LINK SHORT VIDEO AGUSTUS 2025
👉 LIHAT : LINK
Allah akan berikan pemimpin yang sesuai dengan rakyatnya
🍂" DATANGI SHALAT JUM’AT SEGERA, DAN LEKAS TINGGALKAN KESIBUKAN
💎Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَىٰ ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ ﴿٩﴾ فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ ﴿١٠﴾ وَإِذَا رَأَوْا تِجَارَةً أَوْ لَهْوًا انْفَضُّوا إِلَيْهَا وَتَرَكُوكَ قَائِمًا ۚ قُلْ مَا عِنْدَ اللَّهِ خَيْرٌ مِنَ اللَّهْوِ وَمِنَ التِّجَارَةِ ۚ وَاللَّهُ خَيْرُ الرَّازِقِينَ
"Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allâh dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allâh dan ingatlah Allâh banyak-banyak supaya kamu beruntung. Dan apabila mereka melihat perniagaan atau permainan, mereka bubar untuk menuju kepadanya dan mereka tinggalkan kamu sedang berdiri (berkhotbah). Katakanlah: “Apa yang di sisi Allâh lebih baik daripada permainan dan perniagaan”, dan Allâh sebaik-baik pemberi rezeki."
📖[al-Jumu’ah/62: 9-11].
📌Dan ketahuilah bahwa malaikat mencatat menunggumu di pintu-pintu masjid.
💫Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:
إذا كان يومُ الجمعةِ كان على كلِّ بابٍ من أبوابِ المسجدِ الملائكة يكتبون الأولَ فالأولَ، فإذا جلس الإمامُ طوَوُا الصحفَ وجاؤوا يستمعون الذكرَ.
"Apabila hari Jum'at tiba maka akan ada para malaikat di setiap pintu-pintu masjid. Mereka akan mencatat orang yang pertama kali datang lalu berikutnya dan berikutnya sampai apabila Imam telah duduk di mimbarnya mereka pun melipat catatan-catatan tersebut. Lantas mereka pun datang dan ikut mendengarkan khutbah."
📚(HR. Bukhari nomor: 3211)
📌Maka bersegeralah ke mesjid dan perbanyak ibadah di hari istimewa ini.
Raih amal shalih dengan menyebarkan kiriman ini, semoga bermanfaat. Jazakumullahu khoiron.
💠IslamAdalahSunnah
Silahkan gabung di group WhatsApp MENGAJI MUSLIMAH6 👇🏻
3 CARA PANDANG KAUM MUSLIMIN MENGHADAPI HARGA SEMBAKO YANG MELAMBUNG TINGGI
••⊰❃🥑🫒❁⊱••⊰❁🫒🥑❁⊱••
1. Bahwa kenaikan harga barang merupakan ketetapan Allah
Disebutkan dalam riwayat bahwa di zaman sahabat pernah terjadi kenaikan harga. Mereka pun mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menyampaikan masalahnya. Mereka mengatakan, “Wahai Rasulullah, harga-harga barang banyak yang naik, maka tetapkan keputusan yang mengatur harga barang.” Mendengar aduhan ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,
“Sesungguhnya Allah adalah Dzat yang menetapkan harga, yang menyempitkan dan melapangkan rezeki, Sang Pemberi rezeki. Sementara aku berharap bisa berjumpa dengan Allah dalam keadaan tidak ada seorang pun dari kalian yang menuntutku disebabkan kezalimanku dalam urusan darah maupun harta.”
📚(HR. Ahmad 12591, Abu Daud 3451, Turmudzi 1314, Ibnu Majah 2200, dan dishahihkan Al-Albani).
2. Kenaikan harga barang, tidak mempengaruhi rezeki seseorang
_🥝“Wahai sekalian manusia, sesungguhnya kalian tidak akan mati sampai sempurna jatah rezekinya, karena itu, jangan kalian merasa rezeki kalian terhambat dan bertakwalah kepada Allah, wahai sekalian manusia. Carilah rezeki dengan baik, ambil yang halal dantinggalkan yang haram.”
🔰(HR. Baihaqi dalam sunan al-Kubro 9640, dishahihkan Hakim dalam Al-Mustadrak 2070 dan disepakati Ad-Dzahabi)
3. Ulama Jaman Dahulu tidak peduli dengan kenaikan harga ini, sekalipun 1 biji gandum seharga 1 dinar
Di masa silam, terjadi kenaikan harga pangan sangat tinggi. Merekapun mengadukan kondisi ini kepada salah seorang ulama di masa itu. Kita lihat, bagaimana komentar beliau, “Demi Allah, saya tidak peduli dengan kenaikan harga ini, sekalipun 1 biji gandum seharga 1 dinar! Kewajibanku adalah beribadah kepada Allah, sebagaimana yang Dia perintahkan kepadaku, dan Dia akan menanggung rizkiku, sebagaimana yang telah Dia janjikan kepadaku.”
Referensi: https://konsultasisyariah.com/21488-nasehat-ketika-terjadi-kenaikan-harga-barang.html
JANGAN MENJADI PENUNTUT ILMU YANG ANGKUH DAN SOMBONG
Kita sebagai penuntut ilmu (thalibul ‘ilmi), hendaknya harus mengetahui celah setan untuk menyesatkan manusia. Kita telah mengetahui bahwa salah satu cara setan menyesatkan manusia adalah dengan harta dan ketamakan terhadap dunia.
GWA "SJYL 1" 👇
https://chat.whatsapp.com/EU20D4RtRl7LHg9YAWPSNP
GWA "SJYL 2" 👇
https://chat.whatsapp.com/DLyYXwRSGtoLmohTLcwKHV
Akan tetapi, sedikit dari kita yang mengetahui bahwa setan juga menyesatkan manusia melalui ilmu. Yaitu dengan membuat pemilik ilmu tersebut menjadi angkuh, sombong, dan merendahkan manusia karena merasa sudah berilmu. Umumnya ditunjukkan dengan sifat yang keras, hobi berdebat kusir, dan banyak membicarakan kesalahan orang lain secara tidak bijak.
