Audio ke-122: Bab 08 Istiqamah ~ Pembahasan Surah Hud Ayat 112
══════════════════
السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّٰهِ وَبَرَكَاتُهُ
الْحَمْدُ لِلهِ ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى رَسُوْلِ اللّٰهِ
Segala puji bagi Allah Jalla Jalaluh (Allah yang Maha Agung dengan keagungan-Nya, -ed). Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan untuk Baginda Nabi kita Muhammad 'Alaihis-shalatu wassalam. Amma ba’du.
Kaum muslimin, khususnya anggota GiS -Grup Islam Sunnah- yang semoga dirahmati oleh Allah Jalla Jalaluh.
Kita masuk ke بَابُ الاسْتِقَامَةِ (Bab Al-Istiqamah).
Sering kali kita mendengar ucapan istiqamah. Bahkan banyak orang berdoa atau minta didoakan supaya terus istiqamah, yang artinya berada di jalan yang lurus, melaksanakan perintah Allah, menjaga ketaatan, menjauhi larangan, tidak berlebih-lebihan dalam beragama, tidak belok kanan-kiri, tapi lurus terus.
Di sini Al-Imam An-Nawawi menyebutkan beberapa ayat yang berkaitan dengan istiqamah.
Allah mengatakan:
{ فَٱسۡتَقِیمُوۤا۟ إِلَیۡهِ وَٱسۡتَغۡفِرُوهُۗ }
"Kalian beristiqamahlah menuju kepada Allah Jalla Jalaluh, kepada Tuhan yang satu,"
Kemudian Allah mengatakan:
{ وَٱسۡتَغۡفِرُوهُ }
"dan beristighfarlah kalian." (QS. Fushshilat: 6)
Ini sebagai pertanda bahwa seorang yang berusaha untuk istiqamah, dia tidak akan terlepas dari dosa. Ayat ini juga sebagai arahan agar seorang tidak sombong; agar manusia tidak merasa ujub, terheran-heran dengan dirinya yang melaksanakan ketaatan dengan baik, yang senantiasa shalat tepat waktu, yang senantiasa shalat ke masjid, yang telah bisa melaksanakan berpenampilan dengan penampilan yang islami. Maka dia harus tetap ingat, dia harus istighfar { وَٱسۡتَغۡفِرُوهُ }, karena tetap akan ada kekurangan yang muncul dari diri kita.
Thayyib. Ayat yang pertama adalah yang berada di surah Al-Hud ayat 112.
{ فَٱسۡتَقِمۡ كَمَآ أُمِرۡتَ وَمَن تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطۡغَوۡاْۚ إِنَّهُۥ بِمَا تَعۡمَلُونَ بَصِيرٌ }
"Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan juga orang yang telah bertaubat bersamamu. Dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan."
Subhanallah, Jama'ah.
Allah Jalla Jalaluh mengatakan:
{ فَٱسۡتَقِمۡ كَمَآ أُمِرۡتَ }
"Istiqamahlah engkau sebagaimana diperintahkan kepadamu"
Jadi tatkala bicara istiqamah, itu bukan sesuai keinginan kita. Kita bikin ibadah sendiri, kita bikin aturan sendiri, lalu kita istiqamah di atas jalan yang kita buat, bukan! Tapi Allah perintahkan:
{ فَٱسۡتَقِمۡ كَمَآ أُمِرۡتَ }
"Istiqamahlah engkau sesuai dengan yang diperintahkan kepadamu"
Sehingga seorang muslim yang melaksanakan perintah Allah, yang terkadang perintah Allah itu bertentangan dengan tradisi masyarakat, maka dia tetap dikatakan istiqamah, walaupun masyarakat mengatakan dia menyimpang. Orang-orang mengatakan, Oh, ini aliran menyimpang ini. Kenapa? Karena bertentangan dengan yang biasa dilakukan oleh masyarakat.
Tapi sejatinya, orang kalau mau istiqamah adalah sesuai dengan perintah Allah, tidak menambah dan tidak mengurangi.
{ كَمَآ أُمِرۡتَ وَمَن تَابَ مَعَكَ }
Perintah ini untuk Nabi 'Alaihis-shalatu wassalam. Bahkan Allah mengatakan:
{ وَلَوْلَآ أَن ثَبَّتْنَـٰكَ لَقَدْ كِدتَّ تَرْكَنُ إِلَيْهِمْ شَيْـًٔا قَلِيلًا }
"Kalau bukan Kami yang menetapkanmu (meneguhkanmu) di atas jalan itu, hampir saja engkau itu condong kepada orang-orang musyrikin." (QS. Al-Isra: 74)
Jadi kalau bicara istiqamah, kita itu bicara karunia. Artinya, Allah yang memberikan kepada kita istiqamah.
{ وَمَن تَابَ مَعَكَ }
Diperintahkan untuk istiqamah, orang-orang yang taubat bersama Nabi 'Alaihis-shalatu wassalam.
{ وَلَا تَطۡغَوۡاْۚ }
Dan jangan berlebih-lebihan, jangan melampaui batas, cukuplah melaksanakan perintah.
