Selasa, 14 April 2026

MENGAPA HARUS SALAFI?

 MENGAPA HARUS SALAFI?

Oleh
Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani

Pertanyaan.
Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah ditanya : “Mengapa perlu menamakan diri dengan Salafiyah, apakah itu termasuk dakwah Hizbiyyah, golongan, madzhab atau kelompok baru dalam Islam?”

Jawaban.
Sesungguhnya kata “As-Salaf” sudah lazim dalam terminologi bahasa Arab maupun syariat Islam. Adapun yang menjadi bahasan kita kali ini adalah aspek syari’atnya. Dalam riwayat yang shahih, ketika menjelang wafat, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Sayidah Fatimah Radhiyallahu ‘anha :

فَاتَّقِى اللهَ وَاصْبِرِيْ فَإِنَّهُ نِعْمَ السَّلَفُ أَنَا لَكِ

Bertakwalah kepada Allah dan bersabarlah, sebaik-baik “As-Salaf” bagimu adalah Aku“.

Dalam kenyataannya di kalangan para ulama sering menggunakan istilah “As-Salaf“. Satu contoh penggunaan “As-Salaf” yang biasa mereka pakai dalam bentuk syair untuk menumpas bid’ah :

“Dan setiap kebaikan itu terdapat dalam mengikuti orang-orang Salaf”.
“Dan setiap kejelekan itu terdapat dalam perkara baru yang diada-adakan orang Khalaf”.

Namun ada sebagian orang yang mengaku berilmu, mengingkari nisbat (penyandaran diri) pada istilah Salaf karena mereka menyangka bahwa hal tersebut tidak ada asalnya. Mereka berkata : “Seorang muslim tidak boleh mengatakan “saya seorang Salafi“. Secara tidak langsung mereka beranggapan bahwa seorang muslim tidak boleh mengikuti Salafus Shalih baik dalam hal akidah, ibadah ataupun ahlak”.

Tidak diragukan lagi bahwa pengingkaran mereka ini, (kalau begitu maksudnya) membawa konsekwensi untuk berlepas diri dari Islam yang benar yang dipegang para Salafus Shalih yang dipimpin Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ

Sebaik-baik generasi adalah generasiku, kemudian sesudahnya, kemudian sesudahnya“.[Hadits Shahih Riwayat Bukhari, Muslim].

Maka tidak boleh seorang muslim berlepas diri (bara’) dari penyandaran kepada Salafus Shalih. Sedangkan kalau seorang muslim melepaskan diri dari penyandaran apapun selain Salafus Shalih, tidak akan mungkin seorang ahli ilmupun menisbatkannya kepada kekafiran atau kefasikan.

Orang yang mengingkari istilah ini, bukankah dia juga menyandarkan diri pada suatu madzhab, baik secara akidah atau fikih ..?. Bisa jadi ia seorang Asy’ari, Maturidi, Ahli Hadits, Hanafi, Syafi’i, Maliki atau Hambali semata yang masih masuk dalam sebutan Ahlu Sunnah wal Jama’ah.

Padahal orang-orang yang bersandar kepada madzhab Asy’ari dan pengikut madzhab yang empat adalah bersandar kepada pribadi-pribadi yang tidak maksum. Walau ada juga ulama di kalangan mereka yang benar. Mengapa penisbatan-penisbatan kepada pribadi-pribadi yang tidak maksum ini tidak diingkari ..?

Adapun orang yang berintisab kepada Salafus Shalih, dia menyandarkan diri kepada ishmah (kemaksuman/terjaga dari kesalahan) secara umum. Rasul telah mendiskripsikan tanda-tanda Firqah Najiah yaitu komitmennya dalam memegang sunnah Nabi dan para sahabatnya. Dengan demikian siapa yang berpegang dengan manhaj Salafus Shalih maka yakinlah dia berada atas petunjuk Allah ‘Azza wa Jalla.

Salafiyah merupakan predikat yang akan memuliakan dan memudahkan jalan menuju “Firqah Najiyah“. Dan hal itu tidak akan didapatkan bagi orang yang menisbatkan kepada nisbat apapun selainnya. Sebab nisbat kepada selain Salafiyah tidak akan terlepas dari dua perkara :

  1. Menisbatkan diri kepada pribadi yang tidak maksum.
  2. Menisbatkan diri kepada orang-orang yang mengikuti manhaj pribadi yang tidak maksum.

Jadi tidak terjaga dari kesalahan, dan ini berbeda dengan Ishmah para shahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang mana Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan supaya kita berpegang teguh terhadap sunnahnya dan sunnah para sahabat setelahnya.

Kita tetap terus dan senantiasa menyerukan agar pemahaman kita terhadap Al-Kitab dan As-Sunnah selaras dengan manhaj para sahabat, sehingga tetap dalam naungan Ishmah (terjaga dari kesalahan) dan tidak melenceng maupun menyimpang dengan pemahaman tertentu yang tanpa pondasi dari Al-Kitab dan As-Sunnah.

Mengapa sandaran terhadap Al-Kitab dan As-Sunnah belum cukup.?
Sebabnya kembali kepada dua hal, yaitu hubungannya dengan dalil syar’i dan fenomena Jama’ah Islamiyah yang ada.

Sebab Pertama : Kita dapati dalam nash-nash yang berupa perintah untuk menta’ati hal lain disamping Al-Kitab dan As-Sunnah sebagaimana dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ

Dan taatilah Allah, taatilah Rasul dan Ulil Amri diantara kalian“. [An-Nisaa/4 : 59].