Wahb bin Munabbih rahimahullah berkata :
إن للعلم ظغيانا كطغيان المال
“Sesungguhnya ilmu memiliki keangkuhan sebagaimana keangkuhan harta.” (An-Nubadz fi Adabi Thalabil Ilmi, hal. 185).
Bisa jadi banyak manusia yang tahu bahwa harta adalah fitnah terbesar umat Islam dan membuat pemiliknya menjadi sombong. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam :
إِنَّ لِكُلِّ أُمَّةٍ فِتْنَةً، وَفِتْنَةَ أُمَّتِي الْمَالُ
“Sesungguhnya pada setiap umat ada fitnah (ujiannya) dan fitnah umatku adalah harta.” (HR. Bukhari).
Demikian juga dengan ilmu, dapat membuat pemiliknya menjadi sombong dan angkuh. Perhatikanlah perkataan yang dinukil oleh Syaikh Bakr Abu Zaid rahimahullah berikut :
العلم ثلاثة أشبار، من دخل في الشبر الأول تكبر، ومن دخل في الشبر الثانى تواضع، ومن دخل في الشبر الثالث علم أنه ما يعلم
“Ilmu itu ada tiga jengkal. Barangsiapa yang masuk jengkal pertama, dia menjadi sombong. Barangsiapa yang masuk jengkal kedua, dia menjadi tawadhu’. Barangsiapa yang masuk jengkal ketiga, dia baru menyadari bahwa dirinya tidak tahu (masih sedikit ilmunya).” (Hilyah Thalibil ‘Ilmi, hal. 79).
Hendaknya kita tidak sombong hanya karena memiliki ilmu, karena kita tidak layak mensucikan diri sendiri lalu merendahkan orang lain. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
فَلَا تُزَكُّوا أَنفُسَكُمْ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى
“Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui siapa orang yang bertakwa.” (QS. An-Najm : 32).
Salah satu cara agar terhindar dari sifat sombong adalah berusaha melihat orang lain lebih baik dari kita. ‘Abdullah Al-Muzani rahimahullah berkata :
إن عرض لك إبليس بأن لك فضلاً على أحد من أهل الإسلام فانظر، فإن كان أكبر منك فقل قد سبقني هذا بالإيمان والعمل الصالح فهو خير مني، وإن كان أصغر منك فقل قد سبقت هذا بالمعاصي والذنوب واستوجبت العقوبة فهو خير مني، فإنك لا ترى أحداً من أهل الإسلام إلا أكبر منك أو أصغر منك.
“Jika iblis memberikan was-was kepadamu bahwa engkau lebih mulia dari muslim lainnya, maka perhatikanlah. Jika ada orang lain yang lebih tua darimu, maka seharusnya engkau katakan, ‘Orang tersebut telah lebih dahulu beriman dan beramal shalih dariku, maka ia lebih baik dariku.‘ Jika ada orang lainnya yang lebih muda darimu, maka seharusnya engkau katakan, ‘Aku telah lebih dulu bermaksiat dan berlumuran dosa serta lebih pantas mendapatkan siksa dibanding dirinya, maka dia sebenarnya lebih baik dariku.‘ Demikianlah sikap yang seharusnya engkau perhatikan ketika engkau melihat yang lebih tua atau yang lebih muda darimu.” (Hilyatul Awliya’ 2 : 226).
Silahkan dishare untuk menyebarkan ilmu agama dan kebaikan. Jazakumullahu khairan.
Demikian semoga bermanfaat.
@ Lombok, Pulau Seribu Masjid
Penyusun : Raehanul Bahraen.
Sumber : https://muslim.or.id/59430-jangan-jadi-penuntut-ilmu-yang-angkuh-dan-sombong.html
ADAB-ADAB HARI JUM'AT
.🔗 Gabung Wa grup : http://bit.ly/daftarwacm
.1. Memperbanyak Sholawat Nabi
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya, “Sesungguhnya hari yang paling utama bagi kalian adalah hari Jumat, maka perbanyaklah sholawat kepadaku di dalamnya, karena sholawat kalian akan ditunjukkan kepadaku, para sahabat berkata: ‘Bagaimana ditunjukkan kepadamu sedangkan engkau telah menjadi tanah?’ Nabi bersabda: ‘Sesungguhnya Allah mengharamkan bumi untuk memakan jasad para Nabi.” (Shohih. HR. Abu Dawud, Ibnu Majah, An-Nasa’i)
2. Mandi Jumat
Mandi pada hari Jumat wajib hukumnya bagi setiap muslim yang baligh berdasarkan hadits Abu Sa’id Al Khudri, di mana Rasulullah bersabda yang artinya, “Mandi pada hari Jumat adalah wajib bagi setiap orang yang baligh.” (HR. Bukhori dan Muslim).
Mandi Jumat ini diwajibkan bagi setiap muslim pria yang telah baligh, tetapi tidak wajib bagi anak-anak, wanita, orang sakit dan musafir. Sedangkan waktunya adalah sebelum berangkat sholat Jumat. Adapun tata cara mandi Jumat ini seperti halnya mandi janabah biasa. Rasulullah bersabda yang artinya, “Barang siapa mandi Jumat seperti mandi janabah.” (HR. Bukhari dan Muslim)
3. Menggunakan Minyak Wangi
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya, “Barang siapa mandi pada hari Jumat dan bersuci semampunya, lalu memakai minyak rambut atau minyak wangi kemudian berangkat ke masjid dan tidak memisahkan antara dua orang, lalu sholat sesuai yang ditentukan baginya dan ketika imam memulai khotbah, ia diam dan mendengarkannya maka akan diampuni dosanya mulai Jumat ini sampai Jumat berikutnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
4. Bersegera Untuk Berangkat ke Masjid
Anas bin Malik berkata, “Kami berpagi-pagi menuju sholat Jumat dan tidur siang setelah sholat Jumat.” (HR. Bukhari).