Umat Islam ini Jama'ah, kita lihat nih, akan ada banyak acara berkaitan dengan Asy-Syura, dengan 10 Muharram. Orang-orang Syiah akan mengadakan ritual, ritual mengingat kematian Husain, yang jelasnya kita tahu Husain meninggal setelah wafatnya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam, kira-kira pada tahun 60 Hijriyah.
Kemudian orang membuat ritual ibadah, padahal itu tidak pernah diajarkan oleh Nabi 'Alaihis-shalatu wassalam. Kita sedih dengan kematian Husain, dengan terbunuhnya Husain. Tapi bukan berarti kita diperbolehkan untuk membuat acara ratapan masal, sambil pukul-pukul, mengeluarkan darah di tubuhnya; bentuk bela sungkawa dengan Husain. Husain enggak butuh dengan itu. Dan syari'at juga tidak mengajarkan.
Jadi hendaklah kita belajar, apa sih yang kita lakukan pada 10 Asy-Syura (10 Muharram)? Yang sunnah, berpuasa. Ada hadits yang diperselisihkan tentang memberikan nafkah yang lebih banyak kepada keluarga, shadaqah, bertaubat. Itu mungkin amalan-amalan yang jumhur ulama dari kalangan mazhab itu memandangnya.
Tapi ada amalan lain, di antaranya bikin acara untuk anak-anak yatim mungkin; mereka mandi pada waktu itu, memotong kukunya; berziarah ke orang-orang, kepada para ulama; ada yang menghidupkan malamnya, ada juga yang membaca { قُلۡ هُوَ ٱللهُ أَحَدٌ } seribu kali.
Coba dilihat, apakah amalan-amalan tersebut memang benar-benar dianjurkan atau enggak? Kalau enggak, udah, enggak perlu kita melampaui batasan. Yang ada kita amalkan, yang ada kita jaga. Jangan sampai seperti orang yang sepanjang tahun enggak pernah shalat, kemudian di Asy-Syura, dia shalat dengan harapan dapat pahala sepanjang tahun.
Subhanallah.
{ إِنَّهُۥ بِمَا تَعۡمَلُونَ بَصِيرٌ }
"Allah itu Maha Mengetahui, Maha Melihat dengan apa yang kalian kerjakan."
Jadi ayat ini memerintahkan kepada kita untuk beristiqamah di atas perintah Allah sesuai dengan aturan Allah Jalla Jalaluh, dan supaya kita sadar bahwa kita dalam pengawasan Allah.
Jamaah rahimakumullah, itu yang bisa kita kaji. Semoga ilmu yang kita kaji hari ini berguna buat kita dan bisa kita amalkan dalam kehidupan kita. Dan semoga Allah menerima amalan kita. Sampai berjumpa kembali.
بَارَكَ اللهُ فِيْك
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّٰهِ وَبَرَكَاتُهُ
══════ ∴ |GiS| ∴ ══════
📣 Official Account Grup Islam Sunnah
🌏 Website GiS : https://grupislamsunnah.com
📱 Fanspage : https://facebook.com/grupislamsunnah
📷 Instagram : https://instagram.com/grupislamsunnah
📧 Telegram : https://t.me/grupislamsunnah
🎥 YouTube : https://youtube.com/@grupislamsunnahtv
📡 Info Kajian : https://t.me/InfoKajianSunnahGiS
Kaum muslimin, khususnya anggota GiS -Grup Islam Sunnah- yang semoga dirahmati oleh Allah Jalla Jalaluh.
Thayyib. Hadits yang selanjutnya.
وَعَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ : ❲ قَارِبُوْا وَسَدِّدُوْا ، وَاعْلَمُوْا أَنَّهُ لَنْ يَنْجُوَ أَحَدٌ مِنْكُمْ بِعَمَلِهِ ❳ ، قَالُوْا : وَلَا أَنْتَ يَا رَسُولَ اللهِ ؟! قَالَ : ❲ وَلاَ أَنَا ؛ إِلاَّ أنْ يَتَغَمَّدَنِيَ اللهُ بِرَحْمةٍ مِنْهُ وَفضْلٍ ❳ .❊ رَوَاهُ مُسْلِمٌ [٢٨١٦].
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu ia bercerita, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam pernah bersabda, "Usahakan bersikap lurus dan menepati yang benar, serta ketahuilah bahwa tidak ada seorang pun di antara kalian yang selamat dari siksa karena amal perbuatannya." Para sahabat bertanya, "Termasuk engkau wahai Rasulullah?" Beliau pun menjawab, "Termasuk aku juga, hanya saja Allah meliputi diriku dengan rahmat dan karunia-Nya."
(HR. Muslim)
Thayyib, Jamaah.