Jika ada Waliyul Amri yang dibaiat kaum Muslimin maka menjadi wajib ditaati seperti keharusan taat terhadap Al-Kitab dan As-Sunnah. Walau terkadang muncul kesalahan dari dirinya dan bawahannya. Taat kepadanya tetap wajib untuk menepis akibat buruk dari perbedaan pendapat dengan menjunjung tinggi syarat yang sudah dikenal yaitu :

لاَ طَاعَةَ لِمَخْلُوْقٍ فِيْ مَعْصِيَةِ الْخَالِقِ

Tidak ada ketaatan kepada mahluk di dalam bemaksiat kepada Al-Khalik“.[Lihat As-Shahihah No. 179]

وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَىٰ وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ ۖ وَسَاءَتْ مَصِيرًا

Dan barang siapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin. Kami biarkan mereka berkuasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu, dan Kami masukkan dia ke dalam Jahannan dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali“.[An-Nisaa/4 : 115]

Allah Maha Tinggi dan jauh dari main-main. Tidak disangkal lagi, penyebutan Sabilil Mu’minin (Jalan kaum mukminin) pasti mengandung hikmah dan manfa’at yang besar. Ayat itu membuktikan adanya kewajiban penting yaitu agar ittiba’ kita terhadap Al-Kitab dan As-Sunnah harus sesuai dengan pemahaman generasi Islam yang pertama (generasi sahabat). Inilah yang diserukan dan ditekankan oleh dakwah Salafiyah di dalam inti dakwah dan manhaj tarbiyahnya.

Sesungguhnya Dakwah Salafiyah benar-benar akan menyatukan umat. Sedangkan dakwah lainnya hanya akan mencabik-cabiknya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ

Dan hendaklah kamu bersama-sama orang-orang yang benar“. [At-Taubah/9 : 119]

Siapa saja yang memisahkan antara Al-Kitab dan As-Sunnah dengan As-Salafus Shalih bukanlah seorang yang benar selama-lamanya.

Sebab Kedua : Bahwa kelompok-kelompok dan golongan-golongan (umat Islam) sekarang ini sama sekali tidak memperhatikan untuk mengikuti jalan kaum mukminin yang telah disinggung ayat di atas dan dipertegas oleh beberapa hadits.

Diantaranya hadits tentang firqah yang berjumlah tujuh puluh tiga golongan, semua masuk neraka kecuali satu. Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendeskripsikannya sebagai :

مَاأَنَا عَلَيْهِ وَ أَصْحَابِيْ

Dia (golongan itu) adalah yang berada di atas pijakanku dan para sahabatku hari ini“.

Hadits ini senada dengan ayat yang menyitir tentang jalan kaum mukminin. Di antara hadits yang juga senada maknanya adalah, hadits Irbadl bin Sariyah, yang di dalamnya memuat :

فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ

Pegangilah sunnahku dan sunnah Khulafair Rasyidin sepeninggalku“.

Jadi di sana ada dua sunnah yang harus di ikuti : Sunnah Rasul dan sunnah Khulafaur Rasyidin.

Menjadi keharusan atas kita –generasi mutaakhirin– untuk merujuk kepada Al-Kitab dan As-Sunnah dan jalan kaum mukminin. Kita tidak boleh berkata : “Kami mandiri dalam memahami Al-Kitab dan As-Sunnah tanpa petunjuk Salafus As-Shalih”.

Demikian juga kita harus memiliki nama yang membedakan antara yang haq dan batil di zaman ini. Belum cukup kalau kita hanya mengucapkan : “Saya seorang muslim (saja) atau bermadzhab Islam”. Sebab semua firqah juga mengaku demikian baik Syiah, Ibadhiyyah (salah satu firqah dalam Khawarij), Ahmadiyyah dan yang lain. Apa yang membedakan kita dengan mereka ..?

Kalau kita berkata : “Saya seorang muslim yang memegangi Al-Kitab dan As-Sunnah”. ini juga belum memadai. Karena firqah-firqah sesat juga mengklaim ittiba’ terhadap keduanya.

Tidak syak lagi, nama yang jelas, terang dan membedakan dari kelompok sempalan adalah ungkapan : “Saya seorang muslim yang konsisten dengan Al-Kitab dan As-Sunnah serta bermanhaj Salaf“, atau disingkat “Saya Salafi“.

Kita harus yakin, bersandar kepada Al-Kitab dan As-Sunnah saja, tanpa manhaj Salaf yang berperan sebagai penjelas dalam masalah metode pemahaman, pemikiran, ilmu, amal, dakwah, dan jihad, belumlah cukup.

Kita paham para sahabat tidak berta’ashub terhadap madzhab atau individu tertentu. Tidak ada dari mereka yang disebut-sebut sebagai Bakri, Umari, Utsmani atau Alawi (pengikut Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali). Bahkan bila seorang di antara mereka bisa bertanya kepada Abu Bakar, Umar atau Abu Hurairah maka bertanyalah ia. Sebab mereka meyakini bahwa tidak boleh memurnikan ittiba’ kecuali kepada satu orang saja yaitu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang tidak berkata dengan kemauan nafsunya, ucapannya tiada lain wahyu yang diwahyukan.