Al Hafidz Ibnu Hajar berkata, “Makna hadits ini yaitu para sahabat memulai sholat Jumat pada awal waktu sebelum mereka tidur siang, berbeda dengan kebiasaan mereka pada sholat zuhur ketika panas, sesungguhnya para sahabat tidur terlebih dahulu, kemudian sholat ketika matahari telah rendah panasnya.” (Lihat Fathul Bari II/388)
5. Sholat Sunnah Ketika Menunggu Imam atau Khatib
Abu Huroiroh radhiallahu ‘anhu menuturkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa mandi kemudian datang untuk sholat Jumat, lalu ia sholat semampunya dan dia diam mendengarkan khotbah hingga selesai, kemudian sholat bersama imam maka akan diampuni dosanya mulai jum’at ini sampai jum’at berikutnya ditambah tiga hari.” (HR. Muslim)
6. Tidak Duduk dengan Memeluk Lutut ketika Khatib Khutbah
“Sahl bin Mu’ad bin Anas mengatakan bahwa Rasulullah melarang Al Habwah (duduk sambil memegang lutut) pada saat sholat Jumat ketika imam sedang berkhotbah.” (Hasan. HR. Abu Dawud, Tirmidzi)
7. Sholat Sunnah Ba'diyah Jum'at
Rasulullah bersabda yang artinya, “Apabila kalian telah selesai mengerjakan sholat Jumat, maka sholatlah empat rakaat.” Amr menambahkan dalam riwayatnya dari jalan Ibnu Idris, bahwa Suhail berkata, “Apabila engkau tergesa-gesa karena sesuatu, maka sholatlah dua rakaat di masjid dan dua rakaat apabila engkau pulang.” (HR. Muslim, Tirmidzi)
8. Membaca Surat Al Kahfi
Nabi bersabda yang artinya, “Barang siapa yang membaca surat Al Kahfi pada hari Jumat maka Allah akan meneranginya di antara dua Jumat.” (HR. Imam Hakim dalam Mustadrok, dan beliau menshahihkannya)
Demikianlah sekelumit etika yang seharusnya diperhatikan bagi setiap muslim yang hendak menghidupkan ajaran Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika di hari Jumat. Semoga kita menjadi hamba-Nya yang senantiasa di atas sunnah Nabi-Nya dan selalu istiqomah di atas jalan-Nya.
🌐 Sumber: https://muslim.or.id/184-adab-pada-hari-jumat-sesuai-sunnah-nabi.html
.
BEBERAPA WASIAT RASULULLAH🍊🍎🍐🍋
من وصايا الرسول عليه الصلاة والسلام
Oleh:
Fahd bin Abdul Aziz Abdullah asy-Syuwairikh
فهد بن عبدالعزيز عبدالله الشويرخ
الحمد لله رب العالمين، والصلاة والسلام على أشرف الأنبياء والمرسلين، نبينا محمد وعلى آله وأصحابه أجمعين.. أما بعد:
فالوصية تعنى الأمر بالشيءٍ أمراً مؤكداً، ومن أُوصِيَ بوصية نافعة من محبٍ ناصحٍ صادقٍ مخلصٍ فإن العاقل يقبلها فإذا كانت هذه الوصية من رسول الله صلى الله عليه وسلم الذي لا يعلمُ خيراً إلاَّ دلَّ الأمة عليه ولا يعلمُ شراً إلا وحذر الأمة منه، فإن المؤمن لا يتردد في قبولها والعمل بها، ولقد أوصى رسول الله علية الصلاة والسلام بوصايا كثيرة ينبغي الحرص على العمل بها، ومنها:
Segala puji hanya bagi Allah, Tuhan semesta alam. Salawat dan salam semoga terlimpah kepada nabi dan rasul paling mulia, Nabi kita, Muhammad, dan kepada keluarga dan seluruh sahabat beliau. Amma ba’du:
Wasiat merupakan perintah yang tegas terhadap sesuatu. Ketika ada orang yang diberi nasihat yang bermanfaat dari orang tercinta yang tulus ikhlas, maka jika ia adalah orang yang berakal, niscaya ia akan menerima wasiat itu. Lalu ketika wasiat ini berasal dari Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, yang tidaklah beliau mengetahui suatu kebaikan melainkan akan menunjukkannya kepada umatnya, dan tidaklah beliau mengetahui keburukan melainkan akan memperingatkan umatnya darinya, maka seorang mukmin selayaknya tidak ragu sama sekali dalam menerima dan mengamalkan wasiat tersebut.
Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam telah memberi banyak wasiat yang hendaknya kita berusaha mengamalkannya, di antaranya adalah:
الوصية بتلاوة القرآن، وذكر الله، وبعدم كثرة الضحك:
عن أبي ذر رضي الله عنه قال: قلتُ يا رسول الله أوصني قال: (أوصيك… بتلاوة القرآن، وذكر الله، فإنه نور لك في الأرض، وذخر لك في السماء) قلت: يا رسول الله زدني قال: (إياك وكثرة الضحك فإنه يميت القلب) [أخرجه ابن حبان].
Wasiat untuk membaca Al-Qur’an, berzikir kepada Allah, dan tidak banyak tertawa
Diriwayatkan dari Abu Dzar Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku pernah berkata, ‘Wahai Rasulullah, berilah wasiat kepadaku.’ Kemudian beliau bersabda, ‘Aku berwasiat kepadamu untuk membaca Al-Qur’an dan berzikir kepada Allah, karena itu merupakan cahaya bagimu di dunia dan simpanan bagimu di langit.’ Lalu aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, tambahlah!’ Beliau bersabda, ‘Janganlah kamu banyak tertawa, karena itu mematikan hati.’” (HR. Ibnu Hibban).
