Sabtu, 30 Agustus 2025

LINK SHORT VIDEO AGUSTUS 2025

 LINK SHORT VIDEO AGUSTUS 2025


👉 LIHAT : LINK 


Setiap cinta selalu disertai dengan rasa takut dan harap.

 

Bismillah

Ibnu al-Qayyim -rahimahullah- pernah berkata: “Setiap cinta selalu disertai dengan rasa takut dan harap.

 Dan sejauh mana cinta itu bersemayam dalam hati seorang pecinta, sebesar itu pula rasa takut dan harapnya akan menguat.”

Kalimat ini mengajarkan kepada kita bahwa cinta sejati kepada Allah -subhanahu wata'ala- tidak boleh berdiri sendiri. Ia selalu ditemani oleh dua temannya: rasa takut dan rasa harap.

Seorang hamba yang benar-benar mencintai Rabbnya akan takut bila cintanya berkurang, takut bila amalnya tidak diterima, takut bila dosa-dosanya menutupi jalan menuju keridaan-Nya. 

Namun, rasa takut itu tidak membuatnya putus asa, sebab ia juga penuh dengan harap: berharap ampunan, berharap kasih sayang, berharap dapat bertemu dengan-Nya dalam keadaan Allah rida kepadanya.

Semakin dalam cinta itu berakar dalam hati, semakin besar pula ketakutan dan pengharapannya

. Inilah keseimbangan yang membuat seorang hamba tetap berjalan lurus di jalan menuju Allah. Ia tidak terjerumus dalam kelalaian karena terlalu berharap, dan tidak pula jatuh dalam keputusasaan karena terlalu takut.

Maka marilah kita bertanya pada diri kita sendiri: sejauh mana cinta kita kepada Allah telah melahirkan rasa takut dan harap dalam hati?


JANGAN LELAH BERDOA

وَاِذَا سَاَلَكَ عِبَادِيْ عَنِّيْ فَاِنِّيْ قَرِيْبٌۗ اُجِيْبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ اِذَا دَعَانِۙ فَلْيَسْتَجِيْبُوْا لِيْ وَلْيُؤْمِنُوْا بِيْ لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُوْنَ ۝١٨٦

Apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Nabi Muhammad) tentang Aku, sesungguhnya Aku dekat.
 Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. 
Maka, hendaklah mereka memenuhi (perintah)-Ku 
dan beriman kepada-Ku agar mereka selalu berada dalam kebenaran.

Allah akan berikan pemimpin yang sesuai dengan rakyatnya

 

 Allah akan berikan pemimpin yang sesuai dengan rakyatnya

بسم الله الرحمن الرحيم

🍂" Jika ingin menyalahkan jeleknya kepemimpinan pemimpin, maka rakyatnyalah yang lebih dahulu mengintropeksi diri. Karena pemimpin adalah cerminan dari rakyatnya. 

Ibnu Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah berkata (yg artinya) :

“Renungkanlah hikmah Allah Ta’ala dalam keputusan-Nya memilih para raja, pemimpin dan pelindung umat manusia adalah sama dengan amalan rakyatnya bahkan perbuatan rakyat seakan-akan adalah cerminan dari pemimpin dan penguasa mereka. 

Jika rakyat lurus, maka akan lurus juga penguasa mereka. Jika rakyat adil, maka akan adil pula penguasa mereka. 

Namun, jika rakyat berbuat zholim, maka penguasa mereka akan ikut berbuat zholim. 

Jika tampak tindak penipuan di tengah-tengah rakyat, maka demikian pula hal ini akan terjadi pada pemimpin mereka. 

Jika rakyat menolak hak-hak Allah dan enggan memenuhinya, maka para pemimpin juga enggan melaksanakan hak-hak rakyat dan enggan menerapkannya. 

Jika dalam muamalah rakyat mengambil sesuatu dari orang-orang lemah, maka pemimpin mereka akan mengambil hak yang bukan haknya dari rakyatnya serta akan membebani mereka dengan tugas yang berat. 

Setiap yang rakyat ambil dari orang-orang lemah maka akan diambil pula oleh pemimpin mereka dari mereka dengan paksaan.

Dengan demikian setiap amal perbuatan rakyat akan tercermin pada amalan penguasa mereka. Berdasarkah hikmah Allah, seorang pemimpin yang jahat dan keji hanyalah diangkat sebagaimana keadaan rakyatnya..” 

[Miftah Daris Sa’adah hal. 253, Darul Kutub Al-‘Ilmiyyah, Beirut, Syamilah]

✍️ Ustadz dr. Raehanul Bahraen, M.Sc., Sp.PK. hafizhahullahu ta’ala 

‎‎
𝗟𝗔𝗥𝗔𝗡𝗚𝗔𝗡 𝗠𝗘𝗡𝗚𝗞𝗛𝗜𝗔𝗡𝗔𝗧𝗜 𝗞𝗘𝗣𝗘𝗥𝗖𝗔𝗬𝗔𝗔𝗡
‎Allah 'azza wa jalla berfirman:
"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu berkhianat kepada Allah dan Rasul, dan janganlah kamu berkhianat terhadap amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahuinya."
(‎QS. Al-Anfal: 27)

💦 KEKOKOHAN IMAM AHMAD MEMEGANG PRINSIP TAAT KEPADA PENGUASA (DALAM HAL YANG MAKRUF) SEKALIPUN FAJIR 🍃

https://www.facebook.com/share/p/16qgPibeAy/

Hanbal rahimahullah - salah satu murid al-Imam Ahmad - menceritakan :
"Para ahli fiqih di Baghdad berkumpul menemui Abu Abdilllah - yakni al-Imam Ahmad - terkait kepemimpinan al-Watsiq. Para ulama tersebut berkata : "sesungguhnya urusan dia sudah tersebar dan viral, - yakni maksud mereka kampanye Al-Qur`an makhluk dan penyimpangan lainnya (yang dilakukan oleh rezim al-Watsiq) - Kami sudah tidak rela lagi dengan kepemimpinan dan pemerintahannya".
Mereka mencoba bermusyawarah dengan Imam Ahmad (terkait langkah-langkah yang seharusnya diambil).
Al-Imam Ahmad berkata :

عَلَيْكُمْ بِالنَّكِرَةِ بِقُلُوبِكُمْ، وَلَا تَخْلَعُوا يَدًا مِنْ طَاعَةٍ، وَلَا تَشُقُّوا عَصَا الْمُسْلِمِينَ، وَلَا تَسْفِكُوا دِمَاءَكُمْ وَدِمَاءَ الْمُسْلِمِينَ مَعَكُمُ، انْظُرُوا فِي عَاقِبَةِ أَمْرِكُمْ، وَاصْبِرُوا حَتَّى يَسْتَرِيحَ بَرٌّ، أَوْ يُسْتَرَاحَ مِنْ فَاجِرٍ

"Wajib bagi kalian mengingkarinya dalam hati, janganlah kalian melepaskan tangan kalian dari ketaatan kepadanya, janganlah kalian mematahkan tongkatnya kaum muslimin, jangan biarkan darah kalian mengalir dan darah kaum muslimin yang bersama kalian, pikirkanlah baik-baik akibat jeleknya, bersabarlah sampai orang-orang yang baik beristirahat atau orang yang fajir tersebut diistirahatkan".
(Diriwayatkan oleh al-Kholaal dalam "as-Sunnah", I/133).

Dalam "al-Adab asy-Syariah", (I/175) tulisan Imam Ibnu Muflih terdapat tambahan :

وَقَالَ لَيْسَ هَذَا صَوَاب، هَذَا خِلَاف الْآثَار.

Lanjut Imam Ahmad : "hal ini - yakni melepaskan ketaatan kepadanya - tidaklah benar, ini menyelisihi atsar (Salafunaa shalih)".

Kekokohan beliau menjadi luar biasa, karena beliau juga sebagai korban kriminalisasi penguasanya pada waktu itu, namun prinsip akidah salafiyyah ini tetap dipegang teguh oleh beliau rahimahullah, sekalipun mendapatkan balasan kezaliman dari penguasanya.

Abu Sa'id Neno Triyono at-Tighali

Allaahu A'lam






بسم الله الرحمن الرحيم

🍂"  Jalan Sunnah dalam Menyikapi Penguasa yang Zalim

Dalam setiap masa, "fitnah" terhadap penguasa sering menjadi ujian besar bagi kaum muslimin. Banyak orang tergelincir dalam sikap yang salah akibat dorongan emosi, dan semangat yang tidak dibingkai dengan ilmu. 

Akhirnya, mereka meluapkan emosi mereka di mimbar-mimbar, podium podium, di berbagai pertemuan dan majelis, bahkan mereka turun ke jalan-jalan melakukan aksi protes yang anarkis dan berujung kepada seruan untuk melakukan pemberontakan dan pelengseran terhadap penguasa yang zalim!

Di tengah guncangan itu, para ulama rabbani senantiasa memberikan bimbingan agar umat tidak terjatuh ke dalam kesalahan yang membahayakan agama dan dunia mereka.

Salah satu nasihat berharga datang dari Imam al-Barbahariy -rahimahullah-, seorang ulama Ahlus Sunnah yang tegas dalam menjelaskan manhaj yang lurus. 