Taruhlah misalnya kita terima bantahan para pengkritik itu, yaitu kita hanya menyebut diri sebagai muslimin saja tanpa penyandaran kepada manhaj Salaf ; padahal manhaj Salaf merupakan nisbat yang mulia dan benar. Lalu apakah mereka (pengkritik) akan terbebas dari penamaan diri dengan nama-nama golongan madzhab atau nama-nama tarekat mereka.? Padahal sebutan itu tidak syar’i dan salah ..!?.

Allah adalah Dzat Maha pemberi petunjuk menuju jalan lurus. Wallahu al-Musta’an.

Demikianlah jawaban kami:
Istilah Salaf bukan menunjukkan sikap fanatik atau ta’assub pada kelompok tertentu, tetapi menunjukkan pada komitmennya untuk mengikuti Manhaj Salafus Shalih dalam memahami Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Wallahu Waliyyut-Taufiq.

(Majalah Al-Ashalah edisi 9/Th.II/15 Sya’ban 1414H)


https://almanhaj.or.id/30791-mengapa-harus-salafi.html











Telaga Kemuliaan Rasûlullâh Pada Hari Kiamat


TELAGA KEMULIAAN RASULULLAH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM PADA HARI KIAMAT

Oleh
Ustadz Abdullah bin Taslim al-Buthoni, MA

Iman kepada hari akhir atau hari kemudian, berarti mengimani semua peristiwa yang terjadi setelah kematian yang diberitakan dalam ayat-ayat al-Qur’ân dan hadits-hadits shahih dari Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Iman kepada hari akhir atau hari kemudian merupakan salah satu rukun iman yang wajib diyakini oleh setiap yang beriman kepada Allâh Azza wa Jalla dan kebenaran agama-Nya.

Bahkan karena tingginya kedudukan iman kepada hari akhir, dalam banyak ayat al-Qur’an Allâh Azza wa Jalla sering menggandengkan antara iman kepada Allâh Azza wa Jalla dan iman kepada hari akhir. Karena orang yang tidak beriman kepada hari akhir maka tidak mungkin dia beriman kepada Allâh Azza wa Jalla . Oleh sebab itu, orang yang tidak beriman kepada hari akhir dia tidak akan mengerjakan amal shaleh. Karena seseorang tidak akan mengerjakan amal shaleh kecuali dengan mengharapkan balasan kemuliaan dan juga terdorong rasa takut terhadap siksaan-Nya pada hari pembalasan kelak.

Oleh karena itu, Allâh Azza wa Jalla menggambarkan sifat orang-orang yang tidak beriman kepada hari akhir dalam firman-Nya :

وَقَالُوا مَا هِيَ إِلَّا حَيَاتُنَا الدُّنْيَا نَمُوتُ وَنَحْيَا وَمَا يُهْلِكُنَا إِلَّا الدَّهْرُ

Dan mereka berkata, “Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup, dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa (waktu)”[al-Jâtsiyah/45 :24][1]


Kewajiban Mengimani Keberadaan Telaga Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam
Di antara perkara yang wajib diimani sehubungan dengan iman kepada hari akhir adalah keberadaan al-haudh (telaga) Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai kemuliaan yang Allâh Azza wa Jalla berikan kepada beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Pada hari kiamat nanti orang-orang yang beriman dan mengikuti petunjuk beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam kehidupannya di dunia, mereka akan mendatangi dan meminum air telaga yang penuh kemuliaan tersebut. Semoga Allâh Azza wa Jalla memudahkan kita untuk meraih kemuliaan tersebut, amin.

Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah berkata, “(Termasuk landasan pokok Islam adalah kewajiban) mengimani (keberadaan) telaga milik Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada hari kiamat, yang nanti akan didatangi oleh umat beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam … sebagaimana yang disebutkan dalam banyak hadits yang shahih (dari Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam )”[2].

Imam Abu Ja’far ath-Thahawi berkata, “al-Haudh (telaga) yang dengannya Allâh Subhanahu wa Ta’ala memuliakan Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , untuk diminum (airnya) oleh umat beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam (pada hari kiamat nanti) adalah hak (benar adanya)”[3]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah ketika menjelaskan perkara-perkara yang wajib diimani pada hari kiamat, beliau berkata[4], “Pada hari kiamat (ada) telaga Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang akan didatangi (oleh umat beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam ) … barangsiapa meminum (air) telaga tersebut maka dia tidak akan merasakan haus lagi selamanya”[5]

Imam an-Nawawi rahimahullah mencantumkan hadits-hadits dalam Shahîh Imam Muslim” yang menyebutkan tentang telaga Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam bab, “Penetapan (keberadaan) telaga Nabi kita (Muhammad) Shallallahu ‘alaihi wa sallam (pada hari kiamat nanti)…”[6].


Dalil-Dalil yang Menjelaskan Keberadaan Telaga Raasulullah Shallallahu ‘Alaiahi wa Sallam.

Hadits-hadits shahih dari Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menjelaskan ini banyak sekali, bahkan mencapai derajat mutawatir (diriwayatkan dari banyak jalan sehingga tidak mungkin diingkari kebenarannya).

Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Penjelasan tentang telaga Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam – semoga Allâh memudahkan kita meminum dari telaga tersebut pada hari kiamat – (yang disebutkan) dalam hadits-hadits yang telah dikenal dan (diriwayatkan) dari banyak jalur yang kuat, meskipun ini tidak disukai oleh orang-orang ahlul bid’ah yang berkeraskepala menolak dan mengingkari keberadaan telaga ini …”[7].