الوصية بالعمل بكتاب الله عز وجل:
عن طلحة بن مصرف قال: سألت عبدالله بن أبي أوفى رضي الله عنهما: هل كان النبي صلى الله عليه وسلم أوصى؟ فقال: لا. فقلت: كيف كُتِبَ على الناس الوصية أو أمروا بالوصية؟ قال: أوصى بكتاب الله. [متفق عليه] قال الإمام النووي رحمه الله: وقوله (أوصى بكتاب الله) أي بالعمل بما فيه.
Wasiat untuk mengamalkan Kitab Allah ‘Azza wa Jalla
Diriwayatkan dari Thalhah bin Musharrif bahwa ia berkata, “Aku pernah bertanya kepada Abdullah bin Abi Aufa Radhiyallahu ‘anhuma, ‘Apakah dulu Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah berwasiat?’ Ia menjawab, ‘Tidak!’ Akupun bertanya lagi, ‘Lalu bagaimana orang-orang dituliskan wasiat atau diperintahkan berwasiat?’ Ia menjawab, ‘Beliau berwasiat tentang Kitabullah.’” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Imam An-Nawawi Rahimahullah berkata, “Yang dimaksud dengan berwasit tentang Kitabullah yakni mengamalkan apa yang ada di dalamnya.”
الوصية بالصلاة لوقتها:
عن أبي ذرٍ رضي الله عنه قال: أوصاني خليلي صلى الله عليه وسلم بثلاثة: (.. وصل الصلاة لوقتها) [أخرجه أحمد]
Wasiat untuk mendirikan salat pada waktunya
Diriwayatkan dari Abu Dzar Radhiyallahu ‘anhu bahwa ia berkata, “Kekasihku Shallallahu Alaihi wa Sallam berwasiat kepadaku tiga perkara, (dan di antaranya) ‘Dirikanlah salat pada waktunya’.” (HR. Ahmad).
الوصية بتقوى الله والسمع والطاعة لولي الأمر:
عن العرباض بن سارية رضي الله عنه قال وعظنا رسول الله صلى الله عليه وسلم يوماً بعد صلاة الغداة موعظة بليغة ذرفت منها العيون، ووجلت منها القلوب، فقال رجل: إن هذه موعظة مودع فبماذا تعهد إلينا يا رسول الله؟ قال: (أُوصيكم بتقوى الله، والسمع والطاعة وإن عبداً حبشي، فإنه من يعش منكم فسيرى اختلافاً كبيراً، وإياكم ومحدثات الأمور، فإنها ضلالة، فمن أدرك ذلك منكم فعليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين المهدين، عضّوا عليها بالنواجذ) [أخرجه أبو داود والترمذي]
والوصية بالتقوى، أوصى بها رسول الله عليه الصلاة والسلام رجلاً أراد السفر، فعن أبي هريرة رضي الله عنه أن رجلاً قال: يا رسول الله إني أريدُ أن أسافر فأوصني قال: (عليك بتقوى الله والتكبير على كل شرف) [أخرجه الترمذي] كما أوصى بها أبا ذرٍ رضي الله عنه، فعنه قال: قلتُ: يا رسول الله أوصني، قال: (أوصيك بتقوى الله فإنه رأس الأمر كله) [أخرجه ابن حبان]
والوصية بالسمع والطاعة لولي الأمر، أوصى بها النبي صلى الله عليه وسلم أبا ذرٍ رضي الله عنه، فعنه أنه انتهى إلى الربذة، وقد أُقيمت الصلاة، فإذا عبد يؤمهم، فقيل: هذا أبو ذر، فذهب يتأخر، فقال أبو ذرِّ: أوصاني خليلي صلى الله عليه وسلم أن أسمع وأطيع، وإن كان عبداً حبشياً مُجدع الأطراف. [أخرجه ابن ماجه] قال الإمام ابن رجب رحمه الله: السمع والطاعة لولاة أمور المسلمين فيها سعادة الدنيا وبها تنتظم مصالح العباد في معاشهم وبها يستعينون على إظهار دينهم وطاعة ربهم”
Wasiat untuk bertakwa kepada Allah dan menaati pemimpin
Diriwayatkan dari Al-Irbadh bin Sariyah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Suatu hari Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah menasihati kami setelah Salat Subuh dengan nasihat mendalam yang membuat air mata bercucuran dan hati bergetar. Lalu ada seorang sahabat yang berkata, ‘Ini seperti nasihat orang yang akan berpisah, lalu apa yang engkau wasiatkan kepada kami, wahai Rasulullah?’ Beliau bersabda, ‘Aku berwasiat kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah, dan menaati pemimpin meskipun ia adalah budak dari Habasyah, karena kelak orang yang hidup dari kalian akan melihat perselisihan yang besar. Jauhilah perkara-perkara bid’ah, karena ia merupakan kesesatan. Barang siapa dari kalian yang mendapati masa itu, maka hendaklah kalian berpegang pada sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk, peganglah itu dengan gigi geraham kalian.’” (HR. Abu Dawud dan at-Tirmidzi).
Wasiat untuk bertakwa juga diberikan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam kepada orang yang hendak bersafar. Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa ada seorang lelaki yang berkata, “Wahai Rasulullah! Aku hendak bersafar, maka berwasiatlah kepadaku!” Beliau bersabda, “Hendaklah kamu bertakwa kepada Allah, dan bertakbir di setiap tanjakan.” (HR. At-Tirmidzi). Beliau juga mewasiatkan takwa kepada Abu Dzar Radhiyallahu ‘anhu. Diriwayatkan bahwa ia pernah berkata, “Wahai Rasulullah, berilah wasiat kepadaku!” Rasulullah bersabda, “Aku wasiatkan kepadamu untuk bertakwa, karena ia adalah inti dari segala urusan.” (HR. Ibnu Hibban).
Adapun wasiat untuk taat kepada pemimpin, disampaikan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam kepada Abu Dzar Radhiyallahu ‘anhu. Diriwayatkan darinya bahwa ia pernah sampai di daerah Rabadzah, dan iqamah salat sudah dikumandangkan. Ternyata yang menjadi imam adalah seorang budak. Lalu ada orang yang berseru, “Ini ada Abu Dzar!” Kemudian imam itu mundur. Abu Dzar lalu berkata, “Kekasihku Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah berwasiat kepadaku untuk mendengar dan taat, meskipun kepada budak Habasyah yang tangan dan kakinya putus.” (HR. Ibnu Majah).