🟪 Imam al-Barbahariy -rahimahullah- berkata,

"ليس من السنة قتال السلطان، فإن فيه فساد الدين والدنيا."
~ شرح السنة (٥٨)

“Bukan termasuk sunnah, memerangi penguasa. Karena, di dalamnya terdapat kerusakan agama dan dunia.”
📙 ~ Syarh As-Sunnah (58)

Betapa indah dan bernilainya nasihat ini; ia mengajarkan kita bahwa kesabaran dan ketaatannya dalam mengikuti Sunnah, lebih menyelamatkan daripada jalan memberontak yang penuh darah dan kehancuran. 

Barangsiapa yang memelihara sikapnya sesuai tuntunan Sunnah, niscaya ia akan menjaga agamanya dari kerusakan dan menutup pintu fitnah yang merusak kehidupan dunia, bahkan agama!

🟣 Faedah dari Nasihat ini:

Berikut beberapa faedah yang dapat dipetik dari nasihat Imam al-Barbahariy -rahimahullah-:

1) Nasihat ini menunjukkan manhaj Ahlus Sunnah dalam menyikapi penguasa bahwa memerangi penguasa muslim, bukanlah jalan yang ditempuh oleh para ulama salaf, meskipun mereka zalim.

2) Larangan memberontak demi menjaga agama dan dunia. Karena, pemberontakan hanya menimbulkan pertumpahan darah, kerusakan, serta membuka pintu fitnah besar.

3) Kesabaran lebih utama daripada mengangkat senjata. Dalam menghadapi kezaliman, sabar dan nasihat secara bijak lebih bermanfaat daripada kekerasan yang merusak.

4) Menutup pintu fitnah. Dengan menahan diri dari memberontak, kaum muslimin terhindar dari fitnah yang bisa menghilangkan nikmat keamanan, ilmu, dan ibadah.

5) Arahan beliau ini menunjukkan kasih sayang ulama kepada umat. Ulama mengingatkan agar umat tidak memilih jalan yang merugikan mereka sendiri, baik dalam urusan agama, maupun kehidupan duniawi.

6) Nasihat ini menegaskan bahwa sunnah bukan hanya ibadah ritual, tetapi juga manhaj dalam berpolitik. Sunnah juga mencakup cara bersikap terhadap penguasa, sehingga orang yang menyelisihinya terjatuh pada bid‘ah.

7) Menjaga persatuan umat. Dengan tidak memerangi penguasa, kaum muslimin tetap berada dalam satu kepemimpinan sehingga terhindar dari perpecahan yang lebih besar. Ketika ada masalah, maka diselesaikan dengan kepala dingin dan hati tenang.
Cukuplah kita mengambil pelajaran dari negara-negara lain yang rakyatnya melakukan perlawanan dan pemberontakan; di mana rakyatnya setelah berhasil melakukan aksi demonstrasi dan berakibat menggulingkan pemerintah. 
Pada akhirnya, mereka menyesal dengan sebenar-benarnya penyesalan karena bukan kebaikan yang mereka dapatkan, akan tetapi kerusakan dan kehancuran negeri mereka, seperti yang terjadi di Libya!

Gowa, 06 Robi'ul Awwal 1447 Hijriyah 

✍ Ustadz Abdul Qodir Abu Fa'izah Al-Bughisiy -hafizhahullah-

Silahkan gabung di group WhatsApp MENGAJI QUR'ANSUNNAH7 👇🏻 


ARTIKEL



DATANGI SHALAT JUM’AT SEGERA, DAN LEKAS TINGGALKAN KESIBUKAN

 

🍂" DATANGI SHALAT JUM’AT SEGERA, DAN LEKAS TINGGALKAN KESIBUKAN

💎Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَىٰ ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ ﴿٩﴾ فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ ﴿١٠﴾ وَإِذَا رَأَوْا تِجَارَةً أَوْ لَهْوًا انْفَضُّوا إِلَيْهَا وَتَرَكُوكَ قَائِمًا ۚ قُلْ مَا عِنْدَ اللَّهِ خَيْرٌ مِنَ اللَّهْوِ وَمِنَ التِّجَارَةِ ۚ وَاللَّهُ خَيْرُ الرَّازِقِينَ 

"Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allâh dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allâh dan ingatlah Allâh banyak-banyak supaya kamu beruntung. Dan apabila mereka melihat perniagaan atau permainan, mereka bubar untuk menuju kepadanya dan mereka tinggalkan kamu sedang berdiri (berkhotbah). Katakanlah: “Apa yang di sisi Allâh lebih baik daripada permainan dan perniagaan”, dan Allâh sebaik-baik pemberi rezeki."

📖[al-Jumu’ah/62: 9-11].

📌Dan ketahuilah bahwa malaikat mencatat menunggumu di pintu-pintu masjid.

💫Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

إذا كان يومُ الجمعةِ كان على كلِّ بابٍ من أبوابِ المسجدِ الملائكة يكتبون الأولَ فالأولَ، فإذا جلس الإمامُ طوَوُا الصحفَ وجاؤوا يستمعون الذكرَ.

"Apabila hari Jum'at tiba maka akan ada para malaikat di setiap pintu-pintu masjid. Mereka akan mencatat orang yang pertama kali datang lalu berikutnya dan berikutnya sampai apabila Imam telah duduk di mimbarnya mereka pun melipat catatan-catatan tersebut. Lantas mereka pun datang dan ikut mendengarkan khutbah."

📚(HR. Bukhari nomor: 3211)

📌Maka bersegeralah ke mesjid dan perbanyak ibadah di hari istimewa ini.

Raih amal shalih dengan menyebarkan kiriman ini, semoga bermanfaat. Jazakumullahu khoiron.

💠IslamAdalahSunnah

Silahkan gabung di group WhatsApp MENGAJI MUSLIMAH6 👇🏻 

https://chat.whatsapp.com/GaQBZJW9siFB4EUEUGJyPB

3 CARA PANDANG MENGHADAPI HARGA SEMBAKO YANG MELAMBUNG TINGGI

 3 CARA PANDANG KAUM MUSLIMIN MENGHADAPI HARGA SEMBAKO YANG MELAMBUNG TINGGI

••⊰❃🥑🫒❁⊱••⊰❁🫒🥑❁⊱••

1. Bahwa kenaikan harga barang merupakan ketetapan Allah

Disebutkan dalam riwayat bahwa di zaman sahabat pernah terjadi kenaikan harga. Mereka pun mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menyampaikan masalahnya. Mereka mengatakan, “Wahai Rasulullah, harga-harga barang banyak yang naik, maka tetapkan keputusan yang mengatur harga barang.” Mendengar aduhan ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, 

“Sesungguhnya Allah adalah Dzat yang menetapkan harga, yang menyempitkan dan melapangkan rezeki, Sang Pemberi rezeki. Sementara aku berharap bisa berjumpa dengan Allah dalam keadaan tidak ada seorang pun dari kalian yang menuntutku disebabkan kezalimanku dalam urusan darah maupun harta.”

📚(HR. Ahmad 12591, Abu Daud 3451, Turmudzi 1314, Ibnu Majah 2200, dan dishahihkan Al-Albani).

2. Kenaikan harga barang, tidak mempengaruhi rezeki seseorang

_🥝“Wahai sekalian manusia, sesungguhnya kalian tidak akan mati sampai sempurna jatah rezekinya, karena itu, jangan kalian merasa rezeki kalian terhambat dan bertakwalah kepada Allah, wahai sekalian manusia. Carilah rezeki dengan baik, ambil yang halal dantinggalkan yang haram.”

🔰(HR. Baihaqi dalam sunan al-Kubro 9640, dishahihkan Hakim dalam Al-Mustadrak 2070 dan disepakati Ad-Dzahabi)

3. Ulama Jaman Dahulu tidak peduli dengan kenaikan harga ini, sekalipun 1 biji gandum seharga 1 dinar

Di masa silam, terjadi kenaikan harga pangan sangat tinggi. Merekapun mengadukan kondisi ini kepada salah seorang ulama di masa itu. Kita lihat, bagaimana komentar beliau, “Demi Allah, saya tidak peduli dengan kenaikan harga ini, sekalipun 1 biji gandum seharga 1 dinar! Kewajibanku adalah beribadah kepada Allah, sebagaimana yang Dia perintahkan kepadaku, dan Dia akan menanggung rizkiku, sebagaimana yang telah Dia janjikan kepadaku.”

Referensi: https://konsultasisyariah.com/21488-nasehat-ketika-terjadi-kenaikan-harga-barang.html

JANGAN MENJADI PENUNTUT ILMU YANG ANGKUH DAN SOMBONG

 JANGAN MENJADI PENUNTUT ILMU YANG ANGKUH DAN SOMBONG


Kita sebagai penuntut ilmu (thalibul ‘ilmi), hendaknya harus mengetahui celah setan untuk menyesatkan manusia. Kita telah mengetahui bahwa salah satu cara setan menyesatkan manusia adalah dengan harta dan ketamakan terhadap dunia.

GWA "SJYL 1"  👇

https://chat.whatsapp.com/EU20D4RtRl7LHg9YAWPSNP

GWA "SJYL 2"  👇

https://chat.whatsapp.com/DLyYXwRSGtoLmohTLcwKHV


Akan tetapi, sedikit dari kita yang mengetahui bahwa setan juga menyesatkan manusia melalui ilmu. Yaitu dengan membuat pemilik ilmu tersebut menjadi angkuh, sombong, dan merendahkan manusia karena merasa sudah berilmu. Umumnya ditunjukkan dengan sifat yang keras, hobi berdebat kusir, dan banyak membicarakan kesalahan orang lain secara tidak bijak.

