Sabtu, 30 Agustus 2025

Allah akan berikan pemimpin yang sesuai dengan rakyatnya

 

 Allah akan berikan pemimpin yang sesuai dengan rakyatnya

بسم الله الرحمن الرحيم

🍂" Jika ingin menyalahkan jeleknya kepemimpinan pemimpin, maka rakyatnyalah yang lebih dahulu mengintropeksi diri. Karena pemimpin adalah cerminan dari rakyatnya. 

Ibnu Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah berkata (yg artinya) :

“Renungkanlah hikmah Allah Ta’ala dalam keputusan-Nya memilih para raja, pemimpin dan pelindung umat manusia adalah sama dengan amalan rakyatnya bahkan perbuatan rakyat seakan-akan adalah cerminan dari pemimpin dan penguasa mereka. 

Jika rakyat lurus, maka akan lurus juga penguasa mereka. Jika rakyat adil, maka akan adil pula penguasa mereka. 

Namun, jika rakyat berbuat zholim, maka penguasa mereka akan ikut berbuat zholim. 

Jika tampak tindak penipuan di tengah-tengah rakyat, maka demikian pula hal ini akan terjadi pada pemimpin mereka. 

Jika rakyat menolak hak-hak Allah dan enggan memenuhinya, maka para pemimpin juga enggan melaksanakan hak-hak rakyat dan enggan menerapkannya. 

Jika dalam muamalah rakyat mengambil sesuatu dari orang-orang lemah, maka pemimpin mereka akan mengambil hak yang bukan haknya dari rakyatnya serta akan membebani mereka dengan tugas yang berat. 

Setiap yang rakyat ambil dari orang-orang lemah maka akan diambil pula oleh pemimpin mereka dari mereka dengan paksaan.

Dengan demikian setiap amal perbuatan rakyat akan tercermin pada amalan penguasa mereka. Berdasarkah hikmah Allah, seorang pemimpin yang jahat dan keji hanyalah diangkat sebagaimana keadaan rakyatnya..” 

[Miftah Daris Sa’adah hal. 253, Darul Kutub Al-‘Ilmiyyah, Beirut, Syamilah]

✍️ Ustadz dr. Raehanul Bahraen, M.Sc., Sp.PK. hafizhahullahu ta’ala 

‎‎
𝗟𝗔𝗥𝗔𝗡𝗚𝗔𝗡 𝗠𝗘𝗡𝗚𝗞𝗛𝗜𝗔𝗡𝗔𝗧𝗜 𝗞𝗘𝗣𝗘𝗥𝗖𝗔𝗬𝗔𝗔𝗡
‎Allah 'azza wa jalla berfirman:
"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu berkhianat kepada Allah dan Rasul, dan janganlah kamu berkhianat terhadap amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahuinya."
(‎QS. Al-Anfal: 27)

💦 KEKOKOHAN IMAM AHMAD MEMEGANG PRINSIP TAAT KEPADA PENGUASA (DALAM HAL YANG MAKRUF) SEKALIPUN FAJIR 🍃

https://www.facebook.com/share/p/16qgPibeAy/

Hanbal rahimahullah - salah satu murid al-Imam Ahmad - menceritakan :
"Para ahli fiqih di Baghdad berkumpul menemui Abu Abdilllah - yakni al-Imam Ahmad - terkait kepemimpinan al-Watsiq. Para ulama tersebut berkata : "sesungguhnya urusan dia sudah tersebar dan viral, - yakni maksud mereka kampanye Al-Qur`an makhluk dan penyimpangan lainnya (yang dilakukan oleh rezim al-Watsiq) - Kami sudah tidak rela lagi dengan kepemimpinan dan pemerintahannya".
Mereka mencoba bermusyawarah dengan Imam Ahmad (terkait langkah-langkah yang seharusnya diambil).
Al-Imam Ahmad berkata :

عَلَيْكُمْ بِالنَّكِرَةِ بِقُلُوبِكُمْ، وَلَا تَخْلَعُوا يَدًا مِنْ طَاعَةٍ، وَلَا تَشُقُّوا عَصَا الْمُسْلِمِينَ، وَلَا تَسْفِكُوا دِمَاءَكُمْ وَدِمَاءَ الْمُسْلِمِينَ مَعَكُمُ، انْظُرُوا فِي عَاقِبَةِ أَمْرِكُمْ، وَاصْبِرُوا حَتَّى يَسْتَرِيحَ بَرٌّ، أَوْ يُسْتَرَاحَ مِنْ فَاجِرٍ

"Wajib bagi kalian mengingkarinya dalam hati, janganlah kalian melepaskan tangan kalian dari ketaatan kepadanya, janganlah kalian mematahkan tongkatnya kaum muslimin, jangan biarkan darah kalian mengalir dan darah kaum muslimin yang bersama kalian, pikirkanlah baik-baik akibat jeleknya, bersabarlah sampai orang-orang yang baik beristirahat atau orang yang fajir tersebut diistirahatkan".
(Diriwayatkan oleh al-Kholaal dalam "as-Sunnah", I/133).

Dalam "al-Adab asy-Syariah", (I/175) tulisan Imam Ibnu Muflih terdapat tambahan :

وَقَالَ لَيْسَ هَذَا صَوَاب، هَذَا خِلَاف الْآثَار.

