Rabu, 29 Oktober 2025

Khotbah Jum'at tentang Pemuda

  

Naskah Khutbah Jumat:

Pemuda Hebat, Naungan Arsy di Hari Kiamat

Khutbah Pertama

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ، وَنَسْتَعِينُهُ، وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا، وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا * يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

أَمَّا بَعْدُ، فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ، وَكُلَّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ.


Ma’asyiral Muslimin, Jamaah Jum’at Rahiimakumullah,

Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan sebenar-benarnya takwa, yaitu dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, di setiap waktu dan keadaan. Hanya dengan bekal takwa, kita berharap akan selamat di dunia dan di akhirat kelak.

Jamaah sekalian, kita meyakini bahwa Hari Kiamat adalah hari yang sangat dahsyat. Hari di mana matahari didekatkan di atas kepala manusia, keringat membanjiri, dan setiap jiwa disibukkan oleh urusannya sendiri (nafsi-nafsi). Di tengah kepanasan, ketakutan, dan kegelisahan yang luar biasa itu, Allah ‘azza wa jalla telah menyiapkan karunia agung, sebuah perlindungan istimewa, yaitu Naungan 'Arsy-Nya.

Rasulullah ﷺ menyebutkan ada tujuh golongan manusia yang berhak mendapatkan naungan mulia ini, yang insya Allah, adalah jalan tol menuju Surga.

Di antara tujuh golongan tersebut, terdapat satu golongan yang menjadi harapan besar bagi masa depan umat, yaitu:

"وَشَابٌّ نَشَأَ فِيْ عِبَادَةِ رَبِّهِ"

"Seorang pemuda yang tumbuh dewasa dalam beribadah kepada Allah (selalu beribadah kepada Rabbnya)." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Pemuda: Jihad Melawan Nafsu

Ma’asyiral Muslimin,

Mengapa Rasulullah ﷺ secara khusus menyebut syab (pemuda) di antara para golongan mulia lainnya seperti pemimpin yang adil atau orang yang hatinya terpaut di masjid?

Jawabannya terletak pada hakikat masa muda itu sendiri. Masa muda adalah masa:

  1. Puncak Kekuatan: Kekuatan fisik dan energi yang maksimal.

  2. Puncak Syahwat: Masa di mana godaan hawa nafsu dan kesenangan duniawi berada di tingkat tertinggi.

  3. Penuh Godaan: Masa di mana teman bergaul dan lingkungan sering mendorong pada kelalaian, kesenangan sesaat, dan kemaksiatan.

Oleh karena itu, ketika seorang pemuda, di tengah badai godaan dan kekuatan syahwat yang membara, memilih untuk menundukkan dirinya di hadapan Allah, bertekun dalam ibadah, meninggalkan maksiat, dan menjadikan masjid sebagai rumah kedua, maka ia telah melakukan jihad akbar (perjuangan yang besar).

Imam Ibnu Hajar Al-’Asqalani rahimahullah menjelaskan, keistimewaan pemuda ini disebutkan karena ibadah yang ia lakukan adalah ibadah yang dilakukan dengan susah payah dan melawan dorongan syahwat yang kuat. Maka, wajar jika pahalanya lebih besar dan istimewa.

Bahkan, dalam hadits lain, Rasulullah ﷺ bersabda:

«إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَيَعْجَبُ مِنَ الشَّابِّ لَيْسَتْ لَهُ صَبْوَةٌ»

“Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla benar-benar kagum terhadap seorang pemuda yang tidak memiliki shabwah (kecenderungan pada hawa nafsu).” (HR. Ahmad)

Subhanallah! Ketika Allah subhanahu wa ta’ala kagum pada seorang hamba, maka balasan-Nya pasti sangat besar, yakni keselamatan dan naungan-Nya di Hari yang tidak ada naungan selain naungan-Nya.

Tiga Kunci Pemuda Ahli Surga

Hadirin Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah,

Bagaimana seorang pemuda meraih kemuliaan ini? Ada tiga kunci utama yang harus dijaga:

1. Menjaga Shalat dan Masjid Gunakanlah kekuatan fisik muda untuk datang ke masjid. Jangan biarkan masa muda berlalu tanpa shalat subuh berjamaah. Karena pemuda yang rajin ke masjid menunjukkan hatinya sudah terpaut kuat pada Allah, bukan pada tempat hiburan atau kesenangan fana.