Wahb bin Munabbih rahimahullah berkata :

إن للعلم ظغيانا كطغيان المال

“Sesungguhnya ilmu memiliki keangkuhan sebagaimana keangkuhan harta.” (An-Nubadz fi Adabi Thalabil Ilmi, hal. 185).

Bisa jadi banyak manusia yang tahu bahwa harta adalah fitnah terbesar umat Islam dan membuat pemiliknya menjadi sombong. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam :

إِنَّ لِكُلِّ أُمَّةٍ فِتْنَةً، وَفِتْنَةَ أُمَّتِي الْمَالُ

“Sesungguhnya pada setiap umat ada fitnah (ujiannya) dan fitnah umatku adalah harta.” (HR. Bukhari).

Demikian juga dengan ilmu, dapat membuat pemiliknya menjadi sombong dan angkuh. Perhatikanlah perkataan yang dinukil oleh Syaikh Bakr Abu Zaid rahimahullah berikut :

العلم ثلاثة أشبار، من دخل في الشبر الأول تكبر، ومن دخل في الشبر الثانى تواضع، ومن دخل في الشبر الثالث علم أنه ما يعلم

“Ilmu itu ada tiga jengkal. Barangsiapa yang masuk jengkal pertama, dia menjadi sombong. Barangsiapa yang masuk jengkal kedua, dia menjadi tawadhu’. Barangsiapa yang masuk jengkal ketiga, dia baru menyadari bahwa dirinya tidak tahu (masih sedikit ilmunya).” (Hilyah Thalibil ‘Ilmi, hal. 79).

Hendaknya kita tidak sombong hanya karena memiliki ilmu, karena kita tidak layak mensucikan diri sendiri lalu merendahkan orang lain. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

فَلَا تُزَكُّوا أَنفُسَكُمْ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى

“Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui siapa orang yang bertakwa.” (QS. An-Najm : 32).

Salah satu cara agar terhindar dari sifat sombong adalah berusaha melihat orang lain lebih baik dari kita. ‘Abdullah Al-Muzani rahimahullah berkata :

إن عرض لك إبليس بأن لك فضلاً على أحد من أهل الإسلام فانظر، فإن كان أكبر منك فقل قد سبقني هذا بالإيمان والعمل الصالح فهو خير مني، وإن كان أصغر منك فقل قد سبقت هذا بالمعاصي والذنوب واستوجبت العقوبة فهو خير مني، فإنك لا ترى أحداً من أهل الإسلام إلا أكبر منك أو أصغر منك.

“Jika iblis memberikan was-was kepadamu bahwa engkau lebih mulia dari muslim lainnya, maka perhatikanlah. Jika ada orang lain yang lebih tua darimu, maka seharusnya engkau katakan, ‘Orang tersebut telah lebih dahulu beriman dan beramal shalih dariku, maka ia lebih baik dariku.‘ Jika ada orang lainnya yang lebih muda darimu, maka seharusnya engkau katakan, ‘Aku telah lebih dulu bermaksiat dan berlumuran dosa serta lebih pantas mendapatkan siksa dibanding dirinya, maka dia sebenarnya lebih baik dariku.‘ Demikianlah sikap yang seharusnya engkau perhatikan ketika engkau melihat yang lebih tua atau yang lebih muda darimu.” (Hilyatul Awliya’ 2 : 226).


Silahkan dishare untuk menyebarkan ilmu agama dan kebaikan. Jazakumullahu khairan.

Demikian semoga bermanfaat.

@ Lombok, Pulau Seribu Masjid

Penyusun : Raehanul Bahraen.

Sumber : https://muslim.or.id/59430-jangan-jadi-penuntut-ilmu-yang-angkuh-dan-sombong.html

ADAB-ADAB HARI JUM'AT

 ADAB-ADAB HARI JUM'AT

.🔗 Gabung Wa grup : http://bit.ly/daftarwacm

.1. Memperbanyak Sholawat Nabi

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya, “Sesungguhnya hari yang paling utama bagi kalian adalah hari Jumat, maka perbanyaklah sholawat kepadaku di dalamnya, karena sholawat kalian akan ditunjukkan kepadaku, para sahabat berkata: ‘Bagaimana ditunjukkan kepadamu sedangkan engkau telah menjadi tanah?’ Nabi bersabda: ‘Sesungguhnya Allah mengharamkan bumi untuk memakan jasad para Nabi.” (Shohih. HR. Abu Dawud, Ibnu Majah, An-Nasa’i)

2. Mandi Jumat

Mandi pada hari Jumat wajib hukumnya bagi setiap muslim yang baligh berdasarkan hadits Abu Sa’id Al Khudri, di mana Rasulullah bersabda yang artinya, “Mandi pada hari Jumat adalah wajib bagi setiap orang yang baligh.” (HR. Bukhori dan Muslim).

Mandi Jumat ini diwajibkan bagi setiap muslim pria yang telah baligh, tetapi tidak wajib bagi anak-anak, wanita, orang sakit dan musafir. Sedangkan waktunya adalah sebelum berangkat sholat Jumat. Adapun tata cara mandi Jumat ini seperti halnya mandi janabah biasa. Rasulullah bersabda yang artinya, “Barang siapa mandi Jumat seperti mandi janabah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

3. Menggunakan Minyak Wangi

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya, “Barang siapa mandi pada hari Jumat dan bersuci semampunya, lalu memakai minyak rambut atau minyak wangi kemudian berangkat ke masjid dan tidak memisahkan antara dua orang, lalu sholat sesuai yang ditentukan baginya dan ketika imam memulai khotbah, ia diam dan mendengarkannya maka akan diampuni dosanya mulai Jumat ini sampai Jumat berikutnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

4. Bersegera Untuk Berangkat ke Masjid

Anas bin Malik berkata, “Kami berpagi-pagi menuju sholat Jumat dan tidur siang setelah sholat Jumat.” (HR. Bukhari).

Al Hafidz Ibnu Hajar berkata, “Makna hadits ini yaitu para sahabat memulai sholat Jumat pada awal waktu sebelum mereka tidur siang, berbeda dengan kebiasaan mereka pada sholat zuhur ketika panas, sesungguhnya para sahabat tidur terlebih dahulu, kemudian sholat ketika matahari telah rendah panasnya.” (Lihat Fathul Bari II/388)

5. Sholat Sunnah Ketika Menunggu Imam atau Khatib

Abu Huroiroh radhiallahu ‘anhu menuturkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa mandi kemudian datang untuk sholat Jumat, lalu ia sholat semampunya dan dia diam mendengarkan khotbah hingga selesai, kemudian sholat bersama imam maka akan diampuni dosanya mulai jum’at ini sampai jum’at berikutnya ditambah tiga hari.” (HR. Muslim)

6. Tidak Duduk dengan Memeluk Lutut ketika Khatib Khutbah

“Sahl bin Mu’ad bin Anas mengatakan bahwa Rasulullah melarang Al Habwah (duduk sambil memegang lutut) pada saat sholat Jumat ketika imam sedang berkhotbah.” (Hasan. HR. Abu Dawud, Tirmidzi)

7. Sholat Sunnah Ba'diyah Jum'at

Rasulullah bersabda yang artinya, “Apabila kalian telah selesai mengerjakan sholat Jumat, maka sholatlah empat rakaat.” Amr menambahkan dalam riwayatnya dari jalan Ibnu Idris, bahwa Suhail berkata, “Apabila engkau tergesa-gesa karena sesuatu, maka sholatlah dua rakaat di masjid dan dua rakaat apabila engkau pulang.” (HR. Muslim, Tirmidzi)

8. Membaca Surat Al Kahfi

Nabi bersabda yang artinya, “Barang siapa yang membaca surat Al Kahfi pada hari Jumat maka Allah akan meneranginya di antara dua Jumat.” (HR. Imam Hakim dalam Mustadrok, dan beliau menshahihkannya)

Demikianlah sekelumit etika yang seharusnya diperhatikan bagi setiap muslim yang hendak menghidupkan ajaran Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika di hari Jumat. Semoga kita menjadi hamba-Nya yang senantiasa di atas sunnah Nabi-Nya dan selalu istiqomah di atas jalan-Nya.

🌐 Sumber: https://muslim.or.id/184-adab-pada-hari-jumat-sesuai-sunnah-nabi.html

.

BEBERAPA WASIAT RASULULLAH

 BEBERAPA WASIAT RASULULLAH🍊🍎🍐🍋

من وصايا الرسول عليه الصلاة والسلام

Oleh:

Fahd bin Abdul Aziz Abdullah asy-Syuwairikh

فهد بن عبدالعزيز عبدالله الشويرخ

الحمد لله رب العالمين، والصلاة والسلام على أشرف الأنبياء والمرسلين، نبينا محمد وعلى آله وأصحابه أجمعين.. أما بعد:

فالوصية تعنى الأمر بالشيءٍ أمراً مؤكداً، ومن أُوصِيَ بوصية نافعة من محبٍ ناصحٍ صادقٍ مخلصٍ فإن العاقل يقبلها فإذا كانت هذه الوصية من رسول الله صلى الله عليه وسلم الذي لا يعلمُ خيراً إلاَّ دلَّ الأمة عليه ولا يعلمُ شراً إلا وحذر الأمة منه، فإن المؤمن لا يتردد في قبولها والعمل بها، ولقد أوصى رسول الله علية الصلاة والسلام بوصايا كثيرة ينبغي الحرص على العمل بها، ومنها:

Segala puji hanya bagi Allah, Tuhan semesta alam. Salawat dan salam semoga terlimpah kepada nabi dan rasul paling mulia, Nabi kita, Muhammad, dan kepada keluarga dan seluruh sahabat beliau. Amma ba’du:

Wasiat merupakan perintah yang tegas terhadap sesuatu. Ketika ada orang yang diberi nasihat yang bermanfaat dari orang tercinta yang tulus ikhlas, maka jika ia adalah orang yang berakal, niscaya ia akan menerima wasiat itu. Lalu ketika wasiat ini berasal dari Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, yang tidaklah beliau mengetahui suatu kebaikan melainkan akan menunjukkannya kepada umatnya, dan tidaklah beliau mengetahui keburukan melainkan akan memperingatkan umatnya darinya, maka seorang mukmin selayaknya tidak ragu sama sekali dalam menerima dan mengamalkan wasiat tersebut.