Lanjut Imam Ahmad : "hal ini - yakni melepaskan ketaatan kepadanya - tidaklah benar, ini menyelisihi atsar (Salafunaa shalih)".

Kekokohan beliau menjadi luar biasa, karena beliau juga sebagai korban kriminalisasi penguasanya pada waktu itu, namun prinsip akidah salafiyyah ini tetap dipegang teguh oleh beliau rahimahullah, sekalipun mendapatkan balasan kezaliman dari penguasanya.

Abu Sa'id Neno Triyono at-Tighali

Allaahu A'lam






بسم الله الرحمن الرحيم

🍂"  Jalan Sunnah dalam Menyikapi Penguasa yang Zalim

Dalam setiap masa, "fitnah" terhadap penguasa sering menjadi ujian besar bagi kaum muslimin. Banyak orang tergelincir dalam sikap yang salah akibat dorongan emosi, dan semangat yang tidak dibingkai dengan ilmu. 

Akhirnya, mereka meluapkan emosi mereka di mimbar-mimbar, podium podium, di berbagai pertemuan dan majelis, bahkan mereka turun ke jalan-jalan melakukan aksi protes yang anarkis dan berujung kepada seruan untuk melakukan pemberontakan dan pelengseran terhadap penguasa yang zalim!

Di tengah guncangan itu, para ulama rabbani senantiasa memberikan bimbingan agar umat tidak terjatuh ke dalam kesalahan yang membahayakan agama dan dunia mereka.

Salah satu nasihat berharga datang dari Imam al-Barbahariy -rahimahullah-, seorang ulama Ahlus Sunnah yang tegas dalam menjelaskan manhaj yang lurus. 

🟪 Imam al-Barbahariy -rahimahullah- berkata,

"ليس من السنة قتال السلطان، فإن فيه فساد الدين والدنيا."
~ شرح السنة (٥٨)

“Bukan termasuk sunnah, memerangi penguasa. Karena, di dalamnya terdapat kerusakan agama dan dunia.”
📙 ~ Syarh As-Sunnah (58)

Betapa indah dan bernilainya nasihat ini; ia mengajarkan kita bahwa kesabaran dan ketaatannya dalam mengikuti Sunnah, lebih menyelamatkan daripada jalan memberontak yang penuh darah dan kehancuran. 

Barangsiapa yang memelihara sikapnya sesuai tuntunan Sunnah, niscaya ia akan menjaga agamanya dari kerusakan dan menutup pintu fitnah yang merusak kehidupan dunia, bahkan agama!

🟣 Faedah dari Nasihat ini:

Berikut beberapa faedah yang dapat dipetik dari nasihat Imam al-Barbahariy -rahimahullah-:

1) Nasihat ini menunjukkan manhaj Ahlus Sunnah dalam menyikapi penguasa bahwa memerangi penguasa muslim, bukanlah jalan yang ditempuh oleh para ulama salaf, meskipun mereka zalim.

2) Larangan memberontak demi menjaga agama dan dunia. Karena, pemberontakan hanya menimbulkan pertumpahan darah, kerusakan, serta membuka pintu fitnah besar.

3) Kesabaran lebih utama daripada mengangkat senjata. Dalam menghadapi kezaliman, sabar dan nasihat secara bijak lebih bermanfaat daripada kekerasan yang merusak.

4) Menutup pintu fitnah. Dengan menahan diri dari memberontak, kaum muslimin terhindar dari fitnah yang bisa menghilangkan nikmat keamanan, ilmu, dan ibadah.

5) Arahan beliau ini menunjukkan kasih sayang ulama kepada umat. Ulama mengingatkan agar umat tidak memilih jalan yang merugikan mereka sendiri, baik dalam urusan agama, maupun kehidupan duniawi.

6) Nasihat ini menegaskan bahwa sunnah bukan hanya ibadah ritual, tetapi juga manhaj dalam berpolitik. Sunnah juga mencakup cara bersikap terhadap penguasa, sehingga orang yang menyelisihinya terjatuh pada bid‘ah.

7) Menjaga persatuan umat. Dengan tidak memerangi penguasa, kaum muslimin tetap berada dalam satu kepemimpinan sehingga terhindar dari perpecahan yang lebih besar. Ketika ada masalah, maka diselesaikan dengan kepala dingin dan hati tenang.
Cukuplah kita mengambil pelajaran dari negara-negara lain yang rakyatnya melakukan perlawanan dan pemberontakan; di mana rakyatnya setelah berhasil melakukan aksi demonstrasi dan berakibat menggulingkan pemerintah. 
Pada akhirnya, mereka menyesal dengan sebenar-benarnya penyesalan karena bukan kebaikan yang mereka dapatkan, akan tetapi kerusakan dan kehancuran negeri mereka, seperti yang terjadi di Libya!

Gowa, 06 Robi'ul Awwal 1447 Hijriyah 

✍ Ustadz Abdul Qodir Abu Fa'izah Al-Bughisiy -hafizhahullah-

Silahkan gabung di group WhatsApp MENGAJI QUR'ANSUNNAH7 👇🏻 


ARTIKEL



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Postingan Populer

Postingan Populer