2. Mengisi Waktu dengan Ilmu dan Amal Shaleh Jangan sia-siakan waktu luang, kesehatan, dan masa muda. Nabi ﷺ mengingatkan kita:

"Manfaatkanlah lima perkara sebelum datang lima perkara: masa mudamu sebelum masa tuamu..." (HR. Al-Hakim). Jadikan masa muda sebagai ladang menuntut ilmu agama, menghafal Al-Qur'an, dan berbakti kepada orang tua.

3. Kuat Menolak Godaan Syahwat (Iffah) Inilah ujian terbesar. Pemuda ahli Surga adalah mereka yang mampu menundukkan pandangan dan menjaga kehormatan diri (‘iffah). Sebagaimana golongan kelima yang dinaungi Allah adalah mereka yang diajak berzina oleh wanita kaya dan cantik, namun ia menolak seraya berkata, "Aku takut kepada Allah!" Inilah puncak ketakwaan, yang paling sering diuji pada masa muda.

Ma’asyiral Muslimin,

Masa muda bukanlah masa untuk lalai. Masa muda adalah amanah, peluang emas, dan bekal masa depan. Jangan sampai kita menyesal di Hari Kiamat karena menyia-nyiakan waktu dan energi muda untuk hal yang fana.

Semoga Allah subhanahu wa ta’ala menjadikan anak-anak kita, generasi muda kita, dan seluruh pemuda Islam sebagai syabbun nasya’a fii ‘ibadati Rabbih (pemuda yang tumbuh dalam ibadah kepada Rabbnya), yang kelak mendapatkan naungan ‘Arsy-Nya dan memasuki Surga-Nya.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ. أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.


Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ للهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.

Ma’asyiral Muslimin, Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah,

Marilah kita tutup khutbah ini dengan merenungkan sekali lagi betapa berharganya waktu muda kita. Gunakanlah setiap tetes darah, setiap energi, dan setiap waktu yang ada di masa ini untuk investasi akhirat. Karena kelak, Allah akan menanyakan kepada kita tentang empat hal, dan salah satunya adalah:

"Tentang masa mudanya, untuk apa ia habiskan." (HR. At-Tirmidzi)

Maka, jadilah pemuda yang ketika ditanya, mampu menjawab: "Masa mudaku, aku habiskan untuk beribadah dan taat kepada-Mu, ya Allah."

Semoga kita semua diberikan hidayah dan kekuatan untuk terus istiqamah di jalan-Nya.

Doa Penutup:

إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ، وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.

Senin, 20 Oktober 2025

Hati Yang Selamat

 

Hati Yang Selamat

“Pada hari saat harta dan anak-anak tidak bermanfaat, kecuali orang yang datang menghadap Allah dengan hati yang selamat..” (Qs Asy-Syu’araa’ 88-89)

● Ibnul Qoyyim rohimahullah menjelaskan,

Hati yang selamat adalah hati yang selamat dari :
– syirik,
– dengki,
– hasad,
– kikir,
– sombong,
– cinta dunia dan kedudukan.

Dia juga selamat dari :
– setiap penyakit yang akan menjauhkannya dari Allah,
– setiap syubhat yang bertentangan dengan dalil,
– setiap syahwat yang akan bertabrakan dengan perintah-Nya, dan
– setiap keinginan yang berlawanan dari keinginan-Nya.

(Ad-Daa’ wad Dawaa’ hal 219)

● Syaikh al-‘Utsaimin rohimahullah berkata,

Barangsiapa yang hatinya selamat, maka Allah pun akan memberikan kepadanya firasat yang dengannya dia mengetahui perkara dosa.

Sampai sampai jiwanya tidak akan merasa lega serta tenang karena perbuatan dosanya tersebut, dan ini merupakan nikmat Allah untuk orang itu.

(Syarah Buluughul Maraam XV/33)

Raihlah pahala dan kebaikan dengan membagikan link kajian Islam yang bermanfaat ini, melalui jejaring sosial Facebook, Twitter yang Anda miliki. Semoga Allah Subhaanahu wa Ta’ala membalas kebaikan Anda.


https://bbg-alilmu.com/archives/72043






Minggu, 19 Oktober 2025

KEHIDUPAN YANG BAIK

 KEHIDUPAN YANG BAIK

Allah 'Azza wa Jalla berfirman,

مـَنْ عَمـِلَ صَالِحـاً مِـنْ ذَكـَرٍ أَوْ أُنثَى وَ هُـوَ مـُؤْمِـنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَـاةً طَيِّـبَةً...