Senada dengan ucapan di atas, imam Ibnu Abil ‘Izzi al-Hanafi rahimahullah menjelaskan, “Hadits-hadits (shahih) yang menyebutkan (keberadaan) telaga Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam mencapai derajat mutawatir, diriwayatkan oleh lebih dari tiga puluh orang sahabat Radhiyallahu anhum (dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam)…”[8].

Di antara hadits-hadits tersebut adalah sabda Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

إِنَّ لِكُلِّ نَبِيٍّ حَوْضًا وَإِنَّهُمْ يَتَبَاهَوْنَ أَيُّهُمْ أَكْثَرُ وَارِدَةٍ وَإِنِّي أَرْجُوْ اللهَ أَنْ أَكُوْنَ أَكْثَرَهُمْ وَارِدَةً

Sesungguhnya setiap Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki telaga (pada hari kiamat nanti), dan mereka saling membanggakan siapa di antara mereka yang paling banyak orang yang mendatangi telaganya (dari umatnya). Dan sungguh aku berharap (kepada Allâh Azza wa Jalla ) bahwa akulah yang paling banyak orang yang mendatangi (telagaku)[9].

Juga sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits lain :

إِنَّي فَرَطٌ لَكُمْ وَأَنَا شَهِيْدٌ عَلَيْكُمْ وَإِنِّي وَاللهِ لَأَنْظُرُ إِلَى حَوْضِي الآنَ

Sesungguhnya aku akan berada di depan kalian (ketika mendatangi telaga pada hari kiamat nanti) dan aku akan menjadi saksi bagi kalian, demi Allâh, sungguh aku sedang melihat telagaku saat ini.[10]

Dan sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam , yang artinya, “Sesungguhnya aku akan berada di depan kalian ketika mendatangi telaga (pada hari kiamat nanti), barangsiapa yang mendatanginya maka dia akan meminum airnya, dan barangsiapa yang meminumnya maka dia tidak akan merasakan haus lagi selamanya.”[11]


Gambaran Tentang Telaga Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam Dalam Hadits-Hadits yang Shahih.

  • Barangsiapa meminum air telaga tersebut maka dia tidak akan merasakan haus lagi selamanya, sebagaimana dijelaskan dalam hadits tersebut di atas.
  • Sumber air telaga tersebut adalah sungai al-Kautsar di surga yang Allâh Azza wa Jalla peruntukkan bagi Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , sebagaimana sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

هَلْ تَدْرُوْنَ مَا الْكَوْثَرُ ؟ قُلْنَا اللهُ وَرَسُوْلُهُ أَعْلَمُ . قَالَ وَإِنَّهُ نَهْرٌ وَعَدَنِيْهِ رَبِّي عَلَيْهِ خَيْرٌ كَثِيْرٌ هُوَ حَوْضٌ تَرِدُ عَلَيْهِ أُمَّتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Apakah kalian mengetahui apa al-Kautsar itu? Para sahabat menjawab, “Allâh dan Rasul-Nya yang lebih mengetahuinya.” Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Sesungguhnya al-Kautsar adalah sungai yang Allâh Azza wa Jalla janjikan kepadaku, padanya terdapat banyak kebaikan, dan (airnya akan mengalir ke) telagaku yang akan didatangi oleh umatku pada hari kiamat (nanti) …[12]

Dalam hadits lain beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya, “Dialirkan pada telaga itu dua saluran air yang (bersumber) dari (sungai al-Kautsar) di surga …[13]

  • Adapun gambaran air telaga tersebut adalah sebagaimana sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

مَاؤُهُ أَبْيَضُ مِنَ اللَّبَنِ، وَرِيحُهُ أَطْيَبُ مِنَ المِسْكِ

Airnya lebih putih dari susu dan baunya lebih harum dari (minyak wangi) misk (kesturi)[14]

Dalam hadits lain beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya, “Dan (rasanya) lebih manis dari madu[15].

  • Gayung dan timba untuk mengambil air telaga tersebut sebagaimana sabda Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

وَكِيزَانُهُ كَنُجُومِ السَّمَاءِ

Gayung-gayungnya adalah seperti bintang-bintang di langit[16].

Artinya: jumlahnya sangat banyak dan berkilauan seperti bintang-bintang di langit[17].

  • Bentuk telaga tersebut adalah persegi empat sama sisi[18], sebagaimana yang disebutkan dalam hadits yang shahih.[19]


Siapakah Orang-Orang yang Mendatangi Telaga Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam?
Mereka adalah orang-orang yang beriman kepada Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan selalu mengikuti petunjuk yang beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam sampaikan, adapun orang-orang yang berpaling dari petunjuk beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam sewaktu mereka masih hidup di dunia, maka mereka akan diusir dari telaga tersebut.[20]

Dalam sebuah hadits shahih Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa ada orang-orang yang terhalangi dan diusir dari telaga yang penuh kemuliaan ini[21]. Karena mereka sewaktu di dunia berpaling dari petunjuk dan sunnah Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada pemahaman dan perbuatan bid’ah. Sehingga di akhirat mereka dihalangi dari kemuliaan meminum air telaga Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini, sebagai balasan yang sesuai dengan perbuatan mereka[22].

