bagaimana."

Imam Ahmad, semoga Allah merahmatinya, berkata : "Allah turun sesuai kehendaknya berdasarkan ilmu dan sesuai dengan maha kuasanya. Allah meliputi segala sesuatu

Penulis  Al Faqir ✍🏻 :  Abu Zahra Al Jogjawi 

Pemateri 💺 : Ustadzuna Ahmad Hasanuddin Umar Hafizhahullahu Ta'ala 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Postingan Populer

Postingan Populer