"Barangsiapa yang mengerjakan kebajikan, baik laki laki maupun perempuan dalam keadaan dia beriman, niscaya pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik.." (Qs. An-Nahl/16: 97)

● Syaikh al-'Utsaimin rohimahullah berkata,

الحياة الطيبة ليست كما يفهمها بعض الناس السلامة من الآفات من فقر ومرض، لا بل الحياة الطيبة أن يكون الإنسان طيب القلب، منشرح الصدر، مطمئنا بقضاء الله وقدره، إن أصابته سراء شكر فكان خيراً له، وإن أصابته ضراء صبر فكان خيراً له، هذه هي الـحياة الطيبة، وهي راحة القلب، أما كثرة الأموال وصحة الأبدان فقد تكون شقاء على الإنسان وتعباً

Kehidupan yang baik itu bukanlah seperti yang dipahami oleh sebagian orang, yaitu selamat dari petaka petaka berupa kefakiran dan sakit.. bukanlah demikian..

Kehidupan yang baik itu adalah seseorang TELAH :

- menjadi baik hatinya dan lapang dadanya,

- tenang dengan qodho dan qodarnya Allah.

Apabila mendapatkan kebaikan, maka ia bersyukur, niscaya itu adalah kebaikan untuknya..

Apabila tertimpa musibah, maka ia pun bersabar, niscaya itu adalah kebaikan untuknya..

Inilah kehidupan yang baik, yaitu adanya ketenangan di dalam hati..

Adapun dengan banyaknya harta dan juga sehatnya badan itu terkadang menjadi kesengsaraan dan kepayahan terhadap manusia.

(Fatawaa Islaamiyyah - 4/64)

ref : https://bbg-alilmu.com/archives/71877 

    

        ===============================================

Dunia ini sementara, Akhirat abadi. 

📢 Allah ﷻ berfirman : ‘Kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan senda gurau, sedangkan negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya’ (QS. Al-‘Ankabut: 64). 

❓ Kalau kita masih sibuk menhttps://whatsapp.com/channel/0029VbAxpr9CXC3NHYRR5e2Pgejar dunia, lalu kapan kita akan serius menyiapkan akhirat ?

(Artikel 465 = 01/08/2025, Ba'da Subuh)

Saluran Penulis Artikel Dakwah :

https://whatsapp.com/channel/0029VbAxpr9CXC3NHYRR5e2P

Website Penulis Artikel Dakwah :

https://hijrahbutuhilmu.blogspot.com/

Ustad Firanda Andirja Hafidzahullah :

https://youtube.com/c/FirandaAndirjaOfficial/videos

Aplikasi UFA = BEKAL ISLAM :

https://play.google.com/store/apps/details?id=com.bekalislam

📝“Kenapa Kita Harus Belajar Kitab al-Ushul ats-Tsalatsah ?”

Segala puji bagi Allah ﷻ, Tuhan semesta alam. Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Nabi kita Muhammad ﷺ, keluarga beliau, para sahabatnya, dan setiap orang yang mengikuti jalannya hingga hari kiamat.

🌱 Mengapa Kita Membahas Kitab Ini ?

Saudaraku yang dirahmati Allah ﷻ, Pernahkah kita merenung : 

* “Apa tujuan kita hidup di dunia ?

* ” Kenapa kita diciptakan ? 

* Apa bekal kita ketika meninggal nanti ? 

* Dan apa yang akan ditanya oleh malaikat di alam kubur ?

Semua pertanyaan itu sangat penting, karena setiap orang pasti akan mati, dan tidak ada seorang pun yang bisa kabur dari kematian.

Kitab al-Ushul ats-Tsalatsah (Tiga Landasan Utama) adalah kitab kecil, tapi pembahasannya sangat dalam dan penting. 

Kitab ini membahas tiga perkara yang akan ditanya kepada setiap manusia di dalam kubur, yaitu :

* Siapa Tuhanmu ?

* Apa agamamu ?

* Siapa nabimu ?