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam telah memberi banyak wasiat yang hendaknya kita berusaha mengamalkannya, di antaranya adalah:

الوصية بتلاوة القرآن، وذكر الله، وبعدم كثرة الضحك:

عن أبي ذر رضي الله عنه قال: قلتُ يا رسول الله أوصني قال: (أوصيك… بتلاوة القرآن، وذكر الله، فإنه نور لك في الأرض، وذخر لك في السماء) قلت: يا رسول الله زدني قال: (إياك وكثرة الضحك فإنه يميت القلب) [أخرجه ابن حبان].

Wasiat untuk membaca Al-Qur’an, berzikir kepada Allah, dan tidak banyak tertawa

Diriwayatkan dari Abu Dzar Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku pernah berkata, ‘Wahai Rasulullah, berilah wasiat kepadaku.’ Kemudian beliau bersabda, ‘Aku berwasiat kepadamu untuk membaca Al-Qur’an dan berzikir kepada Allah, karena itu merupakan cahaya bagimu di dunia dan simpanan bagimu di langit.’ Lalu aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, tambahlah!’ Beliau bersabda, ‘Janganlah kamu banyak tertawa, karena itu mematikan hati.’” (HR. Ibnu Hibban).

الوصية بالعمل بكتاب الله عز وجل:

عن طلحة بن مصرف قال: سألت عبدالله بن أبي أوفى رضي الله عنهما: هل كان النبي صلى الله عليه وسلم أوصى؟ فقال: لا. فقلت: كيف كُتِبَ على الناس الوصية أو أمروا بالوصية؟ قال: أوصى بكتاب الله. [متفق عليه] قال الإمام النووي رحمه الله: وقوله (أوصى بكتاب الله) أي بالعمل بما فيه.

Wasiat untuk mengamalkan Kitab Allah ‘Azza wa Jalla

Diriwayatkan dari Thalhah bin Musharrif bahwa ia berkata, “Aku pernah bertanya kepada Abdullah bin Abi Aufa Radhiyallahu ‘anhuma, ‘Apakah dulu Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah berwasiat?’ Ia menjawab, ‘Tidak!’ Akupun bertanya lagi, ‘Lalu bagaimana orang-orang dituliskan wasiat atau diperintahkan berwasiat?’ Ia menjawab, ‘Beliau berwasiat tentang Kitabullah.’” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Imam An-Nawawi Rahimahullah berkata, “Yang dimaksud dengan berwasit tentang Kitabullah yakni mengamalkan apa yang ada di dalamnya.”

الوصية بالصلاة لوقتها:

عن أبي ذرٍ رضي الله عنه قال: أوصاني خليلي صلى الله عليه وسلم بثلاثة: (.. وصل الصلاة لوقتها) [أخرجه أحمد]

Wasiat untuk mendirikan salat pada waktunya

Diriwayatkan dari Abu Dzar Radhiyallahu ‘anhu bahwa ia berkata, “Kekasihku Shallallahu Alaihi wa Sallam berwasiat kepadaku tiga perkara, (dan di antaranya) ‘Dirikanlah salat pada waktunya’.” (HR. Ahmad).

الوصية بتقوى الله والسمع والطاعة لولي الأمر:

عن العرباض بن سارية رضي الله عنه قال وعظنا رسول الله صلى الله عليه وسلم يوماً بعد صلاة الغداة موعظة بليغة ذرفت منها العيون، ووجلت منها القلوب، فقال رجل: إن هذه موعظة مودع فبماذا تعهد إلينا يا رسول الله؟ قال: (أُوصيكم بتقوى الله، والسمع والطاعة وإن عبداً حبشي، فإنه من يعش منكم فسيرى اختلافاً كبيراً، وإياكم ومحدثات الأمور، فإنها ضلالة، فمن أدرك ذلك منكم فعليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين المهدين، عضّوا عليها بالنواجذ) [أخرجه أبو داود والترمذي]

والوصية بالتقوى، أوصى بها رسول الله عليه الصلاة والسلام رجلاً أراد السفر، فعن أبي هريرة رضي الله عنه أن رجلاً قال: يا رسول الله إني أريدُ أن أسافر فأوصني قال: (عليك بتقوى الله والتكبير على كل شرف) [أخرجه الترمذي] كما أوصى بها أبا ذرٍ رضي الله عنه، فعنه قال: قلتُ: يا رسول الله أوصني، قال: (أوصيك بتقوى الله فإنه رأس الأمر كله) [أخرجه ابن حبان]

والوصية بالسمع والطاعة لولي الأمر، أوصى بها النبي صلى الله عليه وسلم أبا ذرٍ رضي الله عنه، فعنه أنه انتهى إلى الربذة، وقد أُقيمت الصلاة، فإذا عبد يؤمهم، فقيل: هذا أبو ذر، فذهب يتأخر، فقال أبو ذرِّ: أوصاني خليلي صلى الله عليه وسلم أن أسمع وأطيع، وإن كان عبداً حبشياً مُجدع الأطراف. [أخرجه ابن ماجه] قال الإمام ابن رجب رحمه الله: السمع والطاعة لولاة أمور المسلمين فيها سعادة الدنيا وبها تنتظم مصالح العباد في معاشهم وبها يستعينون على إظهار دينهم وطاعة ربهم”


Wasiat untuk bertakwa kepada Allah dan menaati pemimpin

Diriwayatkan dari Al-Irbadh bin Sariyah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Suatu hari Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah menasihati kami setelah Salat Subuh dengan nasihat mendalam yang membuat air mata bercucuran dan hati bergetar. Lalu ada seorang sahabat yang berkata, ‘Ini seperti nasihat orang yang akan berpisah, lalu apa yang engkau wasiatkan kepada kami, wahai Rasulullah?’ Beliau bersabda, ‘Aku berwasiat kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah, dan menaati pemimpin meskipun ia adalah budak dari Habasyah, karena kelak orang yang hidup dari kalian akan melihat perselisihan yang besar. Jauhilah perkara-perkara bid’ah, karena ia merupakan kesesatan. Barang siapa dari kalian yang mendapati masa itu, maka hendaklah kalian berpegang pada sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk, peganglah itu dengan gigi geraham kalian.’” (HR. Abu Dawud dan at-Tirmidzi).


Wasiat untuk bertakwa juga diberikan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam kepada orang yang hendak bersafar. Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa ada seorang lelaki yang berkata, “Wahai Rasulullah! Aku hendak bersafar, maka berwasiatlah kepadaku!” Beliau bersabda, “Hendaklah kamu bertakwa kepada Allah, dan bertakbir di setiap tanjakan.” (HR. At-Tirmidzi). Beliau juga mewasiatkan takwa kepada Abu Dzar Radhiyallahu ‘anhu. Diriwayatkan bahwa ia pernah berkata, “Wahai Rasulullah, berilah wasiat kepadaku!” Rasulullah bersabda, “Aku wasiatkan kepadamu untuk bertakwa, karena ia adalah inti dari segala urusan.” (HR. Ibnu Hibban).

Adapun wasiat untuk taat kepada pemimpin, disampaikan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam kepada Abu Dzar Radhiyallahu ‘anhu. Diriwayatkan darinya bahwa ia pernah sampai di daerah Rabadzah, dan iqamah salat sudah dikumandangkan. Ternyata yang menjadi imam adalah seorang budak. Lalu ada orang yang berseru, “Ini ada Abu Dzar!” Kemudian imam itu mundur. Abu Dzar lalu berkata, “Kekasihku Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah berwasiat kepadaku untuk mendengar dan taat, meskipun kepada budak Habasyah yang tangan dan kakinya putus.” (HR. Ibnu Majah). 

Imam Ibnu Rajab Rahimahullah berkata, “Patuh kepada pemimpin kaum Muslimin mengandung kebahagiaan dunia, karena dengan kepatuhan itu, urusan hidup banyak orang akan teratur dan itu dapat memudahkan mereka dalam menguatkan agama dan menaati Tuhan mereka.”

الوصية بالوتر وصوم ثلاثة أيام وركعتي الضحى:

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: أوصاني خليلي صلى الله عليه وسلم بثلاث لا أدعهن حتى أموت: صوم ثلاثة أيامٍ من كل شهر، وصلاة الضحى، ونومٍ على وتر [متفق عليه] وعن أبي الدرداء رضي الله عنه قال: أوصاني حبيبي صلى الله عليه وسلم بثلاث لن أدعهن ما عشت: بصيام ثلاثة أيام من كل شهر، وصلاة الضحى، وبأن لا أنام حتى أوتر [أخرجه مسلم] وعن أبي ذر رضي الله عنه قال: أوصاني حبيبي صلى الله عليه وسلم، بثلاث، لا أدعهن إن شاء الله تعالى أبداً، أوصاني بصلاة الضحى، وبالوتر قبل النوم، وبصيام ثلاثة أيام من كل شهر، [أخرجه النسائي] ووصية عليه الصلاة والسلام لثلاثة من صحابته رضي الله عنهم بهذه الأمور، تؤكد أهميتها، فينبغي الحرص عليها.