Imam Ibnu Abdil Barr[23] rahimahullah berkata, “Semua orang yang melakukan perbuatan bid’ah yang tidak diridhai Allâh Azza wa Jalla dalam agama ini akan diusir dari telaga Rasululah Shallallahu ‘alaihi wa sallam (pada hari kiamat nanti), dan yang paling parah di antara mereka adalah orang-orang (ahlul bid’ah) yang menyelisihi (pemahaman) jamâ’ah kaum Muslimin, seperti orang-orang Khawarij, Syi’ah rafidhah dan para pengikut hawa nafsu. Demikian pula orang-orang yang berbuat zhalim, yang melampaui batas dalam kezhaliman dan menentang kebenaran, serta orang-orang yang melakukan dosa-dosa besar secara terang-terangan. Mereka semua ini dikhawatirkan termasuk orang-orang yang disebutkan dalam hadits ini (yang diusir dari telaga Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam)[24].

Terlebih lagi orang-orang yang mengingkari keberadaan telaga Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini, seperti kelompok Mu’tazilah [25], mereka termasuk orang yang paling terancam diusir dari telaga ini.

Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Penjelasan tentang telaga Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam – semoga Allâh memudahkan kita meminum dari telaga tersebut pada hari kiamat – (yang disebutkan) dalam hadits-hadits yang telah dikenal dan (diriwayatkan) dari banyak jalur yang kuat, meskipun ini tidak disukai oleh orang-orang ahlul bid’ah yang berkeraskepala menolak dan mengingkari keberadaan telaga ini. Mereka inilah yang paling terancam untuk dihalangi (diusir) dari telaga tersebut (pada hari kiamat) [26], sebagaimana ucapan salah seorang ulama salaf, “Barangsiapa yang mendustakan (mengingkari) suatu kemuliaan maka dia tidak akan mendapatkan kemuliaan tersebut…”[27].

Imam Ibnu Abil ‘Izzi al-Hanafi rahimahullah berkata, “Semoga Allâh membinasakan orang-orang yang mengingkari keberadaan telaga ini, dan alangkah pantasnya mereka ini untuk dihalangi dari mendatangi telaga tersebut pada hari (ketika manusia mengalami) dahaga yang sangat berat (hari kiamat)”[28]

Penutup
Demikianlah penjelasan ringkas tentang telaga kemuliaan Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang kewajiban mengimaninya merupakan perkara penting yang berhubungan dengan iman kepada hari akhir dan merupakan salah satu prinsip dasar akidah Ahlus sunnah wal jamaah, yang tercantum dalam kitab-kitab akidah para imam Ahlus sunnah.

Semoga Allâh Azza wa Jalla senantiasa melimpahkan taufik-Nya kepada kita semua untuk dapat meraih semua kebaikan dan kemuliaan yang dijanjikan-Nya di dunia dan di akhirat kelak, sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar, Maha Dekat, dan Maha Mengabulkan doa.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 12/Tahun XV/1433H/2012M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]


https://almanhaj.or.id/24122-telaga-kemuliaan-rasulullah-pada-hari-kiamat.html






Penjelasan Tentang Syafaat, Syarat-Syarat, dan Siapa yang Akan Mendapatkannya (Bagian Kedua)

 Penjelasan Tentang Syafaat, Syarat-Syarat, dan Siapa yang Akan Mendapatkannya (Bagian Kedua)

 
Serial Kajian Kitabut Tauhid bagian ke-62
Bab ke-17:
Syafaat di Kehidupan Akhirat
Penyebutan syafaat di kehidupan akhirat dalam Al Quran terbagi menjadi 2 jenis, yaitu syafaat yang ditiadakan (manfiyyah) dan syafaat yang ditetapkan ada (mutsbatah).
Al-Quran menyebutkan bahwa di akhirat orang-orang tertentu tidak akan mendapatkan syafaat. Disebutkan ayat-ayat yang meniadakan adanya syafaat (manfiyyah). Seperti contoh ayat-ayat berikut ini:
وَاتَّقُوا يَوْمًا لَا تَجْزِي نَفْسٌ عَنْ نَفْسٍ شَيْئًا وَلَا يُقْبَلُ مِنْهَا شَفَاعَةٌ وَلَا يُؤْخَذُ مِنْهَا عَدْلٌ وَلَا هُمْ يُنْصَرُونَ
Dan jagalah dirimu dari azab hari kiamat yang pada hari itu seseorang tidak dapat membela orang lain walau sedikitpun; dan begitu pula tidak diterima syafa’at dan tebusan dari padanya dan tidaklah mereka akan ditolong (Q.S al-Baqoroh ayat 48)
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا أَنْفِقُوا مِمَّا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ يَوْمٌ لَا بَيْعٌ فِيهِ وَلَا خُلَّةٌ وَلَا شَفَاعَةٌ وَالْكَافِرُونَ هُمُ الظَّالِمُونَ
Wahai orang-orang yang beriman, berinfaqlah dari apa yang Kami rezekikan kepada kalian sebelum datangnya hari (kiamat) yang tidak ada jual beli padanya, tidak ada persaudaraan, dan tidak ada syafaat. Dan orang-orang kafir itu adalah orang-orang yang dzhalim (Q.S al-Baqoroh ayat 254)
Syafaat yang ditiadakan ini adalah syafaat yang diminta kepada selain Allah, yang tidak mampu memberikannya kecuali hanya Allah.
Dalam al-Quran juga disebutkan syafaat yang ditetapkan. Yaitu syafaat yang bisa diperoleh dengan syarat-syarat yang harus dipenuhi.

Syarat-syarat Syafaat
1. Allah meridhai pemberi syafaat
2. Allah meridhai pihak yang diberi syafaat
3. Izin dari Allah dalam pemberian syafaat itu

Ketiga poin di atas dijelaskan oleh Syaikh Ibn Utsaimin.