Imam Ibnu Rajab Rahimahullah berkata, “Patuh kepada pemimpin kaum Muslimin mengandung kebahagiaan dunia, karena dengan kepatuhan itu, urusan hidup banyak orang akan teratur dan itu dapat memudahkan mereka dalam menguatkan agama dan menaati Tuhan mereka.”
الوصية بالوتر وصوم ثلاثة أيام وركعتي الضحى:
عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: أوصاني خليلي صلى الله عليه وسلم بثلاث لا أدعهن حتى أموت: صوم ثلاثة أيامٍ من كل شهر، وصلاة الضحى، ونومٍ على وتر [متفق عليه] وعن أبي الدرداء رضي الله عنه قال: أوصاني حبيبي صلى الله عليه وسلم بثلاث لن أدعهن ما عشت: بصيام ثلاثة أيام من كل شهر، وصلاة الضحى، وبأن لا أنام حتى أوتر [أخرجه مسلم] وعن أبي ذر رضي الله عنه قال: أوصاني حبيبي صلى الله عليه وسلم، بثلاث، لا أدعهن إن شاء الله تعالى أبداً، أوصاني بصلاة الضحى، وبالوتر قبل النوم، وبصيام ثلاثة أيام من كل شهر، [أخرجه النسائي] ووصية عليه الصلاة والسلام لثلاثة من صحابته رضي الله عنهم بهذه الأمور، تؤكد أهميتها، فينبغي الحرص عليها.
Wasiat untuk mendirikan Salat Witir, berpuasa tiga hari setiap bulan, dan Salat Dhuha dua rakaat
Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Kekasihku Shallallahu Alaihi wa Sallam berwasiat kepadaku tiga perkara yang tidak akan aku tinggalkan hingga mati, puasa tiga hari setiap bulan, Salat Dhuha, dan tidur setelah Salat Witir.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Diriwayatkan dari Abu Ad-Darda Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Kekasihku Shallallahu Alaihi wa Sallam berwasiat kepada tiga perkara yang tidak akan aku tinggalkan selagi masih hidup: puasa tiga hari setiap bulan, Salat Dhuha, dan tidak tidur sebelum mendirikan Salat Witir.” (HR. Muslim).
Diriwayatkan dari Abu Dzar Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Kekasihku Shallallahu Alaihi wa Sallam berwasiat kepada tiga perkara yang Insyaallah tidak akan aku tinggalkan selamanya: beliau berwasiat kepadaku untuk mendirikan Salat Dhuha, Salat Witir sebelum tidur, dan puasa tiga hari setiap bulan.” (HR. An-Nasa’i).
Wasiat Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam kepada tiga sahabat beliau dengan tiga perkara ini semakin menegaskan pentingnya perkara-perkara tersebut, sehingga kita harus memberi perhatian besar padanya.
الوصية بصحابته رضوان الله عليهم والذين يلونهم ثم الذين يلونهم:
خطب عمر بن الخطاب رضي الله عنه فقال: أيها الناس إني قُمتُ فيكم كمقام رسول الله صلى الله عليه وسلم فينا فقال: (أُوصيكم بأصحابي ثم الذين يلونهم ثم الذين يلونهم) [أخرجه الترمذي] لقد حفظ أهل السنة والجماعة، وصية النبي عليه الصلاة والسلام في أصحابه رضي الله عنهم، فهم يحبونهم، ويترضون عنهم، ويتبعون منهجهم.
Wasiat untuk bersikap baik kepada para sahabat beliau, lalu generasi setelah mereka, dan generasi setelahnya lagi
Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘anhu pernah berkhutbah, “Wahai manusia sekalian! Aku berdiri di hadapan kalian, seperti berdirinya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam di hadapan kita dulu, lalu beliau bersabda, ‘Aku wasiatkan kepada kalian para sahabatku, lalu orang-orang setelah mereka, lalu orang-orang setelahnya lagi.’” (HR. At-Tirmidzi). Wasiat ini benar-benar dijalankan oleh Ahlusunah waljamaah, yakni wasiat Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam terhadap para sahabat beliau. Para Ahlusunah waljamaah mencintai mereka, mendoakan keridaan bagi mereka, dan mengikuti jalan hidup mereka.
الوصية بقول: اللهم أعني على ذكرك، وشكرك، وحسن عبادتك، دبر كل صلاة:
عن معاذ بن جبل رضي الله عنه أنَّ رسول الله أخذ بيده، وقال: (يا معاذ والله إني لأُحبك، أوصيك يا معاذ أن لا تدعن في دُبُر كل صلاةٍ تقول: اللهم أعنِّي على ذكرك وشكرك وحسن عبادتك) [أخرجه أبو داود] قال شيخ الإسلام ابن تيمية رحمه الله: ويُستحبُّ للمُصلى أن يدعو قبل السلام بما أوصى به النبي صلى الله عليه وسلم مُعاذاً، أن يقول دُبُر كل صلاة: (اللهم اعني على ذكرك، وشُكرك، وحُسن عبادتك)
Wasiat untuk mengucapkan di akhir shalat doa: Allahumma a’inni ‘ala dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibadatika
Diriwayatkan dari Muadz bin Jabal Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah memegang tangannya lalu bersabda, “Wahai Muadz! Demi Allah aku mencintaimu. Wahai Muadz! Aku wasiatkan kepadamu untuk tidak meninggalkan doa di akhir setiap salat: Allahumma a’inni ‘ala dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibadatika (Ya Allah, berilah pertolongan bagiku untuk berzikir, bersyukur, dan beribadah dengan baik kepada Engkau).” (HR. Abu Dawud).
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah berkata, “Dianjurkan bagi orang yang salat untuk berdoa sebelum salam dengan doa yang diwasiatkan Nabi kepada Muadz, yaitu: Allahumma a’inni ‘ala dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibadatika.”