Wasiat untuk mendirikan Salat Witir, berpuasa tiga hari setiap bulan, dan Salat Dhuha dua rakaat

Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Kekasihku Shallallahu Alaihi wa Sallam berwasiat kepadaku tiga perkara yang tidak akan aku tinggalkan hingga mati, puasa tiga hari setiap bulan, Salat Dhuha, dan tidur setelah Salat Witir.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Diriwayatkan dari Abu Ad-Darda Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Kekasihku Shallallahu Alaihi wa Sallam berwasiat kepada tiga perkara yang tidak akan aku tinggalkan selagi masih hidup: puasa tiga hari setiap bulan, Salat Dhuha, dan tidak tidur sebelum mendirikan Salat Witir.” (HR. Muslim).

Diriwayatkan dari Abu Dzar Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Kekasihku Shallallahu Alaihi wa Sallam berwasiat kepada tiga perkara yang Insyaallah tidak akan aku tinggalkan selamanya: beliau berwasiat kepadaku untuk mendirikan Salat Dhuha, Salat Witir sebelum tidur, dan puasa tiga hari setiap bulan.” (HR. An-Nasa’i). 


Wasiat Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam kepada tiga sahabat beliau dengan tiga perkara ini semakin menegaskan pentingnya perkara-perkara tersebut, sehingga kita harus memberi perhatian besar padanya.

الوصية بصحابته رضوان الله عليهم والذين يلونهم ثم الذين يلونهم:

خطب عمر بن الخطاب رضي الله عنه فقال: أيها الناس إني قُمتُ فيكم كمقام رسول الله صلى الله عليه وسلم فينا فقال: (أُوصيكم بأصحابي ثم الذين يلونهم ثم الذين يلونهم) [أخرجه الترمذي] لقد حفظ أهل السنة والجماعة، وصية النبي عليه الصلاة والسلام في أصحابه رضي الله عنهم، فهم يحبونهم، ويترضون عنهم، ويتبعون منهجهم.


Wasiat untuk bersikap baik kepada para sahabat beliau, lalu generasi setelah mereka, dan generasi setelahnya lagi

Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘anhu pernah berkhutbah, “Wahai manusia sekalian! Aku berdiri di hadapan kalian, seperti berdirinya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam di hadapan kita dulu, lalu beliau bersabda, ‘Aku wasiatkan kepada kalian para sahabatku, lalu orang-orang setelah mereka, lalu orang-orang setelahnya lagi.’” (HR. At-Tirmidzi). Wasiat ini benar-benar dijalankan oleh Ahlusunah waljamaah, yakni wasiat Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam terhadap para sahabat beliau. Para Ahlusunah waljamaah mencintai mereka, mendoakan keridaan bagi mereka, dan mengikuti jalan hidup mereka.

الوصية بقول: اللهم أعني على ذكرك، وشكرك، وحسن عبادتك، دبر كل صلاة:

عن معاذ بن جبل رضي الله عنه أنَّ رسول الله أخذ بيده، وقال: (يا معاذ والله إني لأُحبك، أوصيك يا معاذ أن لا تدعن في دُبُر كل صلاةٍ تقول: اللهم أعنِّي على ذكرك وشكرك وحسن عبادتك) [أخرجه أبو داود] قال شيخ الإسلام ابن تيمية رحمه الله: ويُستحبُّ للمُصلى أن يدعو قبل السلام بما أوصى به النبي صلى الله عليه وسلم مُعاذاً، أن يقول دُبُر كل صلاة: (اللهم اعني على ذكرك، وشُكرك، وحُسن عبادتك)


Wasiat untuk mengucapkan di akhir shalat doa: Allahumma a’inni ‘ala dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibadatika

Diriwayatkan dari Muadz bin Jabal Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah memegang tangannya lalu bersabda, “Wahai Muadz! Demi Allah aku mencintaimu. Wahai Muadz! Aku wasiatkan kepadamu untuk tidak meninggalkan doa di akhir setiap salat: Allahumma a’inni ‘ala dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibadatika (Ya Allah, berilah pertolongan bagiku untuk berzikir, bersyukur, dan beribadah dengan baik kepada Engkau).” (HR. Abu Dawud).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah berkata, “Dianjurkan bagi orang yang salat untuk berdoa sebelum salam dengan doa yang diwasiatkan Nabi kepada Muadz, yaitu: Allahumma a’inni ‘ala dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibadatika.”

الوصية بالجار:

عن أبي إمامة رضي الله عنه أن النبي علية الصلاة والسلام قال: (أوصيكم بالجار) [أخرجه أحمد] قال الحافظ ابن حجر رحمه الله: ويحصل امتثال الوصية به، بإيصال ضروب الإحسان إليه بحسب الطاقة كالهدية والسلام وطلاقة الوجه عند لقائه وتفقد حاله ومعاونته فيما يحتاج إليه…وكف أسباب الأذى عنه، على اختلاف أنواعه حسية كانت أو معنوية.

Wasiat untuk bersikap baik kepada tetangga

Diriwayatkan dari Abu Umamah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Aku wasiatkan kepada kalian (untuk bersikap baik) terhadap tetangga.” (HR. Ahmad).

Al-Hafizh Ibnu HajarRahimahullah berkata, “Penerapan wasiat ini dapat diwujudkan dengan memberi berbagai kebaikan kepada tetangga sesuai dengan kemampuan, seperti memberi hadiah, mengucap salam, menampakkan wajah berseri ketika berjumpa, menanyakan kabar, memberi bantuan yang dibutuhkan, dan tidak menimbulkan gangguan baginya dalam berbagai bentuknya baik yang lahir maupun batin.

الوصية بالنساء:

عن أبي هريرة رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: (استوصوا بالنساء خيراً) [متفق عليه] قال الحافظ ابن حجر رحمه الله قوله (بالنساء خيراً) كأن فيه رمزاً إلى التقويم برفق، بحيث لا يبالغ فيه فيكسر، ولا يتركه فيستمر على عوجه…وفي الحديث الندب إلى المدارة لاستمالة النفوس وتألف القلوب، وفيه سياسة النساء بأخذ العفو منهن، والصبر على عوجهن، قال العلامة ابن باز رحمه الله: هذا أمر للأزواج والآباء والإخوة وغيرهم أن يستوصوا بالنساء خيراً وأن يحسنوا إليهن وأن لا يظلموهن وأن يعطوهن حقوقهن”


Wasiat untuk bersikap baik kepada wanita

Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Saya wasiatkan kepada kalian untuk bersikap baik kepada kaum wanita.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Al-Hafizh Ibnu Hajar Rahimahullah berkata, “Sabda beliau: ‘Bersikap baiklah kepada kaum wanita’ memberi isyarat untuk mendidik wanita dengan lembut, dengan cara yang tidak keras yang dapat mematahkannya dan tidak membiarkannya yang membuatnya tetap bengkok.”

Hadis tersebut mengandung anjuran untuk bersikap bijak dalam memberi pengaruh bagi jiwa dan menyelaraskan hati. Juga mengandung anjuran bersiasat dalam memperlakukan wanita, dengan menerima permintaan maaf mereka dan bersabar atas kekeliruan mereka. Syaikh Ibnu Baz Rahimahullah berkata, “Perintah ini ditujukan kepada suami, ayah, saudara, dan lainnya agar bersikap baik kepada wanita, tidak menzalimi mereka, dan menunaikan hak-hak mereka.”

الوصية بعدم اللعن والسب:

عن جرموز الهجيمي رضي الله عنه قال: قلتُ: يا رسول الله أوصني. قال: (أُوصيك أن لا تكون لعاناً) [أخرجه أحمد] وقد أوصى النبي صلى الله عليه وسلم رجلاً أسلم بعدم السب، فعن أبي تميمة عن رجل من قومه، قال: شهدت رسول الله علية الصلاة والسلام أتاه رجل… فأسلم، ثم قال: أوصني يا رسول الله، فقال له: (لا تسبَّنَّ شيئاً) قال: فما سببتُ شيئاً: بعيراً ولا شاةً، منذ أوصاني رسول الله علية الصلاة والسلام [أخرجه أحمد]


Wasiat untuk tidak melaknat dan mengucap sumpah serapah

Diriwayatkan dari Jurmuz Al-Hujaimi Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku pernah berkata, ‘Wahai Rasulullah, wasiatkanlah kepadaku!’ Beliau bersabda, ‘Aku wasiatkan kepadamu untuk tidak menjadi orang yang banyak melaknat.’” (HR. Ahmad). 

Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam juga pernah berwasiat kepada orang yang baru masuk Islam untuk tidak mencaci maki. Diriwayatkan dari Abu Tamimah dari seorang lelaki dari kaumnya yang berkata, “Aku menyaksikan Rasulullah didatangi seorang lelaki kemudian ia masuk Islam. Kemudian ia berkata, ‘Wasiatkanlah kepadaku, wahai Rasulullah!’ Beliau lalu bersabda, ‘Janganlah kamu mencaci apapun.’ Ia menceritakan, ‘Maka aku tidak pernah mencaci apapun, baik terhadap itu unta atau kambing, sejak Rasulullah mewasiatkan itu kepadaku.’” (HR. Ahmad).