Dalil-dalil yang menunjukkan ketiga syarat itu adalah:

يَوْمَئِذٍ لَا تَنْفَعُ الشَّفَاعَةُ إِلَّا مَنْ أَذِنَ لَهُ الرَّحْمَنُ وَرَضِيَ لَهُ قَوْلًا

Pada hari itu tidaklah bermanfaat syafaat kecuali bagi pihak yang diizinkan oleh arRahmaan (Allah) dan Dia meridhai ucapannya (Q.S Thoha ayat 109)

وَكَمْ مِنْ مَلَكٍ فِي السَّمَاوَاتِ لَا تُغْنِي شَفَاعَتُهُمْ شَيْئًا إِلَّا مِنْ بَعْدِ أَنْ يَأْذَنَ اللَّهُ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَرْضَى

Dan berapa banyak Malaikat di langit yang tidak bisa memberi syafaat kecuali setelah diizinkan Allah bagi pihak yang dikehendakiNya dan diridhai (Q.S anNajm ayat 26)

Syafaat itu hanya milik Allah semata, maka tidaklah bisa diminta kepada selainNya:

قُلْ لِلَّهِ الشَّفَاعَةُ جَمِيعًا

Katakanlah: hanya milik Allahlah syafaat seluruhnya… (Q.S az-Zumar ayat 44)

Kaum Musyrikin Berharap Agar Sesembahannya Bisa Memberi Syafaat untuk Mereka Di Sisi Allah

وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَؤُلَاءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللَّهِ

Dan mereka menyembah selain Allah yang tidak memberi kemudharatan kepada mereka dan tidak juga memberi manfaat kepada mereka. Dan mereka (orang-orang musyrik itu) berkata: Sesembahan-sesembahan ini adalah pemberi-pemberi syafaat kami di sisi Allah (Q.S Yunus ayat 18)

Ibnu Katsir rahimahullah menyatakan:

(Allah) Ta’ala mengingkari kaum musyrikin yang menyembah bersama Allah sesembahan lain, mereka menyangka bahwa sesembahan-sesembahan itu bisa bermanfaat syafaatnya di sisi Allah, maka Allah Ta’ala mengkhabarkan bahwasanya sesembahan itu tidak bisa memberi manfaat atau menimbulkan kemudharatan dan tidak memiliki (kekuasaan) sedikitpun. Tidak akan terjadi seperti yang mereka sangka, dan itu tidak akan pernah terjadi selamanya

Tafsir al-Qur’aanil Adzhiim (4/356)

Syafaat Hanya Diberikan Untuk Orang yang Mentauhidkan Allah

أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ خَالِصًا مِنْ قِبَلِ نَفْسِهِ

Manusia yang paling berbahagia dengan mendapatkan syafaatku pada hari kiamat adalah barangsiapa yang mengucapkan Laa Ilaaha Illallah secara ikhlas dalam hatinya (H.R al-Bukhari dari Abu Hurairah)

لِكُلِّ نَبِيٍّ دَعْوَةٌ مُسْتَجَابَةٌ فَتَعَجَّلَ كُلُّ نَبِيٍّ دَعْوَتَهُ وَإِنِّي اخْتَبَأْتُ دَعْوَتِي شَفَاعَةً لِأُمَّتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَهِيَ نَائِلَةٌ إِنْ شَاءَ اللَّهُ مَنْ مَاتَ مِنْ أُمَّتِي لَا يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا

Setiap Nabi memiliki doa yang mustajabah. Setiap Nabi (terdahulu) telah menyegerakan doanya. Aku simpan doaku sebagai syafaat bagi umatku pada hari kiamat, dan itu bisa didapatkan insyaAllah oleh orang dari umatku yang meninggal tidak mensekutukan Allah dengan suatu apapun. (H.R al-Bukhari dan Muslim, lafadz berdasarkan riwayat Muslim)

Maka jika seseorang menginginkan syafaat dari Rasulullah shollallahu alaihi wasallam di akhirat, tauhidkan Allah. Jangan jadikan Rasul sebagai tandingan bagi Allah. Jangan beribadah kepada Nabi, tapi beribadahlah hanya kepada Allah. Cintailah Nabi karena Allah, jangan mencintai beliau sebagai tandingan terhadap Allah.

Penulis: Abu Utsman Kharisman








Kunci Surga dan Geriginya (Syarat-syarat Laa Ilaaha Illallaah)

 Kunci Surga dan Geriginya (Syarat-syarat Laa Ilaaha Illallaah)

