Rabu, 27 Agustus 2025

Al-Wala’ wal Bara’ (BIMB ISLAM)

 

Al-Wala’ wal Bara’: Tegas dalam Prinsip, Bijak dalam Sikap

  • Al-wala’: Mencintai orang-orang beriman, loyal kepada mereka, dan menolong mereka.  
  • Al-bara’: Membenci orang-orang kafir, memusuhi mereka, serta berlepas diri dari mereka dan agama mereka yang batil.
  • Membela Muslim yang tertindas, walau secara pribadi kita tidak menyukainya. Karena wala’ kepada Muslim bersifat umum, bukan bergantung pada hubungan pribadi.
  • Loyal kepada Muslim meski berbeda organisasi atau kelompok. Kita mencintai sesama Muslim, meskipun berbeda mazhab atau ormas, selama aqidahnya lurus. Tidak membenci hanya karena beda komunitas.
  • Bersikap baik kepada non-Muslim tanpa mencintai agamanya. Misalnya, bertetangga dengan non-Muslim: kita berbuat baik, membantu saat butuh, tapi tetap tidak menyetujui atau membenarkan keyakinan syirik mereka.
  • Tidak mengikuti budaya kafir meski hidup berdampingan. Misalnya, bekerja di lingkungan non-Muslim, tetap menjaga identitas Muslim, tidak ikut merayakan Natal atau Tahun Baru, meskipun tetap bersikap sopan.
  • Menolak toleransi dalam hal aqidah, namun toleran dalam muamalah sosial. Misalnya tidak ikut perayaan agama lain, tapi tetap bersikap baik dan membantu tetangga beda agama dalam urusan dunia.
  • Memberi loyalitas (wala’) dalam hal ketaatan kepada perintah yang tidak melanggar syariat. Taat aturan, menjaga ketertiban, menghormati pemimpin, serta mendoakan kebaikan bagi mereka.
  • Tidak membenarkan kezaliman atau kemaksiatan yang mereka lakukan. Bila ada penyimpangan, tetap diingkari dengan cara yang syar’i: tanpa hasutan, provokasi, atau memberontak.
  • Tidak menjadikan loyalitas kepada pemerintah sebagai tolak ukur iman atau kufur. Wala’ kepada pemerintah bukan berarti membela segala hal tanpa batas, tapi tetap dalam kerangka agama.
  • Berlepas diri (barā’) dari kebijakan yang menyelisihi agama, tapi tidak keluar dari ketaatan umum. Misalnya, tidak ikut aturan zalim, tapi tidak pula membangkang atau merusak stabilitas negeri.

Di antara prinsip penting dalam akidah Islam yang sering dilupakan atau disalahpahami adalah al-walā’ wal-barā’—loyalitas dan berlepas diri karena Allah. Prinsip ini bukan ajaran keras, apalagi ajaran kebencian membabi buta, tetapi bentuk nyata dari cinta yang lurus dan benci yang terukur, semata-mata karena iman kepada Allah. Memahami al-walā’ wal-barā’ secara benar akan menjaga kemurnian tauhid sekaligus membimbing seorang Muslim bersikap adil dan bijak dalam interaksi sosial di tengah masyarakat yang majemuk.

Pengertian Al-Wala dan Al-Bara

Para ulama menjelaskan

والولاء والبراء حقيقته ومعناه: الولاء: محبة المؤمنين وموالاتهم ونصرتهم. ‏البراء: بُغْضُ الكافرين وعداوتهم، والبراءة منهم ومن دينهم الباطل.

Pentingnya Menempatkan pada Porsi dan Tempat yang Benar

Prinsip ini harus dipahami secara adil. Seorang Muslim tidak boleh mencintai kekufuran, tapi juga tidak boleh menzalimi orang kafir dzimmi atau menghina keyakinan mereka tanpa hak. Al-Wala wal-Baro bukan berarti membenci manusia semata karena suku atau budaya, tetapi karena akidah dan perbuatan yang menyelisihi tauhid.

Syaikh Abdul Aziz bin baz -rahimahullah- menjelaskan

Al-walā’ wal-barā’ artinya adalah mencintai orang-orang beriman dan loyal kepada mereka, serta membenci orang-orang kafir, memusuhi mereka, dan berlepas diri dari mereka serta dari agama mereka. Inilah hakikat al-walā’ wal-barā’, sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Surah Al-Mumtahanah:

قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ

“Sungguh telah ada suri teladan yang baik bagi kalian pada (diri) Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengannya, ketika mereka berkata kepada kaum mereka: ‘Sesungguhnya kami berlepas diri dari kalian dan dari apa yang kalian sembah selain Allah. Kami mengingkari kalian. Telah tampak antara kami dan kalian permusuhan dan kebencian selamanya hingga kalian beriman kepada Allah semata.'” (QS. Al-Mumtahanah: 4)

Namun, membenci dan memusuhi mereka bukan berarti menzalimi atau melampaui batas terhadap mereka, jika mereka tidak memerangi. Artinya adalah membenci mereka dalam hati, memutus loyalitas dalam hati, dan tidak menjadikan mereka sebagai teman akrab. Akan tetapi, tidak boleh menyakiti mereka, tidak boleh menzalimi, atau membahayakan mereka. Jika mereka memberi salam, maka jawab salam mereka, dan nasihatilah mereka, arahkan mereka kepada kebaikan, sebagaimana firman Allah Azza wa Jalla:

وَلَا تُجَادِلُوا أَهْلَ الْكِتَابِ إِلَّا بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِلَّا الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْهُمْ

“Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali orang-orang yang zalim di antara mereka.” (QS. Al-‘Ankabut: 46)

Ahli Kitab adalah orang-orang Yahudi dan Nasrani, begitu pula selain mereka dari kalangan orang kafir yang memiliki jaminan keamanan, perjanjian, atau perlindungan. Namun, siapa saja yang menzalimi maka dia akan dibalas sesuai kezalimannya. Adapun yang disyariatkan bagi orang beriman adalah berdakwah dan berdebat dengan cara terbaik, baik kepada sesama Muslim maupun kepada orang kafir, meskipun tetap membenci mereka karena Allah, sebagaimana ayat yang telah disebutkan.

(Selesai dari Majmū‘ Fatāwā Ibnu Bāz, 5/246)

Setelah memahami uraian di atas berikut akan kami sebutkan beberapa contoh semoga bisa memperjelas dan lebih mudah diaplikasikan dalam kehidupan kita 

Contoh dalam kehidupan kita

Contoh penerapan terkhusus kepada pemerintah

Sebagai penutup, memahami dan menerapkan al-walā’ wal-barā’ secara seimbang adalah bentuk kesempurnaan iman dan wujud dari ittiba’ kepada ajaran Nabi ﷺ dan para sahabat. Sikap ini menjaga hati dari loyalitas yang buta maupun kebencian yang melampaui batas. Dengan menempatkan cinta dan benci karena Allah secara adil, seorang Muslim mampu hidup di tengah masyarakat dengan tetap menjaga prinsip, tanpa tergelincir ke dalam sikap ghuluw (berlebihan) atau ifrāṭ (kelalaian). Semoga Allah meneguhkan kita di atas manhaj yang lurus.

Wallohu a’lam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Postingan Populer

Postingan Populer