الوصية بعدم الغضب:

عن أبي هريرة رضي الله عنه أن رجلاً قال للنبي صلى الله عليه وسلم أوصني، قال: (لا تغضب) فردد مراراً (لا تغضب) [أخرجه البخاري] قال الحافظ ابن رجب رحمه الله: هذا الرجل طلب من النبي صلى الله عليه وسلم أن يوصيه وصيةً جامعةً لخصال الخير، ليحفظها عنه، خشية أن لا يحفظها لكثرتها، فوصاه النبي صلى الله عليه وسلم: أن لا يغضب، ثم ردَّد هذه المسألة عليه مراراً، والنبي صلى الله عليه وسلم يردد عليه هذا الجواب، فهذا يدل على أن الغضب جماعُ الشَّرِّ، وأن التحرُّز منه جماع الخير…وقوله صلى الله عليه وسلم: (لا تغضب) يحتمل أمرين:

أحدهما: أن يكون مراده الأمر بالأسباب التي توجب حسن الخلق فإن النفس إذا تخلقت بهذه الأخلاق وصارت لها عادة أوجب لها ذلك دفع الغضب عند حصول أسبابه.

والثاني: أن يكون المراد لا تعمل بمقتضي الغضب إذا حصل لك، بل جاهد نفسك على ترك تنفيذه والعمل بما يأمر به، فإذا لم يمتثل الإنسان ما يأمرُهُ به غضبُهُ، وجاهد نفسه على ذلك، اندفع عنه شر الغضب، وربما سكن عنه غضبُهُ، وذهب عاجلاً، فكأنه – حينئذ – لم يغضب.

اللهم وفقنا للعمل بوصايا رسولك عليه الصلاة والسلام.


Wasiat untuk tidak marah

Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa seorang lelaki pernah berkata kepada Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, “Wasiatkanlah kepadaku!” Beliau lalu bersabda, “Jangan marah!” Beliau mengulanginya berkali-kali. (HR. Al-Bukhari).

Al-Hafizh Ibnu Rajab Rahimahullah berkata, “Lelaki itu meminta Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam untuk berwasiat kepadanya dengan wasiat yang menghimpun berbagai bentuk kebaikan, agar ia menghafal wasiat itu dan khawatir ia tidak dapat melaksanakannya karena terlalu banyak, maka Nabi berwasiat dengan ucapan, ‘Jangan marah!’ Namun, orang itu terus mengulangi permintaannya berkali-kali, tapi Nabi juga menjawabnya berkali-kali dengan ucapan yang sama. Hal ini menunjukkan bahwa marah merupakan penghimpun keburukan, dan terbebas darinya merupakan penghimpun kebaikan. Dan sabda beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam, ‘Jangan marah!’ mengandung dua kemungkinan makna:

Pertama: Maksudnya adalah perintah melakukan hal-hal yang mengundang akhlak yang baik, karena jika seseorang punya akhlak yang baik dan sudah menjadi tabiatnya, itu akan mendorongnya untuk menghindari kemarahan saat terjadi hal-hal yang menyulutnya.


Kedua: Maksudnya adalah tidak melampiaskan kemarahan saat kemarahan itu datang, tapi melawan hawa nafsu agar tidak melampiaskannya. Apabila seseorang tidak melampiaskan kemarahannya dan melawan hawa nafsunya dalam hal ini, maka keburukan amarah akan jauh darinya, dan bahkan kemarahan itu akan segera reda dan hilang, seakan-akan ia tidak marah sama sekali.

Ya Allah! Karuniakanlah kepada kami taufik untuk mengamalkan wasiat-wasiat Rasul-Mu Shallallahu Alaihi wa Sallamm.


Sumber:

https://www.alukah.net/من وصايا الرسول عليه الصلاة والسلام

Jumat, 29 Agustus 2025

Hadist #89 | Manusia Dibangkitkan Berdasarkan Amalan Akhirnya

 Fawaid Hadist Bimbingan Islam

🔊 Hadist #89 | Manusia Dibangkitkan Berdasarkan Amalan Akhirnya

عَنْ جَابِرٍ رَضِيَ الله عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: « يُبْعَثُ كُلُّ عَبْدٍ عَلَى مَا مَاتَ عَلَيْهِ »

Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu dia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Setiap hamba Allah itu akan dibangkitkan dari kuburnya sama seperti keadaan ketika ia meninggal.” (HR. Muslim, no. 2878).

Faedah Hadist

Hadist ini memberikan faedah - faedah berharga, di antaranya;

Dorongan dan motivasi bagi setiap insan untuk memperindah amalan dengan amalan-amalan mulia dan terbaik, karena kelak akan dibangkitkan dari kuburnya sama seperti keadaan ketika ia meninggal, karena patokan amalan itu tergantung akhirnya.

Petunjuk tentang ketetapan hari kebangkitan, dan barang siapa yang mengingkarinya maka ia telah keluar dari agama islam dan islam berlepas diri darinya.

Setiap yang bernyawa pasti akan meninggalkan dunia ini tanpa pengecualian.

Setelah jasad hancur, manusia kemudian dibangkitkan yaitu mereka dihidupkan dan dikeluarkan dari kubur mereka. Sebagaimana Firman Allah ‘Azza wa Jalla;

زَعَمَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنْ لَنْ يُبْعَثُوا ۚ قُلْ بَلَىٰ وَرَبِّي لَتُبْعَثُنَّ ثُمَّ لَتُنَبَّؤُنَّ بِمَا عَمِلْتُمْ ۚ وَذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ

“Orang-orang yang kafir mengatakan bahwa mereka sekali-kali tidak akan dibangkitkan. Katakanlah: “Memang, demi Tuhanku, benar-benar kamu akan dibangkitkan, kemudian akan diberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan”. Yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (QS. At-Taghabun: 7)

Faedah berharga bahwa setiap hamba sepatutnya bersungguh – sungguh dalam menghabiskan setiap masa hidupnya dengan kesalehan dan berbagai macam ketaatan, tidak mencukupkan dengan kewajiban saja, bahkan berlomba-lomba dengan tidak menyia-nyiakan amalan-amalan Sunnah yang dianjurkan.

Kematian itu termasuk rahasia ilahi, menyapa tanpa pemberitahuan, tidak mengenal muda maupun tua, maka setiap manusia perlu bersiap dengan bekal terbaik untuk perjalan panjang setelah kematian.

Wallahu Ta’ala A’lam.

Referensi Utama: Syarah Riyadhus Shalihin karya Syaikh Shalih al Utsaimin, & Kitab Bahjatun Naazhiriin Syarh Riyaadhish Shaalihiin karya Syaikh Salim bin ‘Ied Al Hilaliy.

👤 Ustadz Fadly Gugul S.Ag., M.Ag.

🌎 https://bimbinganislam.com/fawaid-hadist-89-manusia-dibangkitkan-berdasarkan-amalan-akhirnya/

Kamis, 28 Agustus 2025

Bab Al-Istiqamah

 

Audio ke-122: Bab 08 Istiqamah ~ Pembahasan Surah Hud Ayat 112

══════════════════ 

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّٰهِ وَبَرَكَاتُهُ

الْحَمْدُ لِلهِ ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى رَسُوْلِ اللّٰهِ   

Segala puji bagi Allah Jalla Jalaluh (Allah yang Maha Agung dengan keagungan-Nya, -ed). Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan untuk Baginda Nabi kita Muhammad 'Alaihis-shalatu wassalam. Amma ba’du.


Kaum muslimin, khususnya anggota GiS -Grup Islam Sunnah- yang semoga dirahmati oleh Allah Jalla Jalaluh. 

Kita masuk ke بَابُ الاسْتِقَامَةِ (Bab Al-Istiqamah).

Sering kali kita mendengar ucapan istiqamah. Bahkan banyak orang berdoa atau minta didoakan supaya terus istiqamah, yang artinya berada di jalan yang lurus, melaksanakan perintah Allah, menjaga ketaatan, menjauhi larangan, tidak berlebih-lebihan dalam beragama, tidak belok kanan-kiri, tapi lurus terus.

Di sini Al-Imam An-Nawawi menyebutkan beberapa ayat yang berkaitan dengan istiqamah.
Allah mengatakan:
{ فَٱسۡتَقِیمُوۤا۟ إِلَیۡهِ وَٱسۡتَغۡفِرُوهُۗ }
"Kalian beristiqamahlah menuju kepada Allah Jalla Jalaluh, kepada Tuhan yang satu,"
Kemudian Allah mengatakan:
{ وَٱسۡتَغۡفِرُوهُ }
"dan beristighfarlah kalian."  (QS. Fushshilat: 6)

Ini sebagai pertanda bahwa seorang yang berusaha untuk istiqamah, dia tidak akan terlepas dari dosa. Ayat ini juga sebagai arahan agar seorang tidak sombong; agar manusia tidak merasa ujub, terheran-heran dengan dirinya yang melaksanakan ketaatan dengan baik, yang senantiasa shalat tepat waktu, yang senantiasa shalat ke masjid, yang telah bisa melaksanakan berpenampilan dengan penampilan yang islami. Maka dia harus tetap ingat, dia harus istighfar { وَٱسۡتَغۡفِرُوهُ }, karena tetap akan ada kekurangan yang muncul dari diri kita.
Thayyib. Ayat yang pertama adalah yang berada di surah Al-Hud ayat 112.