 
Wahb bin Munabbih rahimahullah pernah ditanya: Bukankah kunci surga adalah Laa Ilaaha Illallaah? Beliau menjawab: Ya. Tapi setiap kunci pasti memiliki geriginya. Jika engkau memiliki kunci dengan gerigi yang tepat maka pintu itu akan terbuka, namun jika gerigi kunci itu tidak tepat, maka pintu itu tidak akan terbuka (Hilyatul Awliyaa’ 4/66, at Taarikhul Kabiir 1/95).
Wahb bin Munabbih adalah salah seorang tabi’i. Beliau murid beberapa orang Sahabat Nabi seperti Ibnu Abbas, Abu Hurairah, Abu Sa’id al-Khudriy, anNu’man bin Basyir, Jabir bin Abdillah, dan Ibnu Umar. Al-Imam al-Bukhari meriwayatkan hadits yang melalui jalur Wahb bin Munabbih tidak kurang dalam 2 riwayat, sedangkan al-Imam Muslim meriwayatkan tidak kurang 4 hadits.
Makna ucapan dari Wahb bin Munabbih di atas adalah: tidak cukup bagi seseorang sekedar mengucapkan Laa Ilaaha Illallaah. Ia harus menjalankan konsekuensi/ syarat dari ucapan itu. Konsekuensi/ syarat dari ucapan Laa Ilaaha Illallah adalah ibarat gerigi bagi sebuah kunci. Benar bahwa Laa Ilaaha Illallah adalah kunci surga, namun konsekuensi yang dijalankan setelah mengucapkan Laa Ilaaha Illallah adalah gerigi yang menentukan apakah pintu (surga) itu terbuka atau tidak.
Al-Hasan al-Bashri rahimahullah pernah bertanya kepada seseorang: Apa yang engkau persiapkan untuk kematian? Orang itu mengatakan: persaksian (syahadat) Laa Ilaaha Illallah. Al-Hasan al-Bashri menyatakan: Sesungguhnya bersama persaksian itu ada syarat-syarat (yang harus dipenuhi) (Siyaar A’laamin Nubalaa’ [4/584]).
Al-Hasan al-Bashri adalah seorang tabi’i. Beliau murid dari beberapa orang Sahabat Nabi seperti Anas bin Malik, Ibnu Abbas, Imron bin Hushain, al-Mughiroh bin Syu’bah, Jabir.
Para Ulama’ setelahnya kemudian mengumpulkan dalil-dalil dan merangkumnya dalam penjelasan tentang apa saja syarat-syarat yang terkandung dalam Laa Ilaaha Illallah. Syarat-syarat tersebut harus terpenuhi sebagaimana diibaratkan sebagai gerigi dalam kunci untuk membuka pintu surga.
Syarat-syarat Laa Ilaaha Illallah
Syarat-syarat Laa Ilaaha Illallah ada 7, yaitu:
1. Mengetahui maknanya (al-‘Ilmu)
2. Yakin dan tidak ragu akan kandungan maknanya (al-Yaqiin)
3. Menerima konsekuensi dari ucapan Laa Ilaaha Ilallaah dengan lisan dan hatinya serta tidak menolaknya (al-Qobuul)
4. Tunduk terhadap perintah dan larangan yang terkandung dalam Laa Ilaaha Illallah dan berserah diri kepada Allah (al-Inqiyaad)
5. Jujur dalam mengucapkan Laa Ilaaha Illallaah (as-Shidq). Sesuai antara apa yang diucapkan dengan yang diyakini dalam hati serta menjalankan konsekuensinya
6. Ikhlas dalam mengucapkannya karena Allah (al-Ikhlash)
7. Cinta terhadap kandungan yang terdapat dalam Laa Ilaaha Illallah (al-Mahabbah).
Berikut ini akan disebutkan dalil-dalil dan penjelasan terhadap ke-7 syarat tersebut:
Pertama: al-Ilmu, mengetahui kandungan makna Laa Ilaaha Illallah.
Seseorang muslim harus mengetahui makna Laa Ilaaha Illallaah. Allah memerintahkan dalam al-Quran untuk mengetahui makna Laa Ilaaha Illallah tersebut:
فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ
“Ketahuilah, bahwasanya tidak ada Ilaah (sesembahan yang haq) kecuali Allah…”(Q.S Muhammad: 19)
Sangat disayangkan ketika sebagian besar saudara kita muslim masih belum mengerti dan memahami makna Laa Ilaaha Illallah. Makna Laa Ilaaha Illallah sebenarnya juga terkandung dalam bacaan dzikir yang disunnahkan untuk dibaca setiap selesai sholat fardlu:
… لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَلَا نَعْبُدُ إِلَّا إِيَّاهُ…
…Laa Ilaaha Illallaah, dan kami tidak menyembah (beribadah)) kecuali hanya kepadaNya…(H.R Muslim dari Abdullah bin az-Zubair).
Itu menunjukkan bahwa ucapan Laa Ilaaha Illallah maknanya adalah tidak ada sesembahan yang haq kecuali Allah. Segala macam bentuk ibadah hanya boleh dipersembahkan untuk Allah semata, tidak boleh diberikan kepada selain-Nya.
Kedua: al-yaqiin, yakin dan tidak ragu terhadap kandungan makna yang terdapat di dalamnya.
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا
“Hanyalah orang-orang yang beriman itu adalah orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian tidak ragu…”(Q.S al-Hujuraat:15)
Ketiga: al-Qobuul, menerima dengan sepenuh hati tidak bersikap sombong dengan menolaknya. Bersedia menjalankan konsekuensinya.
Sikap orang yang beriman berbeda dengan orang-orang kafir yang ketika disampaikan kepadanya Laa Ilaaha Illallah, mereka bersikap sombong (takabbur).
إِنَّهُمْ كَانُوا إِذَا قِيلَ لَهُمْ لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ يَسْتَكْبِرُونَ
“Sesungguhnya mereka (orang-orang musyrikin) jika dikatakan kepada mereka Laa Ilaaha Illallaah, mereka menyombongkan diri”. (Q.S as-Shaffaat: 35)
