Senin, 27 April 2026

Hukum Janggut

 



Berdo'a di Waktu Mustajab dihari Jum'at setelah Ashar

Terkabulbya DO'A di hari jum'at 

Hadis dari Jabir bin Abdillah Radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَوْمُ الْجُمُعَةِ اثْنَتَا عَشْرَةَ سَاعَةً ، لَا يُوجَدُ فِيهَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ يَسْأَلُ اللَّهَ شَيْئًا إِلَّا آتَاهُ إِيَّاهُ فَالْتَمِسُوهَا آخِرَ سَاعَةٍ بَعْدَ الْعَصْرِ

Pada hari jumat ada 12 jam. (Diantaranya ada satu waktu, apabila ada seorang muslim yang memohon kepada Allah di waktu itu, niscaya akan Allah berikan. Carilah waktu itu di penghujung hari setelah asar. (HR. Abu Daud 1048, Nasai 1389 dan dishahihkan al-Albani).

Hadis dari Abdullah bin Sallam Radhiyallahu ‘anhu, beliau pernah bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam,
“Kami menjumpai adalam kitabullah, bahwa di hari jumat ada satu waktu, apabila ada seorang hamba beriman melakukan shalat bertepatan dengan waktu tersebut, kemudian memohon kepada Allah, maka Allah akan penuhi permohonannya.”

Kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berisyarat kepadaku, ‘Itu hanya sebentar?’

‘Anda benar, hanya sebentar.’ Jawab Abdullah bin Sallam.

Lalu Abdullah bertanya, ‘Kapan waktu itu’

Jawab beliau,

هِيَ آخِرُ سَاعَاتِ النَّهَارِ

“Itu adalah waktu di penhujung hari.”

‘Bukankah itu waktu larangan shalat?’

Jawab Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

بَلَى ، إِنَّ الْعَبْدَ الْمُؤْمِنَ إِذَا صَلَّى ثُمَّ جَلَسَ لَا يَحْبِسُهُ إِلَّا الصَّلَاةُ ، فَهُوَ فِي الصَّلَاةِ

“Benar, namun ketika seorang hamba melakukan shalat (di awal asar), lalu dia duduk menunggu shalat berikutnya, dia terhitung sedang melakukan shalat.” (HR. Ibn Majah 1139)

Dari dua pendapat di atas, menunjukkan bahwa pendaat kedua inilah yang lebih mendekati kebenaran.

Allahu a’lam. 
Rumaysho 

🔸 Silahkan gabung di group WhatsApp MENGAJI MUSLIMAH7 
https://chat.whatsapp.com/DpMB4ygGY4QKrCka9lJwXS

AKAN KEMBALI KEPADAMU

 APA YANG ENGKAU LAKUKAN, ITU YANG AKAN KEMBALI KEPADAMU

Kita sering ingin dihormati, diperlakukan baik, dan dijaga kehormatannya. Namun dalam kenyataannya, kita masih mudah menyakiti orang lain dengan ucapan, membuka aib, mengambil hak, atau bersikap pelit. Padahal, Islam mengajarkan satu kaidah yang tegas dan adil: perlakukan orang lain sebagaimana kita ingin diperlakukan.

Rasulullah ﷺ bersabda:

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّىٰ يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

“Tidak beriman salah seorang dari kalian sampai ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Allah ﷻ juga berfirman:

إِنْ أَحْسَنْتُمْ أَحْسَنْتُمْ لِأَنْفُسِكُمْ

“Jika kalian berbuat baik, maka sesungguhnya kalian berbuat baik untuk diri kalian sendiri.” (QS. Al-Isra: 7)

Apa yang kita lakukan kepada orang lain sejatinya akan kembali kepada kita. Menutup aib orang lain berarti Allah akan menutup aib kita. Memberi berarti kita sedang membuka pintu kebaikan untuk diri sendiri. Sebaliknya, menyakiti, merendahkan, dan berbuat curang adalah benih keburukan yang pasti akan kita tuai.

Jangan merasa aman saat berbuat buruk, karena balasannya bisa datang dengan cara yang tidak kita duga. Dan jangan heran jika hidup terasa sempit, bisa jadi itu akibat dari sikap kita sendiri.

Maka perbaiki diri. Jaga lisan. Biasakan memberi. Hormati orang lain jika ingin dihormati. Karena hidup ini seperti cermin yang kembali kepada kita adalah apa yang kita lakukan.


✍🏻 @arrahman.or.id

🗓️ 9 Dzulqo'dah 1447

🔸 Silahkan gabung di group Telegram KOMUNITAS SUNNAH 

https://t.me/komunitassunnah

🔸 Silahkan gabung di group WhatsApp MENGAJI QUR'ANSUNNAH8 



MENINGGALKAN SHALAT KARENA SIBUK MENCARI DUNIA*

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menceritakan tentang shalat pada suatu hari di mana beliau bersabda (artinya),

“Siapa yang menjaga shalat, maka ia akan mendapatkan cahaya, petunjuk, keselamatan pada hari kiamat. Siapa yang tidak menjaganya, maka ia tidak mendapatkan cahaya, petunjuk, dan keselamatan kelak. Nantinya di hari kiamat, ia akan dikumpulkan bersama Qorun, Fir’aun, Haman, dan Ubay bin Kholaf.” 

(HR. Ahmad 2: 169. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan)



MENJAGA AMALAN AGAR TIDAK GUGUR

Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullah berkata:

"Yang terpenting bukanlah sekadar melaksanakan ketaatan. Namun yang terpenting (yang harus selalu diperhatikan) adalah menjaga amalan tersebut dari hal-hal yang dapat menggugurkannya." [Lihat: Uddah Ash-Shabirin wa Dzakhirah Asy-Syakirin, hal. 66]

Manakala seseorang beramal dengan berbagai jenisnya, maka ia sangat berharap agar seluruh amalannya dapat diterima oleh Allah ﷻ. Namun ada beberapa perbuatan yang dapat menggugurkan pahala seseorang. Di antaranya adalah dengan berbuat kesyirikan, karena kesyirikan adalah penghapus amalan saleh.

Allah ﷻ berfirman:

وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ 

Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepada engkau (wahai Muhammad), dan kepada (nabi-nabi) yang sebelum engkau: "Jika kamu berbuat syirik (kepada Allah ), niscaya akan gugur terhapuslah amalmu, dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi." [QS. Az-Zumar: 65]

Maka dari itu, jauhilah perbuatan syirik kepada Allah, agar amalan-amalan kita bisa selamat.

Semoga Allah ﷻ selalu membimbing kita di dalam kebaikan, serta kita senantiasa istiqamah di jalan yang diridai oleh Allah. Aamiin

Sumber: @dedibudika_akmar

🔸 Silahkan gabung di group WhatsApp MENGAJI QUR'ANSUNNAH14 

https://chat.whatsapp.com/K4vZ7LusKmmBVHPWBk9gqx

Postingan Populer

Postingan Populer