{ فَٱسۡتَقِمۡ كَمَآ أُمِرۡتَ وَمَن تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطۡغَوۡاْۚ إِنَّهُۥ بِمَا تَعۡمَلُونَ بَصِيرٌ } 

"Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan juga orang yang telah bertaubat bersamamu. Dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan."
Subhanallah, Jama'ah. 
Allah Jalla Jalaluh mengatakan:

 { فَٱسۡتَقِمۡ كَمَآ أُمِرۡتَ }
"Istiqamahlah engkau sebagaimana diperintahkan kepadamu"

Jadi tatkala bicara istiqamah, itu bukan sesuai keinginan kita. Kita bikin ibadah sendiri, kita bikin aturan sendiri, lalu kita istiqamah di atas jalan yang kita buat, bukan! Tapi Allah perintahkan:

 { فَٱسۡتَقِمۡ كَمَآ أُمِرۡتَ }
"Istiqamahlah engkau sesuai dengan yang diperintahkan kepadamu" 

Sehingga seorang muslim yang melaksanakan perintah Allah, yang terkadang perintah Allah itu bertentangan dengan tradisi masyarakat, maka dia tetap dikatakan istiqamah, walaupun masyarakat mengatakan dia menyimpang. Orang-orang mengatakan, Oh, ini aliran menyimpang ini. Kenapa? Karena bertentangan dengan yang biasa dilakukan oleh masyarakat. 
Tapi sejatinya, orang kalau mau istiqamah adalah sesuai dengan perintah Allah, tidak menambah dan tidak mengurangi.

{ كَمَآ أُمِرۡتَ وَمَن تَابَ مَعَكَ }
Perintah ini untuk Nabi 'Alaihis-shalatu wassalam. Bahkan Allah mengatakan:

{ وَلَوْلَآ أَن ثَبَّتْنَـٰكَ لَقَدْ كِدتَّ تَرْكَنُ إِلَيْهِمْ شَيْـًٔا قَلِيلًا }
"Kalau bukan Kami yang menetapkanmu (meneguhkanmu) di atas jalan itu, hampir saja engkau itu condong kepada orang-orang musyrikin."   (QS. Al-Isra: 74)

Jadi kalau bicara istiqamah, kita itu bicara karunia. Artinya, Allah yang memberikan kepada kita istiqamah. 

{ وَمَن تَابَ مَعَكَ }
Diperintahkan untuk istiqamah, orang-orang yang taubat bersama Nabi 'Alaihis-shalatu wassalam. 

{ وَلَا تَطۡغَوۡاْۚ }
Dan jangan berlebih-lebihan, jangan melampaui batas, cukuplah melaksanakan perintah.

Umat Islam ini Jama'ah, kita lihat nih, akan ada banyak acara berkaitan dengan Asy-Syura, dengan 10 Muharram. Orang-orang Syiah akan mengadakan ritual, ritual mengingat kematian Husain, yang jelasnya kita tahu Husain meninggal setelah wafatnya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam, kira-kira pada tahun 60 Hijriyah.

Kemudian orang membuat ritual ibadah, padahal itu tidak pernah diajarkan oleh Nabi 'Alaihis-shalatu wassalam. Kita sedih dengan kematian Husain, dengan terbunuhnya Husain. Tapi bukan berarti kita diperbolehkan untuk membuat acara ratapan masal, sambil pukul-pukul, mengeluarkan darah di tubuhnya; bentuk bela sungkawa dengan Husain. Husain enggak butuh dengan itu. Dan syari'at juga tidak mengajarkan. 

Jadi hendaklah kita belajar, apa sih yang kita lakukan pada 10 Asy-Syura (10 Muharram)? Yang sunnah, berpuasa. Ada hadits yang diperselisihkan tentang memberikan nafkah yang lebih banyak kepada keluarga, shadaqah, bertaubat. Itu mungkin amalan-amalan yang jumhur ulama dari kalangan mazhab itu memandangnya.

Tapi ada amalan lain, di antaranya bikin acara untuk anak-anak yatim mungkin; mereka mandi pada waktu itu, memotong kukunya; berziarah ke orang-orang, kepada para ulama; ada yang menghidupkan malamnya, ada juga yang membaca { قُلۡ هُوَ ٱللهُ أَحَدٌ } seribu kali.

Coba dilihat, apakah amalan-amalan tersebut memang benar-benar dianjurkan atau enggak? Kalau enggak, udah, enggak perlu kita melampaui batasan. Yang ada kita amalkan, yang ada kita jaga. Jangan sampai seperti orang yang sepanjang tahun enggak pernah shalat, kemudian di Asy-Syura, dia shalat dengan harapan dapat pahala sepanjang tahun.

Subhanallah.

{ إِنَّهُۥ بِمَا تَعۡمَلُونَ بَصِيرٌ }
"Allah itu Maha Mengetahui, Maha Melihat dengan apa yang kalian kerjakan."

Jadi ayat ini memerintahkan kepada kita untuk beristiqamah di atas perintah Allah sesuai dengan aturan Allah Jalla Jalaluh, dan supaya kita sadar bahwa kita dalam pengawasan Allah. 

Jamaah rahimakumullah, itu yang bisa kita kaji. Semoga ilmu yang kita kaji hari ini berguna buat kita dan bisa kita amalkan dalam kehidupan kita. Dan semoga Allah menerima amalan kita. Sampai berjumpa kembali.

 بَارَكَ اللهُ فِيْك 
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّٰهِ وَبَرَكَاتُهُ

══════ ∴ |GiS| ∴ ══════  

📣 Official Account Grup Islam Sunnah 
🌏 Website GiS : https://grupislamsunnah.com 
📱 Fanspage : https://facebook.com/grupislamsunnah
📷 Instagram : https://instagram.com/grupislamsunnah
📧 Telegram : https://t.me/grupislamsunnah
🎥 YouTube : https://youtube.com/@grupislamsunnahtv
📡 Info Kajian : https://t.me/InfoKajianSunnahGiS

Kaum muslimin, khususnya anggota GiS -Grup Islam Sunnah- yang semoga dirahmati oleh Allah Jalla Jalaluh. 

Thayyib. Hadits yang selanjutnya. 

وَعَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ : ❲ قَارِبُوْا وَسَدِّدُوْا ، وَاعْلَمُوْا أَنَّهُ لَنْ يَنْجُوَ أَحَدٌ مِنْكُمْ بِعَمَلِهِ ❳ ، قَالُوْا : وَلَا أَنْتَ يَا رَسُولَ اللهِ ؟! قَالَ : ❲ وَلاَ أَنَا ؛ إِلاَّ أنْ يَتَغَمَّدَنِيَ اللهُ بِرَحْمةٍ مِنْهُ وَفضْلٍ ❳ .❊ رَوَاهُ مُسْلِمٌ [٢٨١٦].

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu ia bercerita, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam pernah bersabda, "Usahakan bersikap lurus dan menepati yang benar, serta ketahuilah bahwa tidak ada seorang pun di antara kalian yang selamat dari siksa karena amal perbuatannya." Para sahabat bertanya, "Termasuk engkau wahai Rasulullah?" Beliau pun menjawab, "Termasuk aku juga, hanya saja Allah meliputi diriku dengan rahmat dan karunia-Nya." 
(HR. Muslim)

Thayyib, Jamaah. 
Rasul Shallallahu 'alaihi wasallam mengatakan, 
❲ قَارِبُوْا وَسَدِّدُوْا ❳
Qaaribuu ( قَارِبُوْا ) dari asal kata al-qurb ( القُرْبُ ) yaitu "dekat". Kalau kita sedang memanah, kita lihat memanah itu ada beberapa warna, lingkaran yang berbeda warnanya. Kalau bisa kita itu menepati sasaran (tepat di sasaran). Itu harapannya. Tapi kalau enggak bisa, mendekati sasaran. Andai kita tetap berusaha untuk mendekati, mendekati, menepati sasaran tersebut. Begitulah dalam beragama. Kita berusaha untuk mendekati yang benar, kita berusaha untuk menepati sasaran, istiqamah di atas agama Allah ini. Tapi kita juga perlu tahu, bahwa manusia penuh dengan kekurangan, dia makhluk yang kodratnya berbuat salah.

Lalu Rasul Shallallahu 'alaihi wasallam menjelaskan, "Ketahuilah, enggak ada yang selamat di antara kalian dengan amalannya." Enggak ada! Lalu para sahabat mengatakan, "Engkau ya Rasulullah, gimana?" Yang ibadah sampai bengkak kakinya; yang kita tahu tentunya Nabi 'Alaihis-shalatu wassalam tepat sasaran dalam beribadah; istiqamah di atas agama Allah. Apakah Beliau juga tidak akan selamat dengan amalan yang Beliau lakukan selama hidupnya?

Maka Beliau Shallallahu 'alaihi wasallam mengatakan, " وَلاَ أَنَا (Aku pun tidak akan selamat dengan amalanku) إلاَّ (kecuali dalam satu kondisi) Allah membungkusku dengan rahmat-Nya dan karunia-Nya, baru masuk surga."

Para Jamaah, hadits ini adalah cemeti buat orang-orang yang sombong dengan amalannya, yang merasa sudah banyak amal saleh dia, yang merasa ketaatan dia lebih baik daripada orang lain, sehingga dia meremehkan ibadah orang lain dan berbangga dengan ibadahnya sendiri.