Orang-orang musyrikin Arab sangat paham dengan makna Laa Ilaaha Illallah. Mereka tahu bahwa jika mereka mengucapkannya, mereka harus meninggalkan seluruh sesembahan selain Allah yang sebelumnya mereka sembah. Mereka tidak mau melakukan konsekuensi itu sebagai bentuk kesombongan.
Orang-orang musyrikin Arab tersebut menganggap dakwah Nabi itu sebagai sesuatu yang aneh. Mereka mengatakan:
أَجَعَلَ الْآَلِهَةَ إِلَهًا وَاحِدًا إِنَّ هَذَا لَشَيْءٌ عُجَابٌ
“Apakah dia (Muhammad) menjadikan sesembahan-sesembahan itu hanya satu saja? Sungguh itu adalah suatu hal yang mengherankan!” (Q.S Shood: 5)
Hal ini menunjukkan bahwa konsekuensi dari ucapan Laa Ilaaha Illallah adalah meninggalkan sesembahan-sesembahan lain selain Allah.
مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَكَفَرَ بِمَا يُعْبَدُ مِنْ دُونِ اللَّهِ حَرُمَ مَالُهُ وَدَمُهُ وَحِسَابُهُ عَلَى اللَّهِ
“Barangsiapa yang mengucapkan Laa Ilaaha Illallaah dan mengkufuri segala yang disembah selain Allah, maka haramlah harta dan darahnya, serta perhitungannya diserahkan kepada Allah” (H.R Muslim)
Keempat: al-Inqiyaad, tunduk patuh dan berserah diri kepada Allah.
وَمَنْ يُسْلِمْ وَجْهَهُ إِلَى اللَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى
“dan barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah sedangkan ia berbuat kebaikan, maka sesungguhnya ia telah berpegang dengan buhul tali yang kokoh” (Q.S Luqman: 22)
Buhul tali yang kokoh itu ditafsirkan oleh Sahabat Nabi Ibnu Abbas sebagai Laa Ilaaha Illallah (Tafsir atThobary)
Kelima: as-Shidq, Jujur, tidak mengandung kedustaan
مَا مِنْ أَحَدٍ يَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ صِدْقًا مِنْ قَلْبِهِ إِلَّا حَرَّمَهُ اللَّهُ عَلَى النَّارِ
“Tidaklah ada seseorang yang bersaksi bahwa tidak ada Ilah (sesembahan yang haq) kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah Rasulullah, jujur dari hatinya, kecuali Allah akan haramkan ia dari anNaar (neraka)”. (H.R al-Bukhari dari Anas bin Malik)
Sebaliknya, orang munafik hanya mengucapkan secara lisan namun tidak jujur dalam hatinya. Hatinya mengingkarinya.
…يَقُولُونَ بِأَفْواهِهِمْ مَا لَيْسَ فِي قُلُوبِهِمْ وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا يَكْتُمُونَ…
“…mereka (kaum munafikin) mengucapkan dengan mulut mereka apa yang tidak terdapat dalam hati mereka, dan Allah Paling Mengetahui apa yang mereka sembunyikan”. (Q.S Ali Imran: 167).
Keenam: Ikhlas dalam mengucapkannya, hanya karena Allah
فَإِنَّ اللَّهَ قَدْ حَرَّمَ عَلَى النَّارِ مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ يَبْتَغِي بِذَلِكَ وَجْهَ اللَّهِ
“Sesungguhnya Allah mengharamkan dari neraka orang yang mengucapkan Laa Ilaaha Illallah, (hanya) mengharapkan Wajah Allah (ikhlas)”. (H.R al-Bukhari dan Muslim dari ‘Itban bin Malik)
Orang beriman mengucapkan dan menjalankan konsekuensi Laa Ilaaha Illallah dengan ikhlas karena Allah semata, sedangkan orang munafik mengucapkannya hanya untuk kepentingan duniawi.
Ketujuh: al-Mahabbah (Mencintai Laa Ilaaha Illallah, dan mencintai orang-orang yang menjalankan syarat-syaratnya).
Konsekuensi dari mengucapkan Laa Ilaaha Illallah adalah mencintai Ahlul Iman/ Ahlut Tauhid dan membenci kesyirikan, kekufuran dan orang-orangnya. Mencintai Allah di atas segala-galanya. Mencintai karena Allah dan membenci karena Allah.
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ وَالَّذِينَ آَمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ
“Dan di antara manusia, ada yang menjadikan tandingan-tandingan dari selain Allah yang mereka mencintainya sebagaimana kecintaan mereka kepada Allah. Sedangkan orang yang beriman lebih tinggi kecintaannya kepada Allah…”. (Q.S al-Baqoroh:165)
لَا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آَبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ أُولَئِكَ كَتَبَ فِي قُلُوبِهِمُ الْإِيمَانَ وَأَيَّدَهُمْ بِرُوحٍ مِنْهُ وَيُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ أُولَئِكَ حِزْبُ اللَّهِ أَلَا إِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
“Tidaklah engkau dapati suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhir mencintai orang-orang yang memusuhi Allah dan RasulNya walaupun orang itu adalah ayah, anak, saudara laki-laki, atau karib kerabat mereka. Mereka itu adalah orang-orang yang Allah tetapkan iman dalam hatinya dan Allah kuatkan mereka dengan pertolongan yang datang dariNya. Dan Allah memasukkan mereka ke dalam surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya. Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepadaNya. Mereka adalah golongan Allah. Ketahuilah sesungghnya golongan Allah adalah orang-orang yang beruntung”. (Q.S al-Mujaadilah: 22)
Penulis: Abu Utsman Kharisman
https://itishom.org/blog/artikel/tauhid/kunci-surga-dan-geriginya-syarat-syarat-laa-ilaaha-illallaah



Postingan Populer

Postingan Populer