Kalau kita tidak tahu jawabannya sekarang, bagaimana mungkin kita bisa menjawabnya saat sudah mati ?

📘 Siapa Penulis Kitab Ini ?

* Kitab ini ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab رحمه الله, seorang ulama besar dari Najd (Arab Saudi) pada abad ke-12 Hijriah. 

* Beliau bukan pembuat ajaran baru, tetapi hanya menghidupkan kembali ajaran Islam yang murni, yaitu ajaran tauhid seperti yang dibawa oleh Nabi Muhammad ﷺ dan para sahabatnya.

* Kitab ini disusun bukan untuk para ulama atau mahasiswa saja, tetapi khusus untuk orang awam, agar semua muslim tahu apa yang akan ditanya di alam kubur, dan bisa mempersiapkan jawabannya sejak masih hidup.


📚 Kenapa Kitab Ini Wajib Dipelajari ?

Rasulullah ﷺ bersabda : "Menuntut ilmu itu wajib atas setiap Muslim." (HR. Ibnu Majah, no. 224; dinilai hasan oleh Syaikh al-Albani)

Yang dimaksud “ilmu yang wajib” adalah ilmu yang setiap muslim tidak boleh tidak tahu, seperti:

* Ilmu tentang Allah ﷻ dan tauhid-Nya

* Ilmu tentang agama Islam, bagaimana shalat, puasa, dsb

* Ilmu tentang Nabi Muhammad ﷺ, karena kita harus meneladaninya

* Itulah yang dibahas dalam kitab ini, bukan ilmu tinggi yang rumit, tapi fondasi agama kita.

* Kalau rumah tidak punya fondasi, pasti roboh. Kalau iman tidak punya fondasi, pasti lemah, bahkan bisa hancur dihempas syubhat dan godaan dunia.

💬 Nasehat Para Ulama Tentang Kitab Ini

Imam Ahmad bin Hanbal رحمه الله berkata : "Dasar agama Islam adalah mengenal tiga perkara : Mengenal Allah, mengenal agama Islam, dan mengenal Nabi Muhammad ﷺ."

* Kitab al-Ushul ats-Tsalatsah menjelaskan ketiganya dengan ringkas, jelas, dan penuh dalil. 

* Tidak berisi pendapat-pendapat pribadi, tetapi berisi ayat Al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi yang sahih.

Oleh karena itu, para ulama di masa kini sangat menganjurkan untuk mempelajari kitab ini sebagai langkah pertama dalam belajar agama, khususnya bagi umat Islam awam yang ingin selamat di dunia dan akhirat.

📌 Jangan Anggap Remeh Ilmu Ini!

Banyak orang Islam yang mengaku bertauhid, tapi:

* Masih minta-minta kepada kuburan

* Masih percaya jimat dan dukun

* Masih tidak tahu siapa itu Nabi ﷺ

* Tidak paham bagaimana menyembah Allah dengan benar

* Inilah bahaya tidak belajar agama dengan ilmu. 

Bahkan, bisa terjatuh dalam kesyirikan, dosa terbesar yang tidak diampuni kecuali dengan taubat.

Allah ﷻ berfirman : "Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni dosa selain itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya." (QS. An-Nisa: 48)

🎯 Kesimpulan : Apa Tujuan Kita Belajar Kitab Ini ?

* Karena kita semua akan mati. 

* Karena kita semua akan ditanya. 

* Karena kita semua ingin masuk surga. 

* Dan tidak mungkin selamat kecuali dengan mengenal tauhid, mengenal agama, dan mengenal Rasulullah ﷺ.

Dengan izin Allah ﷻ, kita akan bahas kitab ini perlahan-lahan agar mudah dicerna, berdasarkan dalil yang shahih, dan dilengkapi contoh nyata dalam kehidupan, agar kita bukan hanya tahu, tapi juga paham dan bisa mengamalkan.

--------

Kebenaran itu WAJIB ada Dalilnya

📝 Dalam sidang dunia saja hakim meminta bukti, apalagi dalam agama. 

📢 Allah ﷻ berfirman : ‘Katakanlah : Tunjukkan bukti kebenaranmu jika kamu orang-orang yang benar’ (QS. Al-Baqarah: 111). 

👉 Jadi, mana dalil shahih dari Nabi ﷺ tentang amalan yang kamu bela ? 

❓ Kalau tidak ada, kenapa masih dipertahankan ?

Wallahu A'lam


  ================================================================


HUKUM MENGUPING PEMBICARAAN ORANG LAIN

Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Nabi ﷺ bersabda:

ﻭَﻣَﻦِ ﺍﺳْﺘَﻤَﻊَ ﺇِﻟَﻰ ﺣَﺪِﻳﺚِ ﻗَﻮْﻡٍ ﻭَﻫُﻢْ ﻟَﻪُ ﻛَﺎﺭِﻫُﻮﻥَ ﺃَﻭْ ﻳَﻔِﺮُّﻭﻥَ ﻣِﻨْﻪُ ، ﺻُﺐَّ ﻓِﻰ ﺃُﺫُﻧِﻪِ ﺍﻵﻧُﻚُ ﻳَﻮْﻡَ ﺍﻟْﻘِﻴَﺎﻣَﺔِ

“Barang siapa menguping pembicaraan orang lain, sedangkan mereka tidak suka (kalau pembicaraannya didengarkan selain dari mereka), maka pada telinganya akan dituangkan cairan tembaga meleleh pada Hari Kiamat.” [HR. Bukhari no. 7042].

Imam Adz Dzahabi mengatakan, bahwa yang dimaksud dengan al-aanuk adalah tembaga cair.

Yang namanya tembaga cair tentu saja dalam keadaan yang begitu panas. Na’udzu billah.

Ibnu Batthol mengatakan, bahwa ada ulama yang berpendapat, hadis yang ada menunjukkan bahwa yang mendapatkan ancaman hanyalah untuk orang yang “nguping,” dan yang membicarakan tersebut tidak suka yang lain mendengarnya.

Namun yang tepat, jika tidak diketahui mereka suka ataukah tidak, maka sebaiknya tidak menguping berita tersebut, kecuali dengan izin mereka. Karena ada hadis di mana Nabi ﷺ bersabda, bahwa terlarang masuk mendengar orang yang sedang berbisik-bisik (berbicara empat mata). Seperti ini dilarang, kecuali dengan izin yang berbicara. Demikian diterangkan oleh Ibnu Batthol dalam Syarh Shahih Al Bukhari.

Ancaman yang ada begitu keras ketika cuma sekadar menguping info, yang sebenarnya tidak disukai untuk disebar, walau itu benar. Lebih-lebih lagi jika yang disebar adalah berita dusta.

Hanya Allah yang memberi taufik.

Penulis: Al-Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc hafizhahullah

Sumber: https://rumaysho.com/7908-kelakuan-media-yang-terus-mengorek-aib.html


Selasa, 14 Oktober 2025

KEMATIAN PASTI DATANG

 Tsabit al-Bunani Rahimahullah berkata, “Beruntunglah orang yang senantiasa mengingat waktu datangnya kematian. Tidaklah seorang hamba memperbanyak mengingat kematian, kecuali akan tampak buahnya di dalam amal perbuatannya.”

Allah Ta’ala berfirman,

قُلْ إِنَّ ٱلْمَوْتَ ٱلَّذِى تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُۥ مُلَٰقِيكُمْ ۖ ثُمَّ تُرَدُّونَ إِلَىٰ عَٰلِمِ ٱلْغَيْبِ وَٱلشَّهَٰدَةِ فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ

“Katakanlah; Sesungguhnya kematian yang kalian senantiasa berusaha lari darinya, dia pasti menemui kalian. Kemudian kalian akan dikembalikan kepada Dzat yang mengetahui perkara gaib dan perkara yang tampak, lalu Allah akan memberitakan kepada kalian apa-apa yang kalian kerjakan” (QS. Al-Jumu’ah: 8).

Allah Ta’ala berfirman,

كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ ٱلْمَوْتِ

“Setiap jiwa pasti merasakan kematian” (QS. Ali ‘Imran: 185).

Allah Ta’ala berfirman,

ٱلَّذِى خَلَقَ ٱلْمَوْتَ وَٱلْحَيَوٰةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ وَهُوَ ٱلْعَزِيزُ ٱلْغَفُورُ

“(Allah) Yang menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji kalian, siapakah di antara kalian yang terbaik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun” (QS. Al-Mulk: 2).