Ingat! Enggak ada yang masuk surga dengan amalannya, sebagai pengganti amalannya. Yang ada itu, kita masuk surga karena Allah kasihan sama kita. Allah kasihan sama kita, lalu Allah perbolehkan kita masuk surga. Bayangkan Nabi 'Alaihis-shalatu wassalam! 

Jamaah, kalau kita sadar, Subhanallah, bahwasanya kita dijadikan orang Islam itu karunia Allah. 

Pernah Bisyr Al-Hafi, dia pernah berdiri di pintu rumahnya habis Isya. Dia mau masuk rumah, tapi dia merenung di pintu itu sampai azan Subuh. Keluarganya bingung, Kenapa engkau? 
"Iya, aku mikir dengan Bisyr an-Nashrani, Bisyr al-Yahudi, Bisyr al-Majusi. Ada orang yang namanya Bisyr tapi dia Nasrani; ada orang yang namanya Bisyr dia Yahudi, dia Majusi. Tapi Allah jadikan aku muslim." Sehingga dia sadar kalau ini benar-benar karunia Allah.

Sehingga kita ini bisa Islam, kita bisa shalat, kita bisa ibadah, itu benar-benar karunia Allah; bukan karena kitanya yang berhak, bukan! Kita pun bisa shalat karena Allah yang mengarahkan kepada kita. Kita pun bisa kenal sunnah dan kita mengamalkannya dalam kehidupan ini, kita sabar, itu juga Allah. 

Maka, hadits ini peringatan buat kita semuanya. Jangan sombong dengan amalan!

Syaikh ibn Utsaimin rahimahullahu Ta'ala ditanya tentang hadits ini, bagaimana kaitannya dengan firman Allah yang berada di surat An-Nahl ayat 97. 

{ مَنۡ عَمِلَ صَٰلِحًا مِّن ذَكَرٍ أَوۡ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤۡمِنٌ فَلَنُحۡيِيَنَّهُۥ حَيَوٰةً طَيِّبَةً وَلَنَجۡزِيَنَّهُمۡ أَجۡرَهُم بِأَحۡسَنِ مَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ }
"Barang siapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya Kami akan memberikan kepadanya kehidupan yang baik. Dan sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan."

Na'am. Artinya disebutkan di sini, amalan ternyata membuat mereka selamat dari api neraka. Amalan mereka itu dengan apa yang mereka amalkan, mereka mendapatkan surga Allah Jalla Jalaluh. Sedangkan Nabi 'Alaihis-shalatu wassalam menyebutkan, "Enggak ada yang masuk surga dengan amalannya."

Maka Syaikh ibn Utsaimin rahimahullahu Ta'ala menyebutkan, bahwa yang dinafikan itu masuk surga sebagai pengganti amalan. Itu yang dinafikan. Yang ditetapkan, amalan itu salah satu sebab orang itu masuk surga. Beliau mengatakan, sebab yang sebenarnya adalah rahmat Allah dan karunia-Nya bersama amalan yang dia lakukan. Jadi bukan pengganti amalan kita surga itu.

Oh.. karena kita beramal, kita berhak masuk surga, enggak! Semuanya dari Allah sebenarnya. Sehingga yang ada adalah ampunan Allah dan karunia-Nya yang mengantarkan seseorang ke dalam surga Allah Jalla Jalaluh. 


PERTEMUAN 121: Bab 07 Yakin dan Tawakal ~ Pembahasan Hadits Anas Radhiyallahu 'Anhu

 Kaum muslimin, khususnya anggota GiS -Grup Islam Sunnah- yang semoga dirahmati oleh Allah Jalla Jalaluh. 

Na'am. Hadits yang selanjutnya.

وَعَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ ، قَالَ : كَانَ أَخَوَانِ عَلَى عَهْدِ النَّبِيِّ ﷺ ، وَكَانَ أَحَدُهُمَا يَأْتِي النَّبِيِّ ﷺ ، وَالْآخَرُ يَحْتَرِفُ ، فَشَكَا الْمُحْتَرِفُ أَخَاهُ لِلنَّبِيِّ ﷺ ، فَقَالَ : ❲ لَعَلَّكَ تُرْزَقُ بِهِ❳ . ❊ رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ [٢٣٤٦] بِإِسْنَادٍ صَحِيحٍ عَلَى شَرْطِ مُسْلِمٍ.

Dari Anas radhiyallahu 'anhu ia menceritakan, pada masa Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam ada dua orang yang bersaudara. Yang satu suka mendatangi dan menemui Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam untuk menuntut ilmu agama, dan yang lain giat bekerja supaya saudaranya bisa mendapatkan rezeki. Kemudian orang yang giat bekerja mengadu kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam tentang keadaan saudaranya itu. Lantas Beliau bersabda, "Barangkali engkau mendapatkan rezeki karena sebab saudaramu itu." 

(Hadits diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dengan sanad yang shahih)

Subhanallah, Jamaah. 

Hadits ini menjelaskan tentang salah satu kunci rezeki, yaitu membantu orang yang menuntut ilmu. Ada dua saudara di masa Nabi 'Alaihis-shalatu wassalam; yang satu bekerja, yang satu belajar sama Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam. Yang bekerja merasa tidak dibantu oleh saudaranya, sehingga dia mengeluhkan apa yang dilakukan oleh saudaranya karena belajar dan tidak mau membantunya. Akhirnya Nabi 'Alaihis-shalatu wassalam memberikan penjelasan kepada dia.

❲ لَعَلَّكَ تُرْزَقُ بِهِ ❳

"Bisa jadi engkau dapat rezeki itu gara-gara dia (disebabkan dia menuntut ilmu)." 

Para Jamaah rahimakumullah.

Ana masih ingat dengan kisah Abu Yusuf, muridnya Abu Hanifah. Abu Yusuf ini yatim. Ibunya membawa Abu Yusuf yang masih kecil untuk bekerja, membantu di tempatnya. Ya salah satu pekerja lah, tukang motongin baju atau apa. Dia bekerja di sana.

Dalam perjalanan menuju ke tempat kerjanya, selalu melewati majelisnya Abu Hanifah. Maka Abu Yusuf mampir ke sana, belajar di sana. Dicari sama ibunya, enggak ada di tempat kerjanya, akhirnya datang ke majelis itu. Diambil, dibawa, tapi anaknya tetap maunya belajar. Akhirnya ibunya (Abu Yusuf) datang menjumpai Abu Hanifah, mengatakan kepada dia, Ini anakku rusak gara-gara engkau. Dia ini yatim tidak ada bapaknya. Aku membantu dia dengan tenunan yang aku bikin, tapi ana suruh dia kerja supaya dia ada yang bisa dia buat makan.

Apa kata Abu Hanifah? Ya ra'na, kata dia. Engkau tahu, dia itu di sini sedang belajar memakan الْفَالُوذَجُ بِدُهْنِ الْفُسْتُقِ. 

Faaludzaj (الْفَالُوذَجُ) itu salah satu makanan raja, makanan orang-orang kaya; faaludzaj: manisan yang dikasih minyaknya pistachio. 

Katanya ibunya Abu Yusuf mengatakan kepada Abu Hanifah, Haduh, engkau ini orang tua yang sudah mulai rusak pikiran. Akhirnya ditinggal sama ibunya Abu Yusuf. 

Dan Subhanallah, Abu Yusuf setelah meninggalnya Abu Hanifah, dia menjadi hakim agung di masa pemerintahan Khilafah Harun Al-Rasyid.

Suatu hari, lagi duduk sama Harun Al-Rasyid, disuguhkan satu makanan yang aneh buat Abu Yusuf. Harun Al-Rasyid mengatakan, 

كُلْ يَا أَبَا يُوسُفَ

Silakan engkau makan. Ini jarang-jarang dibikin di tempat kita nih. 

"Apa ini?" kata dia. 

Ini " الْفَالُوذَجُ بِدُهْنِ الْفُسْتُقِ ".

Akhirnya ketawa Abu Yusuf. Ditanya oleh Amirul Mukminin, Kenapa engkau tertawa? Engkau harus cerita, ada apa nih ketawa? Ceritalah Abu Yusuf tentang peristiwa bagaimana ibunya ribut dengan Abu Hanifah, dan cerita dia sedang belajar untuk makan makanan ini.

Baarakallahu fiik. 

Kita lihat, nih. Menuntut ilmu itu termasuk salah satu kewajiban seorang muslim. Ketika dua bersaudara; yang satu menuntut ilmu, yang satu bekerja, maka ketahuilah bahwa yang bekerja bukan jadi lebih baik daripada yang menuntut ilmu. Yang bekerja ini bisa jadi rezekinya dilapangkan karena dia membantu yang menuntut ilmu.

Dan ini banyak kita lihat Jamaah, dalam kehidupan ini. Ada kakak yang bekerja buat adiknya di sekolah, buat adiknya yang di pesantren, dan Allah mudahkan rezeki buat dia. Dan kita harus tahu pula bahwasanya salah satu kunci rezeki itu adalah membantu orang yang perlu bantuan.

Bahkan Nabi 'Alaihis-shalatu wassalam mengatakan, 

❲ إِنَّمَا تُنْصَرُونَ وَتُرْزَقُونَ بِضُعَفَائِكُمْ ❳ 

"Kalian itu dibantu (ditolong) sama Allah, karena orang-orang yang lemah di antara kalian."

Dan ini tidak bertentangan dengan tawakal. Artinya yang satu usaha, yang satu menuntut ilmu, dua-duanya sedang meraih keridhaan Allah Jalla Jalaluh. 

Postingan Populer

Postingan Populer