الوصية بالجار:
عن أبي إمامة رضي الله عنه أن النبي علية الصلاة والسلام قال: (أوصيكم بالجار) [أخرجه أحمد] قال الحافظ ابن حجر رحمه الله: ويحصل امتثال الوصية به، بإيصال ضروب الإحسان إليه بحسب الطاقة كالهدية والسلام وطلاقة الوجه عند لقائه وتفقد حاله ومعاونته فيما يحتاج إليه…وكف أسباب الأذى عنه، على اختلاف أنواعه حسية كانت أو معنوية.
Wasiat untuk bersikap baik kepada tetangga
Diriwayatkan dari Abu Umamah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Aku wasiatkan kepada kalian (untuk bersikap baik) terhadap tetangga.” (HR. Ahmad).
Al-Hafizh Ibnu HajarRahimahullah berkata, “Penerapan wasiat ini dapat diwujudkan dengan memberi berbagai kebaikan kepada tetangga sesuai dengan kemampuan, seperti memberi hadiah, mengucap salam, menampakkan wajah berseri ketika berjumpa, menanyakan kabar, memberi bantuan yang dibutuhkan, dan tidak menimbulkan gangguan baginya dalam berbagai bentuknya baik yang lahir maupun batin.
الوصية بالنساء:
عن أبي هريرة رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: (استوصوا بالنساء خيراً) [متفق عليه] قال الحافظ ابن حجر رحمه الله قوله (بالنساء خيراً) كأن فيه رمزاً إلى التقويم برفق، بحيث لا يبالغ فيه فيكسر، ولا يتركه فيستمر على عوجه…وفي الحديث الندب إلى المدارة لاستمالة النفوس وتألف القلوب، وفيه سياسة النساء بأخذ العفو منهن، والصبر على عوجهن، قال العلامة ابن باز رحمه الله: هذا أمر للأزواج والآباء والإخوة وغيرهم أن يستوصوا بالنساء خيراً وأن يحسنوا إليهن وأن لا يظلموهن وأن يعطوهن حقوقهن”
Wasiat untuk bersikap baik kepada wanita
Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Saya wasiatkan kepada kalian untuk bersikap baik kepada kaum wanita.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Al-Hafizh Ibnu Hajar Rahimahullah berkata, “Sabda beliau: ‘Bersikap baiklah kepada kaum wanita’ memberi isyarat untuk mendidik wanita dengan lembut, dengan cara yang tidak keras yang dapat mematahkannya dan tidak membiarkannya yang membuatnya tetap bengkok.”
Hadis tersebut mengandung anjuran untuk bersikap bijak dalam memberi pengaruh bagi jiwa dan menyelaraskan hati. Juga mengandung anjuran bersiasat dalam memperlakukan wanita, dengan menerima permintaan maaf mereka dan bersabar atas kekeliruan mereka. Syaikh Ibnu Baz Rahimahullah berkata, “Perintah ini ditujukan kepada suami, ayah, saudara, dan lainnya agar bersikap baik kepada wanita, tidak menzalimi mereka, dan menunaikan hak-hak mereka.”
الوصية بعدم اللعن والسب:
عن جرموز الهجيمي رضي الله عنه قال: قلتُ: يا رسول الله أوصني. قال: (أُوصيك أن لا تكون لعاناً) [أخرجه أحمد] وقد أوصى النبي صلى الله عليه وسلم رجلاً أسلم بعدم السب، فعن أبي تميمة عن رجل من قومه، قال: شهدت رسول الله علية الصلاة والسلام أتاه رجل… فأسلم، ثم قال: أوصني يا رسول الله، فقال له: (لا تسبَّنَّ شيئاً) قال: فما سببتُ شيئاً: بعيراً ولا شاةً، منذ أوصاني رسول الله علية الصلاة والسلام [أخرجه أحمد]
Wasiat untuk tidak melaknat dan mengucap sumpah serapah
Diriwayatkan dari Jurmuz Al-Hujaimi Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku pernah berkata, ‘Wahai Rasulullah, wasiatkanlah kepadaku!’ Beliau bersabda, ‘Aku wasiatkan kepadamu untuk tidak menjadi orang yang banyak melaknat.’” (HR. Ahmad).
Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam juga pernah berwasiat kepada orang yang baru masuk Islam untuk tidak mencaci maki. Diriwayatkan dari Abu Tamimah dari seorang lelaki dari kaumnya yang berkata, “Aku menyaksikan Rasulullah didatangi seorang lelaki kemudian ia masuk Islam. Kemudian ia berkata, ‘Wasiatkanlah kepadaku, wahai Rasulullah!’ Beliau lalu bersabda, ‘Janganlah kamu mencaci apapun.’ Ia menceritakan, ‘Maka aku tidak pernah mencaci apapun, baik terhadap itu unta atau kambing, sejak Rasulullah mewasiatkan itu kepadaku.’” (HR. Ahmad).
الوصية بعدم الغضب:
عن أبي هريرة رضي الله عنه أن رجلاً قال للنبي صلى الله عليه وسلم أوصني، قال: (لا تغضب) فردد مراراً (لا تغضب) [أخرجه البخاري] قال الحافظ ابن رجب رحمه الله: هذا الرجل طلب من النبي صلى الله عليه وسلم أن يوصيه وصيةً جامعةً لخصال الخير، ليحفظها عنه، خشية أن لا يحفظها لكثرتها، فوصاه النبي صلى الله عليه وسلم: أن لا يغضب، ثم ردَّد هذه المسألة عليه مراراً، والنبي صلى الله عليه وسلم يردد عليه هذا الجواب، فهذا يدل على أن الغضب جماعُ الشَّرِّ، وأن التحرُّز منه جماع الخير…وقوله صلى الله عليه وسلم: (لا تغضب) يحتمل أمرين:
أحدهما: أن يكون مراده الأمر بالأسباب التي توجب حسن الخلق فإن النفس إذا تخلقت بهذه الأخلاق وصارت لها عادة أوجب لها ذلك دفع الغضب عند حصول أسبابه.
