Senin, 19 Januari 2026

Dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur

 Hadits yang sangat masyhur dan diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim dari sahabat Abdullah bin Mas'ud RA.

Teks Lengkap Hadits

"Hendaklah kalian jujur, karena kejujuran itu menuntun kepada kebaikan, dan kebaikan itu menuntun ke surga. Seseorang yang senantiasa jujur dan berusaha untuk jujur, maka dia akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur (Shiddiq).

Dan jauhilah oleh kalian sifat dusta, karena dusta itu menuntun kepada kejahatan, dan kejahatan itu menuntun ke neraka. Seseorang yang senantiasa berdusta dan berusaha untuk berdusta, maka dia akan dicatat di sisi Allah sebagai pendusta (Kadhdhab)." (HR. Bukhari no. 6094 dan Muslim no. 2607)


Makna Penting dari Hadits Ini

  • Proses Pembentukan Karakter: Kata "senantiasa" dan "berusaha" dalam hadits ini menunjukkan bahwa kejujuran atau kebohongan adalah hasil dari kebiasaan yang dilakukan terus-menerus hingga menjadi identitas yang melekat pada seseorang.

  • Balasan yang Sejalan: Kejujuran membawa ketenangan dan keberkahan (kebaikan), sedangkan kebohongan membawa kecemasan dan dosa (kejahatan).

  • Status di Sisi Allah: Puncak dari kejujuran adalah predikat Shiddiq (orang yang sangat jujur), sebuah derajat yang sangat tinggi di sisi Allah, setingkat di bawah derajat kenabian.

Referensi Kitab:

  1. Shahih Bukhari, Kitab Al-Adab (Adab), Bab Tanda-tanda Kejujuran.

  2. Shahih Muslim, Kitab Al-Birr wash Shilah wal Adab (Kebajikan, Silaturahmi, dan Adab)


beberapa hadits sahih lainnya yang berkaitan dengan kejujuran dan etika (akhlak) dalam perdagangan atau jual-beli:

1. Kedudukan Pedagang yang Jujur di Akhirat

Rasulullah SAW memberikan apresiasi yang sangat tinggi bagi orang yang mencari nafkah dengan jujur. Kedudukan mereka disejajarkan dengan orang-orang mulia.

"Pedagang yang jujur dan terpercaya akan bersama para Nabi, orang-orang shiddiq (yang benar imannya), dan orang-orang yang mati syahid." (HR. Tirmidzi no. 1209, hadits ini dinilai hasan)


2. Keberkahan dalam Keterbukaan (Transparansi)

Kejujuran dalam menjelaskan kondisi barang (tidak menutupi cacat) akan mendatangkan keberkahan pada hasil penjualannya.

"Dua orang yang melakukan jual beli memiliki hak khiyar (memilih untuk membatalkan atau melanjutkan) selama keduanya belum berpisah. Jika keduanya jujur dan menjelaskan (keadaan barang), maka transaksi mereka akan diberkahi. Namun, jika mereka berdusta dan menyembunyikan (cacat barang), maka keberkahan jual beli mereka akan dihapus." (HR. Bukhari no. 2079 dan Muslim no. 1532)


3. Larangan Menipu (Ghisy)

Hadits ini muncul ketika Rasulullah SAW memasukkan tangannya ke dalam tumpukan gandum seorang pedagang dan menemukan bagian bawahnya basah, sementara bagian atasnya kering.

"Siapa yang menipu (curang), maka dia bukan bagian dari golonganku." (HR. Muslim no. 101)


4. Larangan Bersumpah Palsu untuk Melariskan Barang

Terkadang pedagang bersumpah demi Allah agar pembeli percaya, padahal ia berbohong. Meski barangnya laku, hal ini sangat dibenci.

"Sumpah itu memang bisa melariskan barang dagangan, namun ia bisa menghapuskan keberkahan hasil usahanya." (HR. Bukhari no. 2087 dan Muslim no. 1606)


Pelajaran Penting:

Dalam Islam, ekonomi dan akhlak tidak bisa dipisahkan. Kejujuran bukan hanya soal moral, tapi juga syarat agar harta yang kita dapatkan menjadi halal dan berkah. Harta yang berkah adalah harta yang meskipun sedikit, cukup untuk kebutuhan dan mendatangkan ketenangan hati.



Postingan Populer

Postingan Populer