Allah Ta’ala berfirman,

وَٱعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ ٱلْيَقِينُ

“Dan sembahlah Rabb-mu sampai datang kematian” (QS. al-Hijr: 99).

Allah Ta’ala berfirman,

وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

“Dan janganlah sekali-kali kalian mati kecuali dalam keadaan beragama Islam” (QS. Ali ‘Imran: 102).

Allah Ta’ala berfirman,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap jiwa memperhatikan apa yang telah dipersiapkan olehnya untuk hari esok” (QS. Al-Hasyr: 18).

Allah Ta’ala berfirman,

وَتَزَوَّدُوا۟ فَإِنَّ خَيْرَ ٱلزَّادِ ٱلتَّقْوَىٰ ۚ وَٱتَّقُونِ يَٰٓأُو۟لِى ٱلْأَلْبَٰبِ

“Berbekallah kalian, sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. Dan bertakwalah kalian kepada-Ku, wahai orang-orang yang berakal” (QS. Al-Baqarah: 198).

Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ’anhu berkata, “Tidak ada waktu bagi seorang mukmin untuk bersantai-santai kecuali ketika dia sudah berjumpa dengan Allah.”

Suatu ketika ada yang berkata kepada Hasan al-Bashri Rahimahullah, “Wahai Abu Sa’id, apa yang harus kami perbuat? Kami berteman dengan orang-orang yang senantiasa menakut-nakuti kami sampai-sampai hati kami hendak melayang.”

Maka beliau rahimahullah menjawab, “Demi Allah! Sesungguhnya jika kamu berteman dengan orang-orang yang senantiasa menakut-nakuti dirimu hingga mengantarkan dirimu kepada keamanan, maka itu lebih baik daripada kamu bergaul dengan teman-teman yang senantiasa menanamkan rasa aman hingga menyeretmu kepada situasi yang menakutkan.”

Seorang penyair mengatakan,

“Wahai anak Adam, Engkau terlahir dari ibumu seraya melempar tangisan.

Sedangkan orang-orang di sekelilingmu tertawa gembira.

Maka, beramallah untuk menyambut suatu hari tatkala mereka melempar tangisan.

Yaitu hari kematianmu, ketika itu Engkau-lah yang tertawa gembira.”

Tsabit al-Bunani Rahimahullah berkata, “Beruntunglah orang yang senantiasa mengingat waktu datangnya kematian. Tidaklah seorang hamba memperbanyak mengingat kematian kecuali akan tampak buahnya di dalam amal perbuatannya.”

Syaikh Abdul Malik al-Qasim berkata, “Betapa seringnya, di sepanjang hari yang kita lalui kita membawa (jenazah]) orang-orang yang kita cintai dan teman-teman menuju tempat tinggal tersebut (alam kubur). Akan tetapi, seolah-olah kematian itu tidak mengetuk kecuali pintu mereka, dan tidak menggoncangkan kecuali tempat tidur mereka. Adapun kita; seolah-olah kita tak terjamah sedikit pun olehnya!!”

‘Amar bin Yasir Radhiyallahu’anhu berkata, “Cukuplah kematian sebagai pemberi nasihat dan pelajaran. Cukuplah keyakinan sebagai kekayaan. Dan cukuplah ibadah sebagai kegiatan yang menyibukkan.”

al-Harits bin Idris rahimahullah berkata, Aku pernah berkata kepada Dawud ath-Tha’i rahimahullah, “Berikanlah nasihat untukku.” Maka beliau rahimahullah menjawab, “Tentara kematian senantiasa menunggu kedatanganmu.”

Abud Darda’ Radhiyallahu ’anhu berkata, “Barang siapa yang banyak mengingat kematian, niscaya akan menjadi sedikit kegembiraannya dan sedikit kedengkiannya.”

Abud Darda’ Radhiyallahu ’anhu berkata, “Aku senang dengan kemiskinan, karena hal itu semakin membuatku merendah kepada Rabbku. Aku senang dengan kematian, karena kerinduanku kepada Rabbku. Dan aku menyukai sakit, karena hal itu akan menghapuskan dosa-dosaku.”

Hasan al-Bashri Rahimahullah berkata, “Tidaklah aku melihat sebuah perkara yang meyakinkan yang lebih mirip dengan perkara yang meragukan daripada keyakinan manusia terhadap kematian sementara mereka lalai darinya. Dan tidaklah aku melihat sebuah kejujuran yang lebih mirip dengan kedustaan daripada ucapan mereka, ‘Kami mencari surga padahal mereka tidak mampu menggapainya dan tidak serius dalam mencarinya.”

Salah seorang yang bijak menasihati saudaranya, “Wahai saudaraku, waspadalah Engkau dari kematian di negeri (dunia) ini sebelum Engkau berpindah ke suatu negeri yang Engkau mengangan-angankan kematian, akan tetapi Engkau tidak akan menemukannya.”

Ibnu Abdi Rabbihi berkata kepada Mak-hul, “Apakah Engkau mencintai surga?” Mak-hul menjawab, “Siapa yang tidak cinta dengan surga.” Lalu Ibnu Abdi Rabbihi pun berkata, “Kalau begitu, cintailah kematian, karena Engkau tidak akan bisa melihat surga kecuali setelah mengalami kematian.”

Baca Juga:

  1. Hukum Berdoa Mengharapkan Kematian
  2. Para Salaf Masih Bersemangat Beragama Walaupun Menjelang Kematian
  3. Berlindung Dari Kecelakaan Dan Kematian Yang Mengerikan

Penulis: Ari Wahyudi, S.Si

Artikel: Muslim.or.id

Sumber: https://muslim.or.id/66507-kematian-pasti-datang.html



BERIMAN TERHADAP DATANGNYA KEMATIAN

 Beberapa hal yang berkaitan dengan keimanan kita terhadap kematian.

Pertama, kematian itu pasti datang

Kita harus meyakini bahwa siapa saja yang ada di dunia ini, baik penghuni langit dan bumi, baik manusia, jin, dan malaikat, dan makhluk Allah Ta’ala lainnya, pasti akan menjumpai kematian. Allah Ta’ala berfirman,

كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلَّا وَجْهَهُ

Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Allah.” (QS. Al-Qashash: 88)

Allah Ta’ala berfirman,

كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ الْمَوْتِ

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati.” (QS. Ali ‘Imran: 185)

Dari sahabat Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah berdoa,

أَعُوذُ بِعِزَّتِكَ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ الَّذِي لَا يَمُوتُ وَالْجِنُّ وَالْإِنْسُ يَمُوتُونَ

A’UUDZU BI’IZZATILLAHILLLADZII LAA ILAAHA ILLAA ANTAL LADZII LAA YAMUUTU WAL JINNU WAL INSU YAMUUTUUNA (Saya berlindung dengan kekuasaan-Mu yang tiada sesembahan yang hak selain Engkau, yang tidak pernah mati, sedangkan jin dan manusia pasti akan mati).” (HR. Bukhari no. 7383 dan Muslim no. 2717)

Kedua, ajal manusia sudah ditentukan, tidak akan lebih lama dan tidak akan lebih cepat

Allah Ta’ala berfirman,

وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ فَإِذَا جَاء أَجَلُهُمْ لاَ يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً وَلاَ يَسْتَقْدِمُونَ

Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu. Apabila telah datang waktunya, mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya.” (QS. Al-A’raf: 34)

Allah Ta’ala berfirman,

وَهُوَ الَّذِي يَتَوَفَّاكُم بِاللَّيْلِ وَيَعْلَمُ مَا جَرَحْتُم بِالنَّهَارِ ثُمَّ يَبْعَثُكُمْ فِيهِ لِيُقْضَى أَجَلٌ مُّسَمًّى ثُمَّ إِلَيْهِ مَرْجِعُكُمْ ثُمَّ يُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ

Dan Dialah yang menidurkan kamu di malam hari dan Dia mengetahui apa yang kamu kerjakan di siang hari, kemudian Dia membangunkan kamu pada siang hari untuk disempurnakan umur(mu) yang telah ditentukan. Kemudian kepada Allahlah kamu kembali, lalu Dia memberitahukan kepadamu apa yang dahulu kamu kerjakan.” (QS. Al-An’am: 60)

Dari ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, “Ummu Habibah -istri Rasulullah- pernah berdoa sebagai berikut, ‘Ya Allah, berikanlah aku kenikmatan (panjangkanlah usiaku) bersama suamiku, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, ayahku Abu Sufyan, dan saudaraku Mu’awiyah.’”

Mendengar doa itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada istrinya Ummu Habibah radhiyallahu ‘anha,

قَدْ سَأَلْتِ اللهَ لِآجَالٍ مَضْرُوبَةٍ، وَأَيَّامٍ مَعْدُودَةٍ، وَأَرْزَاقٍ مَقْسُومَةٍ، لَنْ يُعَجِّلَ شَيْئًا قَبْلَ حِلِّهِ، أَوْ يُؤَخِّرَ شَيْئًا عَنْ حِلِّهِ، وَلَوْ كُنْتِ سَأَلْتِ اللهَ أَنْ يُعِيذَكِ مِنْ عَذَابٍ فِي النَّارِ، أَوْ عَذَابٍ فِي الْقَبْرِ، كَانَ خَيْرًا وَأَفْضَلَ

Sesungguhnya kamu memohon kepada Allah ajal, kematian, dan rezeki yang telah ditentukan. Allah tidak akan mengajukan ataupun memundurkan sebelum waktunya. Apabila kamu memohon kepada Allah agar Dia menyelamatkanmu dari siksa neraka dan siksa kubur, maka hal itu lebih baik bagimu dan lebih utama.” (HR. Muslim no. 2663)

Adapun makna dari sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,

مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ أَوْ يُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَه

Siapa yang ingin diluaskan rezekinya atau dipanjangkan umurnya, hendaklah dia menyambung silaturahim.” (HR. Bukhari no. 2067 dan Muslim no. 2557)

adalah “keberkahan dalam amal dan waktu”. Sehingga seseorang bisa mengerjakan banyak amal saleh di waktu yang sebentar (sedikit).

Ketiga, beriman bahwa tidak ada satu pun makhluk yang mengetahui kapan datangnya waktu kematian

Waktu datangnya kematian termasuk bagian dari ilmu gaib yang hanya diketahui oleh Allah Ta’ala. Maka, tidak ada yang mengetahui kapankah kematian menjemputnya, kecuali Allah Ta’ala semata. Allah Ta’ala berfirman,

وَعِندَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لاَ يَعْلَمُهَا إِلاَّ هُوَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَمَا تَسْقُطُ مِن وَرَقَةٍ إِلاَّ يَعْلَمُهَا وَلاَ حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الأَرْضِ وَلاَ رَطْبٍ وَلاَ يَابِسٍ إِلاَّ فِي كِتَابٍ مُّبِينٍ

Dan pada sisi Allahlah kunci-kunci semua yang gaib. Tidak ada yang mengetahuinya, kecuali Dia sendiri. Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan. Dan tiada sehelai daun pun yang gugur, melainkan Dia mengetahuinya (pula). Dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz).” (QS. Al-An’am: 59)

Allah Ta’ala berfirman,

وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ

Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati.” (QS. Luqman: 34)

Keempat, memperbanyak mengingat kematian dan menjadikan kematian itu ada di depan matanya

Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,

أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ

Perbanyaklah mengingat penghancur kelezatan (yaitu, kematian).” (HR. Tirmidzi no. 3207, An-Nasa’i no. 1824, dan Ibnu Majah no. 4258, dinilai sahih oleh Al-Albani)

Kelima, mempersiapkan diri sebelum datangnya kematian

Seorang mukmin hendaknya mempersiapkan dirinya sebelum datangnya kematian, dan juga mempersiapkan dirinya dengan hal-hal setelah kematian, baik azab atau nikmat kubur, hari kiamat, dan seterusnya. Allah Ta’ala berfirman,

حَتَّى إِذَا جَاء أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحاً فِيمَا تَرَكْتُ كَلَّا إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا وَمِن وَرَائِهِم بَرْزَخٌ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ

(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata, ‘Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan.’ Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampal hari mereka dibangkitkan.” (QS. Al-Mu’minuun: 99-100)

Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat).” (QS. Al-Hasyr: 18)

Demikian, semoga bermanfaat.

Baca Juga:

@Rumah Kasongan, 30 Rajab 1443/ 3 Maret 2022

Penulis: M. Saifudin Hakim

Artikel: www.muslim.or.id

Sumber: https://muslim.or.id/72920-beriman-terhadap-datangnya-kematian.html


ARTIKEL RUMAYSHO.COM DAN LAINNYA


Postingan Populer

Postingan Populer