والثاني: أن يكون المراد لا تعمل بمقتضي الغضب إذا حصل لك، بل جاهد نفسك على ترك تنفيذه والعمل بما يأمر به، فإذا لم يمتثل الإنسان ما يأمرُهُ به غضبُهُ، وجاهد نفسه على ذلك، اندفع عنه شر الغضب، وربما سكن عنه غضبُهُ، وذهب عاجلاً، فكأنه – حينئذ – لم يغضب.
اللهم وفقنا للعمل بوصايا رسولك عليه الصلاة والسلام.
Wasiat untuk tidak marah
Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa seorang lelaki pernah berkata kepada Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, “Wasiatkanlah kepadaku!” Beliau lalu bersabda, “Jangan marah!” Beliau mengulanginya berkali-kali. (HR. Al-Bukhari).
Al-Hafizh Ibnu Rajab Rahimahullah berkata, “Lelaki itu meminta Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam untuk berwasiat kepadanya dengan wasiat yang menghimpun berbagai bentuk kebaikan, agar ia menghafal wasiat itu dan khawatir ia tidak dapat melaksanakannya karena terlalu banyak, maka Nabi berwasiat dengan ucapan, ‘Jangan marah!’ Namun, orang itu terus mengulangi permintaannya berkali-kali, tapi Nabi juga menjawabnya berkali-kali dengan ucapan yang sama. Hal ini menunjukkan bahwa marah merupakan penghimpun keburukan, dan terbebas darinya merupakan penghimpun kebaikan. Dan sabda beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam, ‘Jangan marah!’ mengandung dua kemungkinan makna:
Pertama: Maksudnya adalah perintah melakukan hal-hal yang mengundang akhlak yang baik, karena jika seseorang punya akhlak yang baik dan sudah menjadi tabiatnya, itu akan mendorongnya untuk menghindari kemarahan saat terjadi hal-hal yang menyulutnya.
Kedua: Maksudnya adalah tidak melampiaskan kemarahan saat kemarahan itu datang, tapi melawan hawa nafsu agar tidak melampiaskannya. Apabila seseorang tidak melampiaskan kemarahannya dan melawan hawa nafsunya dalam hal ini, maka keburukan amarah akan jauh darinya, dan bahkan kemarahan itu akan segera reda dan hilang, seakan-akan ia tidak marah sama sekali.
Ya Allah! Karuniakanlah kepada kami taufik untuk mengamalkan wasiat-wasiat Rasul-Mu Shallallahu Alaihi wa Sallamm.
Sumber:
https://www.alukah.net/من وصايا الرسول عليه الصلاة والسلام
Fawaid Hadist Bimbingan Islam
🔊 Hadist #89 | Manusia Dibangkitkan Berdasarkan Amalan Akhirnya
عَنْ جَابِرٍ رَضِيَ الله عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: « يُبْعَثُ كُلُّ عَبْدٍ عَلَى مَا مَاتَ عَلَيْهِ »
Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu dia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Setiap hamba Allah itu akan dibangkitkan dari kuburnya sama seperti keadaan ketika ia meninggal.” (HR. Muslim, no. 2878).
Faedah Hadist
Hadist ini memberikan faedah - faedah berharga, di antaranya;
Dorongan dan motivasi bagi setiap insan untuk memperindah amalan dengan amalan-amalan mulia dan terbaik, karena kelak akan dibangkitkan dari kuburnya sama seperti keadaan ketika ia meninggal, karena patokan amalan itu tergantung akhirnya.
Petunjuk tentang ketetapan hari kebangkitan, dan barang siapa yang mengingkarinya maka ia telah keluar dari agama islam dan islam berlepas diri darinya.
Setiap yang bernyawa pasti akan meninggalkan dunia ini tanpa pengecualian.
Setelah jasad hancur, manusia kemudian dibangkitkan yaitu mereka dihidupkan dan dikeluarkan dari kubur mereka. Sebagaimana Firman Allah ‘Azza wa Jalla;
زَعَمَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنْ لَنْ يُبْعَثُوا ۚ قُلْ بَلَىٰ وَرَبِّي لَتُبْعَثُنَّ ثُمَّ لَتُنَبَّؤُنَّ بِمَا عَمِلْتُمْ ۚ وَذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ
“Orang-orang yang kafir mengatakan bahwa mereka sekali-kali tidak akan dibangkitkan. Katakanlah: “Memang, demi Tuhanku, benar-benar kamu akan dibangkitkan, kemudian akan diberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan”. Yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (QS. At-Taghabun: 7)
Faedah berharga bahwa setiap hamba sepatutnya bersungguh – sungguh dalam menghabiskan setiap masa hidupnya dengan kesalehan dan berbagai macam ketaatan, tidak mencukupkan dengan kewajiban saja, bahkan berlomba-lomba dengan tidak menyia-nyiakan amalan-amalan Sunnah yang dianjurkan.
Kematian itu termasuk rahasia ilahi, menyapa tanpa pemberitahuan, tidak mengenal muda maupun tua, maka setiap manusia perlu bersiap dengan bekal terbaik untuk perjalan panjang setelah kematian.
Wallahu Ta’ala A’lam.
Referensi Utama: Syarah Riyadhus Shalihin karya Syaikh Shalih al Utsaimin, & Kitab Bahjatun Naazhiriin Syarh Riyaadhish Shaalihiin karya Syaikh Salim bin ‘Ied Al Hilaliy.
👤 Ustadz Fadly Gugul S.Ag., M.Ag.
🌎 https://bimbinganislam.com/fawaid-hadist-89-manusia-dibangkitkan-berdasarkan-amalan-akhirnya/
Kaum muslimin, khususnya anggota GiS -Grup Islam Sunnah- yang semoga dirahmati oleh Allah Jalla Jalaluh.
Na'am. Hadits yang selanjutnya.
وَعَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ ، قَالَ : كَانَ أَخَوَانِ عَلَى عَهْدِ النَّبِيِّ ﷺ ، وَكَانَ أَحَدُهُمَا يَأْتِي النَّبِيِّ ﷺ ، وَالْآخَرُ يَحْتَرِفُ ، فَشَكَا الْمُحْتَرِفُ أَخَاهُ لِلنَّبِيِّ ﷺ ، فَقَالَ : ❲ لَعَلَّكَ تُرْزَقُ بِهِ❳ . ❊ رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ [٢٣٤٦] بِإِسْنَادٍ صَحِيحٍ عَلَى شَرْطِ مُسْلِمٍ.
Dari Anas radhiyallahu 'anhu ia menceritakan, pada masa Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam ada dua orang yang bersaudara. Yang satu suka mendatangi dan menemui Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam untuk menuntut ilmu agama, dan yang lain giat bekerja supaya saudaranya bisa mendapatkan rezeki. Kemudian orang yang giat bekerja mengadu kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam tentang keadaan saudaranya itu. Lantas Beliau bersabda, "Barangkali engkau mendapatkan rezeki karena sebab saudaramu itu."
(Hadits diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dengan sanad yang shahih)
Subhanallah, Jamaah.
Hadits ini menjelaskan tentang salah satu kunci rezeki, yaitu membantu orang yang menuntut ilmu. Ada dua saudara di masa Nabi 'Alaihis-shalatu wassalam; yang satu bekerja, yang satu belajar sama Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam. Yang bekerja merasa tidak dibantu oleh saudaranya, sehingga dia mengeluhkan apa yang dilakukan oleh saudaranya karena belajar dan tidak mau membantunya. Akhirnya Nabi 'Alaihis-shalatu wassalam memberikan penjelasan kepada dia.
❲ لَعَلَّكَ تُرْزَقُ بِهِ ❳
"Bisa jadi engkau dapat rezeki itu gara-gara dia (disebabkan dia menuntut ilmu)."
Para Jamaah rahimakumullah.
Ana masih ingat dengan kisah Abu Yusuf, muridnya Abu Hanifah. Abu Yusuf ini yatim. Ibunya membawa Abu Yusuf yang masih kecil untuk bekerja, membantu di tempatnya. Ya salah satu pekerja lah, tukang motongin baju atau apa. Dia bekerja di sana.
Dalam perjalanan menuju ke tempat kerjanya, selalu melewati majelisnya Abu Hanifah. Maka Abu Yusuf mampir ke sana, belajar di sana. Dicari sama ibunya, enggak ada di tempat kerjanya, akhirnya datang ke majelis itu. Diambil, dibawa, tapi anaknya tetap maunya belajar. Akhirnya ibunya (Abu Yusuf) datang menjumpai Abu Hanifah, mengatakan kepada dia, Ini anakku rusak gara-gara engkau. Dia ini yatim tidak ada bapaknya. Aku membantu dia dengan tenunan yang aku bikin, tapi ana suruh dia kerja supaya dia ada yang bisa dia buat makan.
Apa kata Abu Hanifah? Ya ra'na, kata dia. Engkau tahu, dia itu di sini sedang belajar memakan الْفَالُوذَجُ بِدُهْنِ الْفُسْتُقِ.
Faaludzaj (الْفَالُوذَجُ) itu salah satu makanan raja, makanan orang-orang kaya; faaludzaj: manisan yang dikasih minyaknya pistachio.
Katanya ibunya Abu Yusuf mengatakan kepada Abu Hanifah, Haduh, engkau ini orang tua yang sudah mulai rusak pikiran. Akhirnya ditinggal sama ibunya Abu Yusuf.
Dan Subhanallah, Abu Yusuf setelah meninggalnya Abu Hanifah, dia menjadi hakim agung di masa pemerintahan Khilafah Harun Al-Rasyid.
Suatu hari, lagi duduk sama Harun Al-Rasyid, disuguhkan satu makanan yang aneh buat Abu Yusuf. Harun Al-Rasyid mengatakan,
كُلْ يَا أَبَا يُوسُفَ
Silakan engkau makan. Ini jarang-jarang dibikin di tempat kita nih.
"Apa ini?" kata dia.
Ini " الْفَالُوذَجُ بِدُهْنِ الْفُسْتُقِ ".
Akhirnya ketawa Abu Yusuf. Ditanya oleh Amirul Mukminin, Kenapa engkau tertawa? Engkau harus cerita, ada apa nih ketawa? Ceritalah Abu Yusuf tentang peristiwa bagaimana ibunya ribut dengan Abu Hanifah, dan cerita dia sedang belajar untuk makan makanan ini.
Baarakallahu fiik.
Kita lihat, nih. Menuntut ilmu itu termasuk salah satu kewajiban seorang muslim. Ketika dua bersaudara; yang satu menuntut ilmu, yang satu bekerja, maka ketahuilah bahwa yang bekerja bukan jadi lebih baik daripada yang menuntut ilmu. Yang bekerja ini bisa jadi rezekinya dilapangkan karena dia membantu yang menuntut ilmu.
Dan ini banyak kita lihat Jamaah, dalam kehidupan ini. Ada kakak yang bekerja buat adiknya di sekolah, buat adiknya yang di pesantren, dan Allah mudahkan rezeki buat dia. Dan kita harus tahu pula bahwasanya salah satu kunci rezeki itu adalah membantu orang yang perlu bantuan.
Bahkan Nabi 'Alaihis-shalatu wassalam mengatakan,
❲ إِنَّمَا تُنْصَرُونَ وَتُرْزَقُونَ بِضُعَفَائِكُمْ ❳
"Kalian itu dibantu (ditolong) sama Allah, karena orang-orang yang lemah di antara kalian."
Dan ini tidak bertentangan dengan tawakal. Artinya yang satu usaha, yang satu menuntut ilmu, dua-duanya sedang meraih keridhaan Allah Jalla Jalaluh.