Rasul Shallallahu 'alaihi wasallam mengatakan,
❲ قَارِبُوْا وَسَدِّدُوْا ❳
Qaaribuu ( قَارِبُوْا ) dari asal kata al-qurb ( القُرْبُ ) yaitu "dekat". Kalau kita sedang memanah, kita lihat memanah itu ada beberapa warna, lingkaran yang berbeda warnanya. Kalau bisa kita itu menepati sasaran (tepat di sasaran). Itu harapannya. Tapi kalau enggak bisa, mendekati sasaran. Andai kita tetap berusaha untuk mendekati, mendekati, menepati sasaran tersebut. Begitulah dalam beragama. Kita berusaha untuk mendekati yang benar, kita berusaha untuk menepati sasaran, istiqamah di atas agama Allah ini. Tapi kita juga perlu tahu, bahwa manusia penuh dengan kekurangan, dia makhluk yang kodratnya berbuat salah.
Lalu Rasul Shallallahu 'alaihi wasallam menjelaskan, "Ketahuilah, enggak ada yang selamat di antara kalian dengan amalannya." Enggak ada! Lalu para sahabat mengatakan, "Engkau ya Rasulullah, gimana?" Yang ibadah sampai bengkak kakinya; yang kita tahu tentunya Nabi 'Alaihis-shalatu wassalam tepat sasaran dalam beribadah; istiqamah di atas agama Allah. Apakah Beliau juga tidak akan selamat dengan amalan yang Beliau lakukan selama hidupnya?
Maka Beliau Shallallahu 'alaihi wasallam mengatakan, " وَلاَ أَنَا (Aku pun tidak akan selamat dengan amalanku) إلاَّ (kecuali dalam satu kondisi) Allah membungkusku dengan rahmat-Nya dan karunia-Nya, baru masuk surga."
Para Jamaah, hadits ini adalah cemeti buat orang-orang yang sombong dengan amalannya, yang merasa sudah banyak amal saleh dia, yang merasa ketaatan dia lebih baik daripada orang lain, sehingga dia meremehkan ibadah orang lain dan berbangga dengan ibadahnya sendiri.
Ingat! Enggak ada yang masuk surga dengan amalannya, sebagai pengganti amalannya. Yang ada itu, kita masuk surga karena Allah kasihan sama kita. Allah kasihan sama kita, lalu Allah perbolehkan kita masuk surga. Bayangkan Nabi 'Alaihis-shalatu wassalam!
Jamaah, kalau kita sadar, Subhanallah, bahwasanya kita dijadikan orang Islam itu karunia Allah.
Pernah Bisyr Al-Hafi, dia pernah berdiri di pintu rumahnya habis Isya. Dia mau masuk rumah, tapi dia merenung di pintu itu sampai azan Subuh. Keluarganya bingung, Kenapa engkau?
"Iya, aku mikir dengan Bisyr an-Nashrani, Bisyr al-Yahudi, Bisyr al-Majusi. Ada orang yang namanya Bisyr tapi dia Nasrani; ada orang yang namanya Bisyr dia Yahudi, dia Majusi. Tapi Allah jadikan aku muslim." Sehingga dia sadar kalau ini benar-benar karunia Allah.
Sehingga kita ini bisa Islam, kita bisa shalat, kita bisa ibadah, itu benar-benar karunia Allah; bukan karena kitanya yang berhak, bukan! Kita pun bisa shalat karena Allah yang mengarahkan kepada kita. Kita pun bisa kenal sunnah dan kita mengamalkannya dalam kehidupan ini, kita sabar, itu juga Allah.
Maka, hadits ini peringatan buat kita semuanya. Jangan sombong dengan amalan!
Syaikh ibn Utsaimin rahimahullahu Ta'ala ditanya tentang hadits ini, bagaimana kaitannya dengan firman Allah yang berada di surat An-Nahl ayat 97.
{ مَنۡ عَمِلَ صَٰلِحًا مِّن ذَكَرٍ أَوۡ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤۡمِنٌ فَلَنُحۡيِيَنَّهُۥ حَيَوٰةً طَيِّبَةً وَلَنَجۡزِيَنَّهُمۡ أَجۡرَهُم بِأَحۡسَنِ مَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ }
"Barang siapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya Kami akan memberikan kepadanya kehidupan yang baik. Dan sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan."
Na'am. Artinya disebutkan di sini, amalan ternyata membuat mereka selamat dari api neraka. Amalan mereka itu dengan apa yang mereka amalkan, mereka mendapatkan surga Allah Jalla Jalaluh. Sedangkan Nabi 'Alaihis-shalatu wassalam menyebutkan, "Enggak ada yang masuk surga dengan amalannya."
Maka Syaikh ibn Utsaimin rahimahullahu Ta'ala menyebutkan, bahwa yang dinafikan itu masuk surga sebagai pengganti amalan. Itu yang dinafikan. Yang ditetapkan, amalan itu salah satu sebab orang itu masuk surga. Beliau mengatakan, sebab yang sebenarnya adalah rahmat Allah dan karunia-Nya bersama amalan yang dia lakukan. Jadi bukan pengganti amalan kita surga itu.
Oh.. karena kita beramal, kita berhak masuk surga, enggak! Semuanya dari Allah sebenarnya. Sehingga yang ada adalah ampunan Allah dan karunia-Nya yang mengantarkan seseorang ke dalam surga Allah Jalla Jalaluh.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar